Tiga Wajah Kekuasaan yang Membuat Rakyat Tidak Sadar Dipermainkan: Penjelasan Lengkap dari Pakar
Rahma Nur Anisa• Minggu, 12 Oktober 2025 | 00:00 WIB
Banyak manipulasi terjadi di balik layar, tanpa disadari oleh korbannya.
BLITAR KAWENTAR - Kekuasaan tidak selalu tampak jelas. Terkadang, yang paling berbahaya justru manipulasi yang tidak terlihat, ketika masyarakat bahkan tidak menyadari bahwa kepentingan mereka telah dimanipulasi. Inilah yang dijelaskan oleh Edbert Gani Suryahudaya melalui konsep tiga wajah kekuasaan.
Dalam diskusi tentang politik dan kebijakan publik, Suryahudaya mengutip pemikiran Steven Lukes tentang tiga tingkatan kekuasaan yang beroperasi dalam masyarakat. Pemahaman tentang ketiga wajah ini penting agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar.
Ini adalah bentuk kekuasaan paling sederhana dan mudah dikenali. Ketika seseorang memaksa orang lain untuk mengikuti kehendaknya, itulah wajah pertama kekuasaan. Dalam konteks keluarga, misalnya ketika kakak memaksa adiknya yang suka alpukat untuk membeli mangga. Di tingkat nasional, ini bisa terlihat dalam perdebatan terbuka antara partai politik di parlemen atau dalam kampanye pemilu.
Bentuk kekuasaan ini transparan dan dapat diperdebatkan. Masyarakat masih bisa melawan atau bernegosiasi karena konflik kepentingan terlihat jelas.
Wajah kedua lebih licik. Di sini, pihak berkuasa tidak perlu memaksa, mereka cukup menghilangkan pilihan tertentu dari agenda pembahasan. Seperti dalam ilustrasi keluarga, ketika minggu berikutnya kakak sama sekali tidak memasukkan alpukat dalam daftar belanjaan, sehingga adik bahkan tidak punya kesempatan untuk memilihnya.
Dalam politik nyata, ini terjadi ketika isu-isu tertentu tidak pernah dibahas di parlemen, tidak masuk dalam agenda kampanye, atau tidak mendapat ruang di media massa. Inilah yang disebut sebagai "mobilisasi bias", proses sistematis yang membuat suara-suara tertentu tidak terdengar.
Ini adalah wajah kekuasaan paling berbahaya dan paling sulit dideteksi. Pada tingkat ini, manipulasi sudah sangat dalam hingga masyarakat lupa akan kepentingan asli mereka. Adik yang bertahun-tahun hanya dibelikan mangga akhirnya lupa bahwa dia sebenarnya suka alpukat.
Dalam konteks sosial, ini terlihat pada masyarakat miskin yang sudah terlalu lelah dengan kesulitan ekonomi hingga melupakan pentingnya pendidikan. Atau warga perkotaan yang setiap hari menghirup polusi udara hingga batuk-batuk, namun tidak pernah menuntut haknya atas udara bersih karena menganggap itu hal biasa.
"Ketika kemiskinan membuat seseorang tidak pernah berpikir lagi untuk menyekolahkan anak atau cucunya, pendidikan tidak lagi menjadi kepentingan orang tersebut," jelas Suryahudaya. Inilah mengapa penting bagi masyarakat sipil, pendidik, dan media untuk terus mengaktifkan kembali imajinasi masyarakat tentang apa yang seharusnya mereka perjuangkan.
Pemahaman tentang tiga wajah kekuasaan ini mengajarkan bahwa tidak semua relasi kuasa berlangsung secara transparan. Banyak manipulasi terjadi di balik layar, tanpa disadari oleh korbannya. Oleh karena itu, kesadaran kritis dan aktivisme masyarakat menjadi kunci agar demokrasi tidak hanya menjadi alat legitimasi bagi penguasa, tetapi benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat. (*)