Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Banyak Pilihan Wakil Wali Kota Blitar Bermunculan Jelang Pendaftaran Bapaslon, Berikut Nama-namanya

M. Subchan Abdullah • Jumat, 19 Juli 2024 | 21:00 WIB
Ilustrasi pilkada serentak 2024
Ilustrasi pilkada serentak 2024

BLITAR - Kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Blitar tampaknya bakal semakin memanas.

Karena semakin dekat masa pendaftaran bakal pasangan calon (bapaslon), beberapa sosok calon wali kota maupun wakil wali kota terus bermunculan.

Menariknya, kursi bakal calon wakil wali kota yang semakin dinamis, karena PDIP sudah memberikan surat tugas kepada Bambang Rianto atau Bambang Kawit, selain sebagai kandidat bakal calon wali kota, juga diinstruksi DPP untuk melakukan konsolidasi dengan sosok atau koalisi partai lain.

Nama Wasekjen Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Syauqul Muhibbin juga tidak bisa dianggap main-main, apalagi telah menyatakan klaim telah menerima rekomendasi sebagai calon wali kota dari salah satu partai “hijau”.

Sedangkan untuk wakil wali kota sudah beredar beberapa nama seperti Fredy Agung Kurniawan, kader muda potensial dari Gerindra, ada nama Mohammad Tobroni  yang diusulkan oleh PPP, kemudian ada M. Trianto dan lain-lain. Sayangnya, beberapa partai seperti Golkar, PAN, Demokrat belum bersikap.

Menurut Pengamat Politik Novi Catur Muspita, koalisi atau kerja sama politik antar partai politik (parpol) dalam kontestasi pemilihan umum ataupun kepala daerah dibutuhkan. Sebab, berkontestasi dengan gabungan partai tentu menambah kekuatan.

”Namun, jika parpol yang bergabung ini banyak atau gemuk, tentu kurang ideal. Harapannya kan bisa muncul pilihan-pilihan calon, tidak hanya satu calon,” terangnya.

Apalagi, akhir-akhir ini santer terdengar kabar bahwa PDIP bakal mengusung kader partai sendiri. Karena sampai saat ini, siapa yang akan mendampingi Bambang Kawit masih kabur.

Seperti halnya PDIP Kota Blitar, jelas dia, memang sudah punya kekuatan untuk mengusung sendiri pasangan calon (paslon). Sebab, parpol berlambang kepala banteng itu memiliki 8 kursi parlemen.

”Seiring dinamika politik, beberapa waktu lalu PKB merapatkan barisan untuk bekerjasama dengan PDIP. PKB menawarkan kadernya untuk posisi AG 2 nya. Namun kerja sama itu juga kayaknya masih sekedar wacana,” jelasnya.

Meski begitu, menurut dia, PDIP juga masih harus melakukan penjajakan dan komunikasi lebih lanjut dengan PKB. Menghitung matang potensi kemenangan jika nanti bekerjasama dengan PKB yang mengisi posisi calon wakil wali kotanya.

”Iklim politik saat ini masih bisa berubah-ubah. Terlebih, ada parpol lain di luar PDIP dan PKB yang tiba-tiba mengusung calon sendiri atau malah bergabung dengan PDIP,” tuturnya.

Misi utama PDIP Kota Blitar, lanjut Novi, tentu bisa meraih kemenangan lagi di Bumi Bung Karno. Jargon bahwa Kota Blitar selama ini telah menjadi kandang banteng pun tetap bisa dipertahankan.

”Karena itu, PDIP harus benar-benar bisa mengkalkulasi matang potensi yang ada. Yang juga harus diingat, siapa calon-calon yang diusung juga akan menentukan perolehan suara,” bebernya.

Wacana untuk mengusung pasangan sendiri PDIP sebenrnya cukup menarik, namun butuh pertimbangan kembali, karena mengingat bahwa koalisi lain yang bakal terbentuk tentu akan menjadi penantang yang serius dari PDIP sendiri.

“Perlu diingat penagalaman menarik Pilkada 2020 di Kabupaten Blitar. Dimana  PDIP yang mengusung pasangan kader sendiri, namun akhirnya kalah dengan bapaslon PKB yang notabene adalah sosok yang bisa dibilang baru dalam dunia politik daerah,” ujarnya. (sub/ady)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pilkada #parpol #bapaslon #pdip #Kota Blitar