Rahma Nur Anisa• Kamis, 18 September 2025 | 00:00 WIB
Irwandi menyampaikan formula sederhana tentang stabilitas pemerintahan.
BLITAR KAWENTAR - Konten kreator Feri Irwandi mengungkapkan adanya upaya terorganisir untuk menjatuhkannya melalui grup WhatsApp yang membahas strategi politik dan bahkan memuat foto senjata api.
Dunia maya Indonesia kembali dihebohkan dengan pengungkapan Feri Irwandi mengenai upaya sistematis yang dilakukan kelompok tertentu untuk menjatuhkan dirinya.
Irwandi mengklaim memiliki akses terhadap percakapan dalam grup WhatsApp yang secara terbuka membahas strategi untuk merugikan posisinya.
Menurut Irwandi, grup tersebut tidak hanya membahas cara-cara konvensional untuk menyerangnya, tetapi juga melakukan perencanaan intervensi di stasiun televisi yang menyiarkan program secara langsung.
Hal yang paling mengejutkan adalah keberadaan foto senjata api dalam grup tersebut, yang diklaim oleh salah satu anggota sebagai senjata yang mudah disembunyikan.
Irwandi menawarkan tantangan terbuka kepada pihak yang terlibat dalam grup tersebut. Ia bersedia bertemu di stasiun televisi atau acara podcast dengan tiga syarat utama: pembahasan isi percakapan grup, identitas pejabat tinggi yang terlibat, dan nama grup tersebut dapat diungkapkan secara terbuka.
Tantangan ini rupanya tidak mendapat respons positif dari pihak yang ditantang. Menurut Irwandi, orang yang bersangkutan justru menghindar meskipun telah diberi waktu berhari-hari untuk merespons.
Sikap ini dinilai Irwandi sebagai bentuk inkonsistensi dari mereka yang mengklaim memperjuangkan kebebasan berpendapat.
Kasus ini menyoroti fenomena yang lebih luas mengenai polarisasi politik di Indonesia. Kelompok-kelompok dengan pandangan berbeda seringkali terlibat dalam konfrontasi yang tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga dalam ruang-ruang tertutup seperti grup chat pribadi.
Irwandi menekankan prinsip transparansi dalam menghadapi tuduhan atau ancaman. Menurutnya, jika seseorang memiliki niat yang bersih, tidak ada alasan untuk merasa khawatir ketika aktivitasnya diungkapkan secara terbuka. Prinsip ini mencerminkan keyakinannya terhadap kebebasan informasi dan akuntabilitas publik.
Pengungkapan ini juga mengangkat pertanyaan tentang batasan etika dalam berpolitik di era digital.
Penggunaan platform komunikasi pribadi untuk merencanakan aksi politik yang merugikan pihak lain menunjukkan perlunya regulasi yang lebih jelas mengenai etika politik digital.
Respons publik terhadap pengungkapan ini beragam. Sebagian mendukung transparansi yang dilakukan Irwandi, sementara sebagian lain mempertanyakan etika pengungkapan percakapan privat.