BLITAR KAWENTAR - Purbaya Yudi Sadewa, mantan Ketua Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani, mencuri perhatian publik dengan gaya kepemimpinannya yang blak-blakan. Julukan "Menteri Koboy" yang melekat pada Purbaya Yudi Sadewa bukan tanpa alasan. Dalam wawancara eksklusif, sosok yang pernah menjadi deputi di Kantor Staf Presiden era Jokowi ini membuka tabir di balik gaya kontroversialnya.
Purbaya Yudi Sadewa mengungkapkan momen dramatis ketika pertama kali diminta menjadi Menteri Keuangan oleh Presiden. "Waktu itu saya dipanggil ke Hambalang, Jumat, Sabtu, Minggu, 3 hari berturut-turut," kenang pria yang sebelumnya menjabat di Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi bersama Luhut Binsar Panjaitan ini. Ia menceritakan bagaimana Presiden mengajaknya berdiskusi panjang lebar selama 2 hingga 3 jam setiap harinya.
"Hari Minggu ada kode-kode, tapi dia bilang jangan berharap dulu, ini belum tentu. Ya udah Pak, enggak apa-apa. Gua pikir kan gua selalu spesialis calon, enggak pernah jadi," ujar Purbaya dengan santai. Baru pada hari Senin jam 9 pagi, mantan staf khusus di Kementerian Politik Hukum dan Keamanan ini mendapat pesan WhatsApp untuk datang ke acara pelantikan. Sejak saat itu, perjalanan Purbaya sebagai Menteri Keuangan dimulai dengan berbagai gebrakan yang mengundang pro dan kontra.
Baca Juga: Internet Rakyat Rp100.000: 3 Wilayah Resmi Kebagian Akses Cepat 5G, Ini Penjelasan Lengkapnya
Jejak Karier Panjang di Pemerintahan Jokowi
Sebelum menjabat sebagai Menteri Keuangan, Purbaya memiliki pengalaman panjang di berbagai posisi strategis pemerintahan. Nama Purbaya tidak asing lagi bagi lingkungan Istana di era Presiden Joko Widodo. Ia kerap dilibatkan dalam pengambilan keputusan beberapa kebijakan strategis bidang ekonomi.
Rekam jejaknya mencakup posisi sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada Mei 2018 hingga September 2020. Sebelumnya, ia menjadi Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pada Juli 2016 hingga Mei 2018.
Purbaya juga pernah menjabat sebagai Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis Kantor Staf Presiden Republik Indonesia pada April 2015 hingga September 2015. Bahkan, ia sempat menjadi Staf Khusus Bidang Ekonomi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada 2010 hingga 2014. Pengalaman panjangnya juga meliputi keanggotaan di Komite Ekonomi Nasional dan Wakil Ketua Satgas Penanganan dan Penyelesaian Kasus (Pokja 4) di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Baca Juga: Uang Rampasan Rp300 Miliar Dipamerkan KPK, Kasus Korupsi PT Taspen Terungkap Makin Mencekam
Gebrak 200 Triliun dengan Persetujuan Presiden
Salah satu langkah paling kontroversial Purbaya adalah keputusannya memindahkan dana sebesar 200 triliun rupiah. Banyak pihak yang mempertanyakan apakah tindakan tersebut merupakan inisiatif pribadi atau arahan langsung dari Presiden. Menanggapi hal ini, Purbaya memberikan klarifikasi tegas.
"Saya enggak tahu ada petunjuk langsung apa enggak, tapi biasanya sebelum saya bertindak, saya lapor dulu ke Presiden. 'Pak, saya akan pindahin uangnya 200 triliun,' jalanin aja Pak," ungkap Purbaya. Ia menegaskan bahwa setiap langkah besar yang diambilnya selalu dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden sebelum dieksekusi.
Mantan Bos LPS ini juga menjelaskan bahwa gebrakan-gebrakannya bertujuan untuk menciptakan optimisme di tengah ketidakpastian ekonomi. "Ketika orang lagi takut seperti itu, saya mesti bergaya beda. Tapi itu bukan gaya yang beda-beda banget. Dari dulu juga saya kayak begitu, ya ngomong ya udah saya lepas aja, enggak saya tahan lagi," katanya.
Baca Juga: Konsumen Gas Melon Melonjak, Pemkab Blitar Usul Tambah Kuota Pasokan ke Pangkalan
Julukan Menteri Koboy Bukan Tanpa Makna
Gaya komunikasi Purbaya yang lugas dan tanpa basa-basi membuatnya dijuluki sebagai "Menteri Koboy" oleh publik dan media. Julukan ini semakin menguat setelah ia beberapa kali memberikan pernyataan kontroversial yang mengungkap berbagai penyimpangan di tubuh Kementerian Keuangan.
"Untuk menciptakan optimisme, kalau kita enggak cukup bold, enggak cukup berani, gimana bisa optimis?" tegas penerus Sri Mulyani ini. Ia menambahkan bahwa keberaniannya berbicara terus terang justru diperlukan untuk membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan keuangan negara.
Momen Dramatis di DPR yang Jadi Turning Point
Salah satu momen paling mengejutkan dalam karier Purbaya sebagai Menteri Keuangan adalah ketika ia harus menghadap DPR. Banyak pihak memprediksi bahwa ia akan "dihancurkan" oleh anggota dewan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
"Hari pertama mereka marah-marah, biar aja. Itu juga kecelakaan yang menguntungkan. Begitu saya ke DPR, orang kan melihat si Menteri Keuangan akan dihancurkan oleh DPR. Ternyata gua pintar sedikit kan," kenang Purbaya dengan nada jenaka.
Ia mengaku mampu menjawab semua pertanyaan DPR dengan memuaskan, sehingga justru mendapat respons positif. "Kita bisa balik dari situ, mereka bisa ngelihat masalah kita cukup fair. Kalau saya enggak bisa jawab pertanyaan DPR, selesai, minggu depannya saya pasti dipecat. Dan enggak apa-apa dipecat, memang enggak berguna," ujarnya blak-blakan.
Komitmen Transparansi dan Akuntabilitas
Purbaya menegaskan bahwa semua tindakannya sebagai Menteri Keuangan didasari oleh prinsip transparansi dan akuntabilitas. Ia tidak pernah mengambil keputusan besar tanpa koordinasi dengan Presiden dan selalu siap mempertanggungjawabkan setiap kebijakan yang diambil.
Kedekatan Purbaya dengan Luhut Binsar Panjaitan juga menjadi salah satu faktor yang mencuri perhatian dalam proses seleksi Menteri Keuangan. Gaya kepemimpinan Purbaya yang kontroversial namun efektif ini telah mengubah persepsi publik terhadap Kementerian Keuangan. Meskipun menuai kritik dari berbagai pihak, dukungan masyarakat terhadap sosok Menteri Koboy pengganti Sri Mulyani ini terus menguat. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa