BLITAR KAWENTAR - Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa kembali mencuri perhatian masyarakat dengan pernyataan blak-blakannya menanggapi kritik dari ekonom Deddy Sitorus terkait kebijakan transfer dana 200 triliun rupiah. Dengan tegas, Purbaya menyebut Deddy Sitorus salah memahami undang-undang dan perlu belajar lagi.
"Pak Deddy salah undang-undangnya. Saya tadi ditelepon Pak Lampok, Pak Deddy undang-undang kan? Dia bilang sama saya, Pak Deddy salah," ujar Menteri Keuangan Purbaya saat diwawancarai wartawan. Pernyataan kontroversial ini langsung menjadi sorotan, mengingat Deddy Sitorus merupakan salah satu ekonom yang vokal dalam mengkritik kebijakan fiskal pemerintah.
Purbaya menegaskan bahwa transfer dana 200 triliun rupiah bukanlah hal baru dan pernah dilakukan sebelumnya. "Hal ini pernah dilakukan sebelumnya. Ini bukan perubahan anggaran, ini hanya uang kita yang dipindahkan saja. Saya sudah berkonsultasi juga dengan Pak Lampok dan ahli hukum di Kemenkeu," jelasnya.
Baca Juga: Vaksinasi PMK di Kabupaten Blitar Lampaui Target setelah Dapat Limpahan Vaksin Belasan Ribu Dosis
Klarifikasi Pemindahan Dana 200 Triliun
Menteri Keuangan Purbaya memberikan penjelasan detail soal mekanisme transfer dana 200 triliun rupiah yang ramai diperbincangkan. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan menggunakan dana SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) untuk pembangunan seperti yang banyak disalahpahami.
“Banyak yang salah mengerti, seolah-olah saya memakai SAL untuk membangun atau uangnya saya ambil untuk pembangunan tertentu. Tidak. Saya hanya memaksa perbankan untuk berpikir secara profesional,” tegas Purbaya.
Ia mengibaratkan transfer dana tersebut seperti memindahkan uang dari satu bank ke bank lain. "Ini bukan dipinjemin, saya taruh saja, saya pindahin uangnya. Seperti Anda uang punya di Bank A dan Bank B, Anda pindahin uangnya dari Bank B ke Bank A. Uang Anda tetap kan?" jelas Menteri Keuangan yang dijuluki Menteri Koboy ini.
Strategi Stimulus Ekonomi Melalui Perbankan
Purbaya mengungkapkan bahwa transfer dana dari Bank Indonesia ke perbankan komersial memiliki tujuan strategis untuk menggerakkan perekonomian. “Kalau di bank sentral, gak bisa diakses oleh perekonomian dan perbankan. Kalau di bank biasa, bisa diakses dan bisa memberikan stimulus ke perekonomian,” paparnya.
Mantan Ketua Dewan Komisaris LPS ini juga mengkritik perbankan yang terlalu pasif. "Jangan santai-santai saja, jadi taruh uang di bank sentral, di obligasi, gak ngapain-ngapain, enak banget. Jadi sekarang mereka mesti berpikir sesuai dengan fungsi mereka," ujar Purbaya dengan gaya khasnya yang lugas.
Pengalaman 2021 Jadi Bukti Keberhasilan
Purbaya menunjuk pengalaman tahun 2021 sebagai bukti bahwa strategi serupa pernah berhasil. "Dulu pernah dijalankan, tahun 2008, September 2021, Mei. Seharusnya tidak ada masalah," katanya.
Baca Juga: Pengembalian Aset Kasus Korupsi Taspen Mengguncang: KPK Serahkan Rp 800 M, Janji Kejar Sisa Kerugian
Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2021, ketika semua orang pesimis kredit bisa tumbuh, ia berhasil menginjeksi uang ke sistem. "Tahun 2021 semua sama kan? Waktu itu kredit tumbuhnya rendah sekali. Saya injek uang ke sistem pada waktu bulan Mei 2021. Cukup signifikan, M0 tumbuh dua digit. Dalam waktu yang hampir bersamaan, kredit juga tumbuh," ungkapnya bangga.
Ancam Tarik Anggaran Kementerian yang Lambat
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga mengumumkan rencana kontroversial lainnya. Ia akan membahas ke kementerian-kementerian besar yang penyerapan anggarannya belum optimal.
“Bulan depan saya akan mulai beredar di kementerian-kementerian yang besar, yang penyerapan anggarannya belum optimal. Saya akan kasih waktu sampai akhir bulan Oktober. Kalau mereka kita pikir tidak bisa belanja sampai akhir tahun, kita ambil uangnya,” tegas Purbaya.
Baca Juga: KPK Pamerkan Uang Rampasan Rp300 M, Bongkar Besarnya Skandal dalam Kasus Investasi Fiktif PT Taspen
Dana yang ditarik dari publikasi yang lambat akan disorot ke program-program yang langsung menyentuh rakyat. “Kita sebarkan ke program-program yang langsung siap dan bermanfaat bagi rakyat. Saya gak mau uang pengangguran,” tegasnya.
Stimulus Beras dan Program Sosial
Purbaya juga mengungkapkan program stimulus terbesar adalah bantuan beras senilai 7 triliun rupiah. "Yang paling besar kan 7 triliunan untuk beras yang 2 kilo. Itu akan kita kasih 20 kilo, 2 kali 10, 2 bulan kali 10 kilo. Itu akan dikasih 2 bulan pertama. Nanti kalau masih kurang, kita kasih lagi," jelasnya.
Pesan untuk Anak Muda dan Perempuan
Ditanya soal tips keuangan untuk anak muda, Purbaya memberikan nasihat sederhana. "Kalau mau berinvestasi, di instrumen apa pun, pelajari instrumen itu apa. Jangan ikut-ikutan orang, jangan FOMO (fear of missing out). Pelajari instrumennya apa, Anda pasti berhasil," katanya.
Untuk perempuan yang suka belanja, pesannya jelas: "Belanja gak apa-apa, belanja mau yang mahal, mau yang murah, tapi sesuaikan dengan kantong Anda sendiri. Jangan ngutang," tegasnya.
Dengan gaya kepemimpinannya yang kontroversial namun tegas, Purbaya terus membuktikan julukan Menteri Koboy bukan sekadar isapan jempol. Kebijakan-kebijakannya yang berani dan blak-blakan terus menjadi perhatian publik dan memicu diskusi di kalangan ekonom. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa