Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dua Paslon Bertarung di Kontestasi Pilwali Kota Blitar Harus Manfaatkan Momen, Begini Kata Pengamat Politik

M. Subchan Abdullah • Kamis, 5 September 2024 | 18:30 WIB
HERY BASUKI PENGAMAT POLITIK.
HERY BASUKI PENGAMAT POLITIK.

BLITAR - Masa kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2024 hanya berlangsung sekitar dua bulan.

Momen tersebut harus benar-benar dimanfaatkan dengan optimal oleh masing-masing pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Blitar yang berkompetisi meraih suara masyarakat.

Sebagaimana diketahui, dua paslon yang siap bertarung dalam kontestasi Pilwali Kota Blitar 2024, yakni paslon Bambang Rianto-Bayu Setyo Kuncoro dan Syauqul Muhibbin (Mas Ibin)-Elim Tyu Samba, dalam dua bulan terakhir telah melakukan berbagai upaya untuk menarik simpati masyarakat.

Singkatnya, masa kampanye pilwali tahun ini harus menjadi perhatian tim sukses (timses) masing-masing paslon. Tim diminta bergerak cepat (gercep) untuk menyusun strategi pemenangan, khususnya strategi menarik simpati masyarakat sehingga memilih paslon tersebut.

”Jadi, waktu yang ada saat ini atau ketika masa kampanye harus digunakan tim untuk mengerek elektabilitas calon. Menonjolkan figur calon pemimpin sesuai idaman masyarakat,” ungkap pengamat politik Heri Basuki, kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (4/9).

Baik sebelum atau masa kampanye, kata dia, tim paslon harus rajin turun ke bawah (turba) ke masyarakat.

Mengenalkan sosok paslon wali kota dan wakil wali kota yang diusung dan sosialisasi visi-misi serta programnya. ”Buatlah publik yakin bahwa figur yang diusung layak untuk memimpin Kota Blitar,” jelasnya.

Apalagi, dua kandidat paslon yang bertarung di pilwali Kota Blitar merupakan pendatang baru. Tidak ada petahana sehingga persaingan antara Bambang-Bayu dan Mas Ibin-Elim diperkirakan cukup sengit. Karena itu, timses kudu menyiapkan sejumlah amunisi yang matang agar kemenangan bisa diraih.

Menurut Heri, wajib ada pemetaan pemilih yang komprehensif untuk mengerek elektabilitas paslon. Sebab, modal elektabilitas masing-masing paslon minim, meskipun ada paslon yang sudah berpengalaman di dunia politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

”Yang perlu dicatat, pilkada ini beda dengan pileg (pemilihan legisllatif, Red). Pileg yang diperebutkan hanya lingkup dapilnya (daerah pemilihan),” ungkap mantan dosen FISIP UNISBA Blitar ini.

Sementara itu, suara yang diperebutkan oleh paslon pilkada lebih luas. Mencakup wilayah administratif Kota Blitar yakni tiga kecamatan sekaligus.

Dengan begitu, paslon kudu ekstra tampil di depan masyarakat untuk menyampaikan visi-misi dan program. ”Pahami kondisi sosiologis masyarakat dan gali aspirasi mereka,” bebernya.

Kemudian, hal terpenting lain adalah menggerakkan maksimal mesin partai termasuk organisasi sayap-sayap partai pendukung dan pengusung.

Peran anggota legislatif yang sukses menduduki kursi dewan turut menjadi tumpuan. Mereka harus ikut turun menggalang suara, khususnya dari para konstituen.

Peran penting lainnya datang dari relawan masing-masing paslon. Jangan sampai peran relawan disepelekan.

Sebab, keberadaan relawan cukup krusial untuk menggalang dukungan dari masyarakat atau kelompok tertentu.

Penggalangan dukungan terhadap pemilih pemula atau pemilih muda juga harus diperhatikan. Pemuda merupakan pemilih yang cukup kritis.

”Segmentasi pemilih muda harus digarap serius. Begitu pun pemilih dari kalangan profesional dan pensiunan atau purnawirawan,” jelasnya.

Intinya, terang Heri, manajemen tim sukses paslon sangat penting. Timses harus disiapkan secara matang sehingga menghasilkan goal yang ditargetkan.

”Dan tak kalah penting adalah persiapan kebutuhan logistik untuk menopang seluruh operasional kegiatan. Mau tidak mau, logistik harus disiapkan,” tandasnya. (sub/c1/ady)

 

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#paslon wali kota dan wakil wali kota #Pilkada Serentak 2024 #Kota Blitar