BLITAR – Nama Elim Tyu Samba kembali mencuat, kali ini bukan karena spanduk atau baliho politik, melainkan sebuah video blusukan yang menyentuh ranah paling dasar dari demokrasi: mendengarkan rakyat secara langsung.
Dalam tayangan berdurasi 9 menit yang diunggah kanal YouTube Radar Blitar TV, Elim Tyu Samba, bakal calon Wali Kota Blitar 2024, tampak menyusuri gang sempit dan rumah warga satu per satu. Alih-alih berpidato atau membagikan sembako, ia duduk, mendengar, dan berbincang panjang—terutama dengan para lansia dan ibu rumah tangga.
Momen paling mencolok terjadi saat seorang nenek menangis di hadapan Elim. Ia mengaku selama ini tak pernah mendapatkan bantuan beras dan berharap jika ada pemimpin muda seperti Elim, maka nasib rakyat kecil bisa lebih diperhatikan.
Baca Juga: Gaji Sesuai UMK Tapi Tak Dapat Bansos? Ini Aturan Baru yang Bikin Banyak Warga Kaget
"Nduk, kalau bisa itu bansos jangan cuma untuk yang punya relasi, tapi yang butuh benar-benar dibantu," ujar sang nenek lirih, sambil memegang tangan Elim.
Dialog yang terbangun dalam blusukan tersebut sangat jauh dari formalitas. Tak ada kamera besar, tak ada panggung orasi. Sebaliknya, warga menyampaikan unek-unek mereka dengan bahasa sehari-hari yang polos namun penuh makna. Salah satunya menyampaikan keluhan soal akses layanan kesehatan, terutama untuk lansia yang kesulitan transportasi ke puskesmas.
"Kalau bisa, buatkan sistem antar-jemput atau pos kesehatan lebih dekat, Mbak. Kadang kita ndak sanggup jalan jauh," ujar seorang ibu setengah baya yang juga hadir dalam blusukan tersebut.
Elim mencatat dan merespons keluhan dengan pendekatan empatik. Ia menyebut bahwa masukan seperti ini yang justru paling penting untuk perencanaan program. "Saya nggak mau asal janji. Saya datang untuk dengar, bukan untuk didengar," ucapnya.
Topik paling dominan dalam setiap percakapan adalah bantuan sosial. Banyak warga yang merasa sistem distribusi bansos masih belum tepat sasaran. Salah satunya bahkan menunjukkan data keluarganya yang tergolong miskin namun tidak mendapatkan bantuan, sementara tetangganya yang lebih mampu justru rutin menerima.
"Elim Tyu Samba" menjadi keyword utama karena warga melihat kehadirannya sebagai representasi harapan baru. Sosok perempuan muda ini dianggap punya keberanian dan kepedulian yang tulus, bukan sekadar pencitraan menjelang Pilkada.
Baca Juga: Jangan Takut Gagal, Raditya Dika Bilang Kegagalan Adalah Langkah Awal Menuju Kesuksesan
"Saya tidak ingin hanya datang saat kampanye. Kalau saya dipercaya rakyat, saya ingin sistem bansos kita lebih transparan dan adil," tegas Elim dalam video tersebut.
Pendekatan door to door seperti ini jarang dilakukan oleh politisi, terutama di awal masa kampanye. Namun Elim tampaknya paham betul bahwa kepercayaan dibangun lewat kedekatan emosional, bukan hanya program kerja dalam brosur.
Pendekatan populis ini juga membuatnya tampak lebih membumi, terutama di tengah kecurigaan publik terhadap elite politik yang dinilai terlalu jauh dari realitas rakyat. Netizen di kolom komentar YouTube pun ramai memberikan dukungan dan harapan agar Elim bisa menjaga integritasnya jika terpilih nanti.
Baca Juga: Bansos Masih Masuk Meski Penerima Sudah Meninggal, Ini Imbauan Terbaru Kemensos!
Video blusukan ini viral dalam waktu singkat, terutama di kalangan pemilih muda dan emak-emak. Banyak yang mengaku terharu, dan berharap Elim tidak berubah jika nanti benar-benar menjabat.
"Salut, Mbak Elim! Gak cuma datang bawa janji, tapi datang bawa telinga buat dengar rakyat," tulis akun @widya_tulip di kolom komentar.
Dengan popularitas yang terus menanjak dan pendekatan yang menyentuh, Elim Tyu Samba bisa menjadi ancaman serius bagi petahana atau kandidat lama yang mengandalkan kekuatan mesin partai semata.
Baca Juga: Waspada! Pendamping Sosial & Pemilik Usaha Resmi Tak Lagi Dapat Bansos, Ini Kata Kemensos
Kisah ini bukan sekadar soal sosok yang ingin jadi wali kota. Ini adalah tentang bagaimana seorang perempuan muda datang tanpa protokol berlapis, duduk di lantai rumah warga, mendengar air mata, dan menampung harapan.
Dan barangkali, dari sinilah harapan rakyat Blitar bisa mulai ditata ulang: dari perbincangan sederhana di sudut-sudut kota yang sering dilupakan.
Editor : Anggi Septian A.P.