"Tidak Ada Kemenangan di Atas 10 Nyawa": Aktivis Muda Refleksikan Dampak Kerusuhan
Rahma Nur Anisa• Selasa, 9 September 2025 | 18:00 WIB
Ferry Irwandi: Live Stream Tengah Malam Ungkap Kompleksitas Gerakan Sosial dan Korban Jiwa dalam Aksi Massa
BLITAR KAWENTAR - Ferry Irwandi, seorang aktivis muda sampaikan refleksi mendalam tentang dinamika gerakan sosial Indonesia pascakerusuhan yang menewaskan 10 orang. Streaming yang dimulai pukul 2.30 dini hari ini menjadi window insight tentang psikologi gerakan massa dan dilema moral aktivisme kontemporer.
"Tidak ada kemenangan yang bisa kita raih di atas 10 nyawa yang hilang," tegas aktivis tersebut, menolak narasi kemenangan meski pemerintah mulai merespons tuntutan masyarakat melalui berbagai langkah politik.
Ferry Irwandi mencatat beberapa respons pemerintah pascakerusuhan, termasuk enam tindakan DPR terhadap tuntutan mahasiswa, konferensi pers TNI, dan pertemuan presiden dengan perwakilan masyarakat yang membahas pembentukan tim investigasi independen.
Hari Senin dilaporkan terjadi perubahan kabinet yang menyasar beberapa menteri, termasuk Sri Mulyani Indrawati dan Budi Gunawan, yang dinilai terkait dengan eskalasi situasi politik.
Ferry Irwandi menganalisis bahwa pemerintah kini "lebih sensitif" karena menyadari kekuatan amarah dan kekecewaan masyarakat, berpotensi mengubah pola komunikasi dan kebijakan ke depan.
Streaming mengungkap struktur koordinasi digital melalui grup-grup seperti "Baltigo" dan "Hachinosu" yang beranggotakan ratusan aktivis di seluruh Indonesia, mendemonstrasikan evolusi organizing di era digital.
Ferry Irwandi menjelaskan bagaimana jaringan ini berhasil mengidentifikasi "puluhan ribu komentar template" dari akun anonim yang mengarahkan massa ke titik-titik vital seperti bandara, mencegah eskalasi kerusuhan lebih besar.
Penekanan pada peran "anak-anak muda" dalam mengorganisir aksi yang "tenang, kondusif, namun tajam" mencerminkan shifting paradigm kepemimpinan gerakan sosial Indonesia.
Aktivis dengan tegas menolak logika "nyawa adalah harga yang harus dibayar untuk tujuan", menunjukkan maturity moral yang membedakan gerakan ini dari aksi massa sebelumnya.
Pengakuan tentang "tingkat kompleksitas" dan "layer" dalam aksi massa yang membuat aktivis memilih "keep dulu" informasi tertentu, mengindikasikan awareness terhadap infiltrasi dan manipulasi gerakan.
Filosofi "maraton, bukan sprint" merefleksikan strategic thinking yang fokus pada sustainability gerakan daripada quick wins. Analisis bahwa "elit mulai curiga satu sama lain" dinilai positif untuk demokrasi Indonesia yang dianggap kehilangan oposisi selama setahun terakhir.
Sensitivity terhadap trauma komunitas minoritas dan upaya mencegah targeting menunjukkan inclusive approach yang berbeda dari gerakan massa historis Indonesia. Kritik terhadap "inkompetensi" pihak-pihak yang memiliki resources namun menggunakannya kontraproduktif, bahkan menguntungkan target mereka.
Ferry Irwandi mengakui risiko personal namun menunjukkan support system keluarga dan jaringan yang kuat, termasuk dukungan dari berbagai organisasi mahasiswa. Commitment untuk melanjutkan proyek pendidikan, beasiswa, dan disertasi menunjukkan long-term vision beyond activism.
Penolakan tegas terhadap kemungkinan menjadi anggota DPR mencerminkan positioning sebagai civil society actor, bukan political opportunist.
Pernyataan ini memberikan rare glimpse ke dalam psikologi dan strategi gerakan sosial kontemporer Indonesia. Kombinasi antara moral clarity ("tidak ada kemenangan di atas nyawa yang hilang"), strategic thinking (koordinasi digital sophisticated), dan long-term vision (fokus pendidikan dan civil society) menunjukkan evolusi aktivisme Indonesia ke arah yang lebih mature dan sustainable.
Refleksi ini juga mengkonfirmasi bahwa generasi aktivis baru memiliki different playbook: mereka understand power dynamics, leverage technology effectively, namun tetap maintain moral compass yang jelas, sebuah kombinasi yang berpotensi mengubah lanskap politik Indonesia jangka panjang. (*)