Prabowo Reshuffle Lima Menteri, Mahfud MD: "Dua Jempol untuk Presiden"
Rahma Nur Anisa• Sabtu, 13 September 2025 | 16:00 WIB
Mantan Menko Polhukam Apresiasi Respons Cepat Prabowo Pasca Demonstrasi Besar Akhir Agustus
BLITAR KAWENTAR - Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet dengan mengganti lima menteri sekaligus pada Senin sore, dua minggu setelah gelombang demonstrasi besar terjadi di akhir Agustus 2025.
Langkah ini mendapat apresiasi dari mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD yang memberikan "dua jempol" untuk keputusan tersebut.
Reshuffle kabinet kali ini melibatkan posisi strategis: Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koperasi, Menteri Perlindungan Pekerja Migran, dan Menteri Pemuda dan Olahraga.
Penggantian ini mengejutkan publik, terutama pergantian Menko Polhukam Budi Gunawan (BG) dan Sri Mulyani yang selama ini dianggap memiliki kinerja solid.
Dalam podcast "Terus Terang", Mahfud MD menganalisis bahwa reshuffle ini menunjukkan Prabowo mulai mendengar aspirasi masyarakat sipil.
"Selama 10 bulan orang bertubi-tubi tidak direspons. Sekarang sesudah terjadi demo dan kerusuhan di mana-mana, Pak Prabowo langsung merespons dengan cepat," ujar Mahfud.
Menurutnya, ada dua kemungkinan mengapa aspirasi masyarakat tidak sampai ke Prabowo sebelumnya: pertama, pesan tidak sampai karena terlalu ada yang "memagari"; kedua, para menteri tidak memahami aspirasi masyarakat dan bagaimana mengelolanya.
Mahfud menekankan tiga syarat yang harus dipenuhi menteri: kompetensi di bidangnya, integritas yang tidak diragukan, dan track record yang baik. "Kadang kala orang pintar sekali tapi tidak punya integritas, atau tidak mengerti tugas karena ditempatkan sebagai bagian dari political trade off," jelasnya.
Terkait penggantian Sri Mulyani, Mahfud menilai tidak ada masalah dengan integritas, kompetensi, maupun track record-nya. Penggantian ini lebih pada aspek kaderisasi dan kabar bahwa Sri Mulyani sudah beberapa kali mengajukan mundur.
Sementara pergantian Budi Gunawan dinilai mengejutkan dari sudut politik, meski Mahfud tidak mengetahui pertimbangan pastinya. "Mungkin itu dugaan banyak publik karena ketika demo besar-besaran, orang menunggu Pak BG tapi tidak kelihatan peran sentralnya dalam menangani," ungkapnya.
Mahfud memperkirakan akan ada reshuffle gelombang kedua pada Oktober 2025, sesuai janji Prabowo untuk evaluasi kabinet dalam satu tahun pertama. "Masih ada beberapa masalah yang saya kira Pak Prabowo sekarang sudah mencatat semua masalah yang pernah disampaikan masyarakat," katanya.
Reshuffle kabinet ini dinilai sebagai respons positif Prabowo terhadap tekanan publik dan demonstrasi akhir Agustus. Langkah ini menunjukkan kesediaan presiden mendengar aspirasi masyarakat dan melakukan perbaikan struktural dalam pemerintahan.
Mahfud optimis dengan perubahan ini, berharap Prabowo akan terus melakukan perbaikan bertahap demi mewujudkan kabinet yang lebih kompeten dan responsif terhadap kebutuhan rakyat. (*)