KABUPATEN BLITAR - Capaian Partai Gerindra pada Pemilu 2024 di Kabupaten Blitar tidak begitu buruk. Sederet kader potensial sudah siap bertarung pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.
Kini hanya tinggal menunggu instruksi dari DPP maupun DPW untuk berburu kursi calon bupati (cabup).
“Kami tidak bingung dengan kader potensial dan punya gereget dalam Pilkada 2024. Tapi sampai sekarang memang belum ada instruksi yang spesifik terkait Pilkada 2024,” ujar Sekretaris DPC Gerindra Kabupaten Blitar, Sugianto, kemarin (22/4).
Adib Zamhari, kata dia, memang menjadi salah satu kader partai yang punya keinginan untuk menjadi bupati. Selain itu, ada beberapa kader lain juga memiliki keinginan menjadi ‘kursi satu’ di kabupaten ini.
“Saudara kami yang kini juga menjadi anggota juga punya hasrat ke sana (pilkada, Red). Jadi intinya kami tidak kesulitan calon,” tegasnya.
Dia menyebutkan bahwa hasil Pemilu 2024 di Kabupaten Blitar menunjukkan progres positif. Kendati KPU Kabupaten Blitar belum melakukan penetapan, setidaknya ada tambahan satu kursi anggota DPRD Kabupaten Blitar periode 2024-2029.
“Sebelumnya punya enam kursi. Hasil Pemilu 2024, Gerindra punya tujuh kursi dewan,”katanya.
Menurut dia, capaian tersebut menjadi suntikan semangat bagi partai. Utamanya menyongsong Pilkada 2024 di Kabupaten Blitar.
“Kemungkinan pekan ini DPW akan mengundang kami para DPC di Jatim. Nah nanti mungkin saja ada petunjuk soal Pilkada 2024,” imbuhnya.
Sugianto menyadari, tujuh kursi dewan tidak cukup mengusung sendiri calon pada Pilkada 2024. Karena itu, partainya tidak saklek mendorong kader partai untuk duduk sebagai calon bupati.
Sebaliknya, mendapatkan jatah wakil bupati juga tidak menjadi masalah.
“Jika calon lain memang lebih mumpuni kenapa tidak. Kami tidak saklek, harus mendapatkan jatah calon bupati,” tutur pria yang juga Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Blitar ini.
Dia menambahkan, Pilkada 2024 merupakan momen penting bagi partai politik. Hampir dipastikan setiap parpol berkeinginan mengantarkan kadernya duduk menjadi pimpinan.
Namun, bukan perkara gampang untuk mewujudkan hal tersebut. Terlebih harus menyamakan banyak persepsi dan kepentingan.
“Yang ingin jadi bupati banyak, tapi soal pilkada tidak cukup hanya keinginan saja. Ada banyak hal lain yang juga harus dipertimbangkan,” katanya. (hai/din)
Editor : Anggi Septian A.P.