BLITAR - Tahapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Blitar sudah mulai berjalan. Sejumlah sosok bakal calon (bacalon) kepala daerah mulai bermunculan.
Masyarakat bisa mencermati sosok-sosok tersebut untuk dipertimbangkan dalam pilkada November mendatang.
Masyarakat harus cermat dalam memilih calon pemimpin yang bakal memimpin daerah untuk lima tahun ke depan. Jangan sampai masyarakat memilih atas dasar iming-iming uang.
”Tetapi, masyarakat juga harus bisa melihat latar belakang mereka (calon kepala daerah, Red).
Bagaimana mereka itu mampu memimpin Kota Blitar dan komitmennya untuk melaksanakan amanah Undang-Undang Dasar (UUD), yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyejahterakan masyarakat,” kata Komisioner KPU Kota Blitar Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, Gunawan, kepada Jawa Pos Radar Blitar, Selasa (4/6/2024).
Menurut dia, pemilih memang harus cerdas dalam menentukan pilihan sosok calon kepala daerahnya. Memilih jangan sekadar karena pemberian amplop atau serangan fajar.
“Karena itu, kami terus berupaya untuk memahamkan masyarakat tentang betapa pentingnya menentukan pilihan dengan pertimbangan latar belakang calon dan komitmennya. Pendidikan politik harus digencarkan,” ujarnya.
Meningkatkan pendidikan politik, jelas dia, bukan sekadar tugas dari KPU. Namun, partai politik (parpol) juga berperan penting dalam mengedukasi masyarakat tentang politik.
Khususnya kepada sasaran pemilih pemula. Sebab, pemilih pemula merupakan pemilih potensial yang masih awam dengan politik praktis.
Gunawan tak memungkiri bahwa praktik politik uang di masyarakat masih tumbuh subur hingga kini. Maka itu, butuh peran dari sejumlah elemen masyarakat untuk meminimalisasi praktik curang tersebut.
”Ini menjadi tugas kita bersama. Di samping itu, kami juga terus menggiatkan sosialisasi pendidikan politik kepada seluruh elemen masyarakat. Baik generasi muda maupun tua,” jelasnya.
Generasi muda atau generasi Z menjadi pemilih potensial untuk diedukasi. Apalagi, perkembangan teknologi dan informasi serta media sosial (medsos) saat ini turut memengaruhi cara berpikir generasi milenial tersebut. Generasi Z semakin kritis dalam melihat suatu hal, termasuk memilih calon pemimpin.
Karena itu, KPU berupaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat khususnya generasi milenial pada pilkada serentak tahun ini.
Tingkat partisipasi tersebut juga bisa dilihat dari keterlibatan generasi muda dalam penyelenggaran pilkada tahap demi tahap.
”Contohnya pada pembentukan badan ad hoc banyak diisi anak muda. Selain itu, pemilih muda juga terus meningkat,” tandasnya. (sub/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila