Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Mangga hingga Kebijakan Negara: Memahami Politik dalam Kehidupan Sehari-hari dengan Bahasa Bayi

Rahma Nur Anisa • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 22:00 WIB

 
Dalam kompetisi kepentingan, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama.
Dalam kompetisi kepentingan, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama.

BLITAR KAWENTAR - Politik sering dianggap sebagai hal yang rumit, jauh dari kehidupan sehari-hari, dan hanya urusan para elite di gedung parlemen. Namun, Edbert Gani Suryahudaya membuktikan bahwa politik sebenarnya sangat sederhana dan terjadi di sekitar kita, bahkan dalam urusan memilih buah di pasar.

Melalui analogi keluarga yang memilih buah, Suryahudaya menjelaskan esensi politik dengan cara yang mudah dipahami. "Saya sukanya mangga. Ibu saya sukanya jambu. Adik saya sukanya alpukat. Gimana caranya kita akhirnya datang pada sebuah keputusan membeli salah satu buah ketika semuanya berbeda? Nah, di situlah politik," ujarnya.

Definisi politik paling populer dikemukakan oleh Harold Laswell "siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana". Dalam bahasa sederhana, politik adalah tentang kepentingan, apa yang kita inginkan dan bagaimana cara mendapatkannya ketika orang lain menginginkan hal yang berbeda.

Baca Juga: MBTI: Antara Alat Kenali Diri atau Ilmu Cocoklogi?

Setiap orang memiliki kepentingan yang sah dan tidak ada yang salah dengan perbedaan tersebut. Dalam konteks keluarga, ada yang suka mangga, ada yang suka jambu, ada yang suka alpukat. Dalam konteks negara, ada yang menginginkan harga bahan bakar minyak (BBM) tetap rendah, ada yang rela harga BBM naik asalkan subsidi dialihkan untuk transportasi umum atau makanan bergizi bagi anak-anak.

Namun, masalahnya tidak sesederhana itu. Dalam kompetisi kepentingan, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama. Ada pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar sehingga bisa memanipulasi pilihan atau bahkan mengubah kepentingan orang lain.

Suryahudaya menjelaskan tiga tingkat kekuasaan. Yang pertama, memaksa orang lain mengikuti kehendaknya, seperti kakak yang memaksa adik membeli mangga meski adik suka alpukat. Yang kedua, menghilangkan pilihan tertentu dari agenda, seperti tidak memasukkan alpukat dalam daftar belanjaan sehingga adik bahkan tidak punya kesempatan memilihnya. Yang ketiga dan paling berbahaya, memanipulasi kesadaran sehingga adik lupa bahwa dia sebenarnya suka alpukat.

Baca Juga: Ekskul Karawitan SMPN 2 Nglegok Blitar Jadi Ajang Lestarikan Budaya Lokal

Dalam kehidupan nyata, banyak masyarakat yang lupa akan kepentingan mendasar mereka. Keluarga miskin yang terlalu sibuk memenuhi kebutuhan harian hingga tidak lagi memikirkan pentingnya pendidikan. Warga perkotaan yang setiap hari menghirup udara kotor hingga batuk-batuk, namun tidak pernah menuntut haknya atas udara bersih karena menganggap itu hal biasa.

"Kenapa misalnya orang tidak pernah meminta udara yang bersih di Jakarta? Karena mungkin merasa itu hal yang biasa. Dia mungkin setiap hari batuk kena ISPA, tapi dia tidak pernah sadar itu kepentingan dia untuk bisa meminta sesuatu kepada pemerintah," ungkap Suryahudaya.

Inilah mengapa peran masyarakat sipil, pendidik, dan media sangat penting, untuk terus mengingatkan masyarakat tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan dan berhak dapatkan.

Baca Juga: Sertipikasi Tanah Ulayat Kaum di Sumatra Barat, Bentuk Perlindungan Pusaka Tinggi Masyarakat Adat

Analogi sederhana tentang memilih buah ini membantu kita memahami bahwa politik bukanlah sesuatu yang asing. Setiap kali kita bernegosiasi dengan anggota keluarga, teman, atau rekan kerja untuk mencapai keputusan bersama, kita sedang berpolitik.

Perbedaannya, politik di tingkat negara melibatkan jutaan orang dengan kepentingan yang jauh lebih kompleks. Namun prinsipnya sama, bagaimana kita semua dengan kepentingan berbeda bisa mencapai kesepakatan yang adil? Bagaimana memastikan bahwa yang lemah tidak selalu kalah? Bagaimana menjaga agar yang berkuasa tidak menyalahgunakan posisinya?

Pesan penting dari Suryahudaya adalah bahwa politik bukan hanya soal pemilu atau gedung parlemen. Politik terjadi setiap hari dalam kehidupan kita. Ketika kita menuntut perbaikan jalan di lingkungan, meminta sekolah yang lebih baik untuk anak, atau memperjuangkan upah yang layak, itulah politik.

Baca Juga: Semangat Komunitas Kresna Cendekia Lestarikan Sastra dan Budaya Jawa di Tengah Gempuran Digital

"Yang paling penting adalah apa yang terjadi antar pemilu. Dan itulah bagaimana masyarakat harus terus melakukan agensinya, aktivismenya mereka untuk bisa mengatakan apa yang baik untuk mereka," tutupnya.

Dengan memahami politik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, masyarakat diharapkan tidak lagi apatis atau merasa bahwa politik adalah urusan orang lain. Politik adalah urusan kita semua, dari memilih buah di pasar hingga menentukan arah kebijakan negara. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Edbert Gani Suryahudaya #manipulasi #kehidupan sehari hari #kebijakan negara #politik