Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Nilai Sipil Lebih Penting dari Pemimpin Sipil: Rocky Gerung Jelaskan Konsep Demokrasi

Rahma Nur Anisa • Selasa, 7 Oktober 2025 | 20:00 WIB

rocky tegaskan perlunya mengembalikan suasana intelektual dalam politik.
rocky tegaskan perlunya mengembalikan suasana intelektual dalam politik.

BLITAR KAWENTAR - Filsuf Rocky Gerung menegaskan bahwa dalam demokrasi, yang harus supremasi adalah nilai-nilai sipil (civilian value), bukan semata-mata pemimpin sipil. Konsep ini ia jelaskan dalam diskusi dengan Mahfud MD sebagai respons terhadap kekhawatiran munculnya militarisme di Indonesia.

Rocky menjelaskan bahwa banyak analis dalam dan luar negeri mulai mendeteksi Indonesia sedang masuk dalam jebakan militarisme, atau setidaknya "creeping militarism" (militarisme yang merayap). Namun menurutnya, solusinya bukan sekadar mengembalikan kepemimpinan kepada orang sipil.

"Jokowi itu pemimpin sipil, tetapi kultur politiknya militaristik. Jadi persoalan kita bukan orang sipilnya, tetapi nilai sipilnya," tegas Rocky dalam perbincangan di kanal YouTube Sahabat Mahfud MD Official.

Baca Juga: ⁠Dispendik Kabupaten Blitar Mulai Perketat Izin Cerai ASN hingga PPPK, Ini Alasannya

Ia memberikan contoh SBY yang meskipun berlatar belakang militer, namun menjalankan pemerintahan dengan nilai-nilai sipil yang kuat. "SBY juga militer, tetapi dia sipil. Bahkan SBY itu sudah lebih sipil dari orang sipil sebetulnya," kata Rocky.

Menurut Rocky, dalam demokrasi, baik orang sipil maupun militer harus tunduk pada nilai-nilai sipil. "Yang mesti supreme dalam demokrasi itu bukan civilian people, tetapi civilian value. Nilai-nilai itulah yang harus dijunjung tinggi," jelasnya.

Mahfud MD menanggapi dengan mengatakan bahwa ia menyaksikan sendiri bagaimana SBY selalu mengedepankan nilai-nilai demokrasi meskipun berlatar belakang militer. "Pak SBY selalu mengatakan bahwa yang dimaksud sipil itu bukan lawan militer, tetapi nilai-nilai di mana demokrasi itu dihargai. Orangnya boleh militer, boleh tidak," ungkap Mahfud.

Baca Juga: Awasi Jangan Sering Kasih Gadget, Sejumlah Anak di Kota Blitar Alami Gangguan Psikologis

Rocky juga menjelaskan bahwa Indonesia didirikan oleh energi intelektual para pendiri bangsa (founding parents, bukan hanya founding fathers, karena ada lima perempuan di dalamnya). Mereka berdebat untuk menghasilkan ide republik berdasarkan kemampuan intelektual.

"Dari awal negeri ini genealoginya, political origins-nya adalah intelektual. Tiba-tiba sekarang menjadi berser (kekuasaan). Bagaimana mungkin?" kritik Rocky.

Ia menegaskan perlunya mengembalikan suasana intelektual dalam politik. "Bukan membawa politik ke dalam intelektual, tetapi membawa intelektual ke dalam politik. Kembalikan suasana intelektual itu dalam politik," katanya.

Baca Juga: Kabar Aksi Begal di Hutan Jati Wilayah Desa Siraman Blitar Ternyata Hanya Karangan Seorang Warga, Polisi Ungkap Motifnya Karena Hal Ini

Rocky juga mengkritik bahwa Indonesia saat ini diurus oleh kaum demagog, padahal negara ini didirikan oleh para pedagog (pendidik). "Tidak mungkin negeri ini terus-menerus diurus oleh kaum demagog. Negeri ini didirikan oleh para pedagog, sekarang dikuasai oleh kaum demagog," tegasnya.

Mahfud sepakat dengan pandangan Rocky dan mengatakan bahwa ia selalu memperjuangkan nilai-nilai sipil dalam setiap lingkup tugasnya sebagai menteri. Ia juga mengundang berbagai aktivis masyarakat sipil ke kantornya untuk berdiskusi tentang berbagai isu, mulai dari lingkungan, hukum, hingga Papua. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#sipil #Militerisme #Merayap #rocky gerung #civilian value #Mahfud #militer #pemimpin #konsep demokrasi #Jebakan