Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sujiwo Tejo Ungkap Kelemahan Mahfud MD: Terlalu Baik Hingga Tak Terlihat Sisi Gelapnya

Rahma Nur Anisa • Rabu, 22 Oktober 2025 | 00:00 WIB

Yang menarik dari kritik Sujiwo Tejo adalah perspektifnya yang berbeda dalam menilai
Yang menarik dari kritik Sujiwo Tejo adalah perspektifnya yang berbeda dalam menilai

BLITAR KAWENTAR - Budayawan dan dalang kondang Sujiwo Tejo memberikan kritik unik dan tak biasa kepada mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD dalam acara podcast "Ruang Sahabat Mahfud MD Official". Kritik tersebut justru menyoroti kebaikan berlebihan Mahfud yang membuatnya tampak terlalu sempurna di mata publik, seolah tidak memiliki kekurangan seperti manusia pada umumnya.

Dalam perbincangan yang berlangsung santai namun sarat makna mendalam, Sujiwo Tejo dengan gaya khasnya menyampaikan bahwa Mahfud MD terlihat terlalu baik hingga seolah tidak memiliki sisi gelap sama sekali.

"Kelemannya Pak Mahfud ini, kritiku jangan marah Pak ya, terlalu kelihatan baik kayak enggak ada hitam-hitamnya gitu gitu loh. Aku enggak pernah melihat Pak Mahfud ada minuman kayak siapa Pak Balil atau apa gitu loh," ujar Sujiwo Tejo yang juga dikenal sebagai seniman serba bisa, mulai dari dalang, penulis, aktor, hingga musisi.

Baca Juga: Pahami Rapel Gaji Pensiunan ASN, TNI, dan Polri 2025: Cara Hitung, Mekanisme Cair, dan Tips agar Tak Ketinggalan

Kritik yang disampaikan dengan penuh kehangatan ini justru menunjukkan kedekatan persahabatan antara keduanya. Sujiwo Tejo bahkan dipercaya sebagai saksi pernikahan kedua anak Mahfud MD, sebuah kehormatan langka yang jarang diberikan kepada orang yang sama untuk dua kali acara sakral tersebut. Persahabatan mereka yang terjalin erat dimulai sejak tahun 2011 ketika Mahfud masih menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Yang menarik dari kritik Sujiwo Tejo adalah perspektifnya yang berbeda dalam menilai Mahfud. Ia mengaku lebih menghargai Mahfud dari sisi perasaan dan ikatan batin ketimbang deretan prestasi akademis atau jabatan politik yang disandangnya.

"Sesuatu yang melampaui pikiran itu kan perasaan Pak Mahfud. Kalau rasa sudah senang, saya enggak peduli prestasi Pak Mahfud entah di MK itu apa. Okelah katanya baik apa-apa. Okelah aku percaya itu di Menko Polhukam baik atau apa. Tapi itu tidak menyentuh, bukan itu yang bukan itu," jelasnya dengan lugas.

Baca Juga: Semangat Perajin Batik Puspayindra di Kanigoro Blitar Lestarikan Seni Batik di Tengah Gempuran Zaman

Sujiwo Tejo bahkan mengaku merasa kehilangan ketika Mahfud tidak lagi menjabat di pemerintahan. Alasannya sederhana namun mengena, tidak ada lagi pejabat yang berbicara dengan logat Madura yang khas di layar televisi. "Begitu Pak Mahfud enggak ada di government saya merasa kehilangan, kenapa? Di TV-TV enggak ada lagi omong pejabat yang ngomong logat Madura gitu gitu loh," ungkapnya dengan nostalgia.

Ia mengenang momen-momen Mahfud yang viral di media, seperti saat debat dengan Farhat Abbas di mana Mahfud menjelaskan dengan logat Madura yang kental bahwa dalam hukum, jika sesuatu tidak dilarang maka itu boleh, lengkap dengan rujukan bahasa Latin dan ayat Al-Quran. Kehadiran Mahfud dengan logat khasnya memberikan warna berbeda dalam hiruk-pikuk pemberitaan politik yang seringkali kaku dan formal.

Keduanya, yang sama-sama berasal dari Madura, berbagi banyak kesamaan budaya dan cara pandang. Mereka membahas berbagai topik mulai dari filosofi pedalangan, hubungan antara hukum dan politik, hingga humor khas Madura yang polos namun cerdas dan penuh makna. Sujiwo Tejo menjelaskan bahwa orang Madura memiliki karakter yang lugas, jujur, berani, dan mampu menertawakan diri sendiri, sebuah kebijaksanaan yang langka di tengah masyarakat modern.

Baca Juga: Lima Manfaat Tersembunyi Jus Tomat: Dari Jantung Sehat hingga Kulit Bercahaya

Dalam diskusi yang lebih serius dan mendalam, keduanya juga membahas isu-isu kontemporer seperti supremasi hukum versus supremasi politik, urgensi reformasi Polri yang independen, hingga berbagai kebijakan pemerintahan saat ini yang menuai pro dan kontra.

Mahfud MD dengan latar belakang akademis hukumnya menjelaskan bahwa terdapat tiga teori klasik tentang hubungan antara hukum dan politik: pertama, politik harus tunduk pada hukum (supremasi hukum); kedua, hukum adalah produk politik sehingga politik di atas hukum; dan ketiga, keduanya harus sejajar dan saling menguatkan sebagai solusi ideal.

Perbincangan yang dikemas dengan gaya santai namun berbobot ini menunjukkan bagaimana persahabatan yang tulus dapat menjadi ruang yang aman untuk saling mengkritik secara konstruktif tanpa mengurangi rasa hormat.

Baca Juga: Rahasia Berat Badan Ideal: Manfaat Alpukat untuk Menaikkan Berat Badan Secara Sehat

Sujiwo Tejo menutup kritiknya dengan harapan agar Mahfud lebih menunjukkan sisi humanis dan tidak terlalu monoton dalam kebaikan, karena sebagaimana yang ia sampaikan dengan analogi teknik sipil, "jalan yang lurus terus bikin bosan, harus ada belokan agar tidak membuat pengemudi tertidur."

Kritik ini sebenarnya adalah bentuk apresiasi terselubung, sebuah cara untuk mengatakan bahwa bahkan orang sebaik Mahfud MD pun masih manusia yang boleh menunjukkan sisi-sisi lain dari kepribadiannya, bukan hanya sosok sempurna yang kadang terasa jauh dari realitas kehidupan masyarakat biasa. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#sisi gelap #kelemahan #Mahfud #sujiwo tejo #politik