JAKARTA – Presiden ketujuh RI, Jokowi, menanggapi santai wacana perubahan logo PSI dan identitas visual baru partai tersebut.
Menurutnya, semua partai politik memiliki hak untuk memperbarui citra, termasuk PSI yang kini tampil dengan branding yang lebih segar dan modern.
“Logo PSI, secara konsep, saya kira keren, perlu pembaruan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Jokowi, menyoroti desain baru dan warna yang digunakan.
Ia menyambut baik dinamika tersebut karena dinilai bisa menyegarkan persepsi publik terhadap partai.
Lebih lanjut, Jokowi mengapresiasi Partai Super TBK—julukan bagi PSI—terutama soal inovasi demokrasi internal.
Pelaksanaan e‑voting dan sistem “satu anggota satu suara” disebutnya sebagai langkah maju.
“Kalau PSI benar-benar menjalankan e‑voting, itu menunjukkan keberanian untuk mereformasi proses internal partai,” tambah Jokowi, melihat ini sebagai upaya positif agar demokrasi lebih terbuka, transparan, dan partisipatif.
Meski demikian, saat ditanya apakah ia akan “berlabuh” ke PSI setelah munculnya logo PSI dan branding baru yang dinilai menarik, Jokowi memilih memberikan jawaban diplomatis.
Ia menegaskan saat ini tetap independen dan belum memutuskan akan mendukung partai mana—bahkan PSI atau lainnya.
“Sementara ini saya tetap di luar partai politik. Semua masih dalam perhitungan matang,” ungkap Jokowi dengan tersenyum, menegaskan bahwa keputusan politik ia timbang secara cermat dan hati-hati.
Perubahan logo PSI menandai langkah nyata partai itu untuk membentuk citra baru, merespons suasana politik yang kian dinamis, dan membidik pemilih milenial.
Sejumlah analis pun menyebut branding segar itu sekaligus sinyal kesiapan PSI melaju ke Pemilu mendatang.
Menurut pengamat politik, branding baru yang mencakup warna kontras dan tipografi modern mengindikasikan bahwa PSI ingin tampil beda dibanding partai konvensional.
Rasa segar dan komitmen terhadap transparansi internal, khususnya melalui e‑voting, menjadi nilai jual utama.
Jokowi sendiri mengapresiasi branding yang kekinian, menyadari bahwa proses politik kini berlangsung dalam era digital.
“Brand itu bisa diubah, bahkan diganti total, jika mengikuti kebutuhan zaman,” ungkap Presiden menyetujui arah perubahan logo PSI yang sesuai tuntutan milenial dan digitalisasi.
Peluncuran logo PSI baru bukan hanya soal estetika. PSI menggunakan momentum itu untuk menyoroti nilai-nilai organisasi: terbuka, anti-korupsi, dan demokratis.
E‑voting internal sejauh ini dianggap sebagai gebrakan untuk memberdayakan seluruh anggota.
Saat diskusi dengan wartawan, Jokowi memuji konsep satu anggota satu suara yang digagas PSI.
Menurutnya, proses demokrasi semacam ini layak diapresiasi karena melibatkan grass-roots secara digital, membangun kultur partai yang sehat.
Meski belum dalam barisan politisi pendukung, Jokowi tetap bersikap netral.
Ia menghormati semua perubahan logo PSI dan strategi branding yang tengah digarap.
“Sekarang saya fokus pada tugas dan program kerja. Nanti akan dilihat perkembangan PSI ke depan,” tuturnya.
Perubahan logo PSI dan metode demokrasi internal baru bukan sekadar retorika.
Banyak pihak menilai langkah ini bisa mempengaruhi elektabilitas PSI dalam pemilu mendatang.
Visual bahasa desain yang segar, ditambah komitmen digitalisasi, menjadi pendekatan tepat untuk meraih perhatian generasi muda dan pemilih urban.
Meski branding sempat menuai tanggapan beragam di media sosial, sebagian besar menyambut positif kijakan PSI yang modern dan transparan.
Jokowi menilai transformasi ini mencerminkan kedewasaan masyarakat demokratik, yang tidak hanya menuntut perubahan pada figur, tetapi juga pada sistem dan proses politik itu sendiri.
Simpulan wawancara dengan Jokowi menegaskan: perubahan logo PSI dan sistem internal partai merupakan langkah yang tepat di era digital dan milenial.
Presiden pun memberi apresiasi terhadap keberanian PSI mengubah citra dan praktik internal secara terbuka.
Saat ditanya terkait kemungkinan dukungan politik, Jokowi kembali menekankan sikap netralnya.
Namun dengan tegas, ia mendoakan semua partai yang berani berinovasi agar tetap konsisten dalam menjaga semangat demokrasi dan pelayanan kepada bangsa.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.