JAKARTA – Bagas Maulana dan Muhammad Shohibul Fikri mengungkap perjalanan awal terbentuknya pasangan mereka hingga akhirnya sukses menjadi juara All England. Duet ganda putra Indonesia itu mengaku proses menuju level tertinggi tidak berlangsung instan karena harus melewati berbagai tantangan dan pasang surut prestasi.
Dalam sebuah wawancara, Fikri menceritakan dirinya dipanggil ke Pelatnas PBSI dan diberi tahu akan dipasangkan dengan Bagas Maulana. Saat itu Bagas membutuhkan rekan dengan karakter permainan depan untuk melengkapi gaya bermainnya.
"Saat itu saya dipanggil ke Pelatnas, diberi tahu dipasangkan dengan Mas Bagas Maulana. Karena dia dulunya ada pasangannya juga pemain depan, jadi dia membutuhkan pemain depan," ujar Fikri.
Baca Juga: Asal-Usul Nama Blitar Terungkap, Ternyata Bukan dari Prasasti Balitar I, Ini Bukti Sejarahnya
Fikri mengatakan saat dipanggil ke Pelatnas dirinya masih menjalani masa magang. Namun pelatih menilai gaya bermainnya sesuai untuk mengisi posisi pemain depan dalam pasangan ganda putra.
Sebelum diputuskan menjadi pasangan tetap, keduanya sempat menjalani masa uji coba dalam latihan maupun pertandingan.
"Pelatih sempat bertanya, 'Kamu mau enggak dipasangkan sama Fikri?' Kami coba dulu, dites beberapa kali. Alhamdulillah kata pelatih cocok," ungkap Bagas.
Meski akhirnya dipasangkan, mereka mengakui proses membangun chemistry membutuhkan waktu. Tidak semua pertandingan berjalan mulus karena keduanya masih mencari kecocokan pola permainan.
Perjalanan Bagas dan Fikri juga diwarnai hasil yang tidak selalu konsisten. Mereka sempat meraih gelar pada turnamen level International Challenge pada 2019.
Setelah itu, prestasi mereka mengalami penurunan sebelum kembali bangkit dengan meraih gelar di India International Challenge.
Fikri mengaku saat mengikuti All England mereka sama sekali tidak membayangkan bisa menjadi juara. Target awal hanya menembus babak 16 besar, kemudian berkembang menjadi delapan besar hingga semifinal.
"Kita mungkin masuk 16 besar saja sudah senang. Masuk delapan besar sudah senang, masuk semifinal lebih senang lagi. Tidak kebayang bisa sampai semifinal," katanya.
Pada partai puncak, mereka harus menghadapi sesama wakil Indonesia. Situasi tersebut justru membuat tekanan berkurang karena mereka yakin gelar tetap akan menjadi milik Indonesia.
Setelah berhasil menjadi juara All England, Bagas dan Fikri memilih tidak cepat berpuas diri. Mereka menyadari setiap turnamen selalu dimulai dari nol sehingga harus kembali bekerja keras.
Bagas mengaku langsung menghubungi keluarganya usai memastikan gelar bergengsi tersebut.
"Pas kemarin kita juara, langsung telepon keluarga dan menunjukkan medali," ujarnya.
Menurut keduanya, keberhasilan di All England justru menjadi motivasi untuk terus meningkatkan prestasi pada turnamen berikutnya.
Baca Juga: Asal-Usul Nama Blitar Terungkap, Ternyata Bukan dari Prasasti Balitar I, Ini Bukti Sejarahnya
Mereka juga memahami bahwa sebagai atlet akan selalu menghadapi pujian maupun kritik dari masyarakat. Namun hal itu dianggap sebagai bagian dari perjalanan seorang pebulu tangkis profesional.
Pada saat yang sama, Bagas dan Fikri mengungkapkan bahwa fokus utama sektor ganda putra Indonesia ketika itu masih berada pada pasangan-pasangan senior. Mereka dan pasangan muda lainnya diminta tampil semaksimal mungkin sebagai proses pembelajaran sebelum nantinya ditargetkan meraih gelar di level dunia.
Di akhir wawancara, keduanya menyampaikan apresiasi kepada para pendukung yang terus memberikan doa dan semangat sepanjang perjalanan karier mereka.
"Terima kasih sudah selalu mendukung kami dan mendoakan kami. Semoga kami bisa memberikan yang terbaik bagi kalian semua," tutup mereka.
Editor : Brilian Syifa Almasih