JAKARTA - Red Bull Rookies Cup 2026 menjadi perhatian setelah perjalanan Feda Ega Pratama di ajang balap junior membuka jalan menuju panggung Grand Prix. Pembalap muda Indonesia itu menunjukkan mental dan kecepatan luar biasa setelah melewati musim penuh drama bersama Red Bull MotoGP Rookies Cup.
Nama Feda Ega Pratama semakin mencuat dalam pembahasan Red Bull Rookies Cup 2026 setelah prestasinya pada musim 2025. Berstatus runner-up atau vice champion, Feda berhasil mengamankan tiket menuju Moto3 meski tidak menjalani seluruh balapan dalam satu musim.
Perjalanan Feda menuju Red Bull Rookies Cup 2026 tidak berlangsung mulus. Cedera parah, operasi, absen balapan, hingga persaingan ketat dengan pembalap Eropa menjadi bagian dari perjuangan pembalap bernomor 54 tersebut.
Baca Juga: Samsung Galaxy A07 Punya Helio G99 dan UFS, tapi 4 Kekurangan Ini Perlu Dipertimbangkan
Start dari Posisi ke-15 hingga Naik Podium
Musim 2025 dimulai Feda di Sirkuit Jerez, Spanyol. Hasil kualifikasi membuatnya harus memulai balapan dari posisi ke-15. Namun, pembalap Indonesia itu langsung menunjukkan kemampuan menyalip dengan agresif.
Dalam waktu singkat, Feda sudah menembus tiga besar dan bahkan sempat memimpin balapan. Ia akhirnya finis ketiga setelah naik 12 posisi dan mengantongi 16 poin.
Race kedua Jerez justru berakhir pahit. Feda kembali mengawali balapan dari posisi ke-15 dan kembali merangsek ke barisan depan. Namun, insiden di tengah rombongan membuat motornya terjatuh sehingga ia gagal finis.
Situasi semakin berat setelah Feda mengalami kecelakaan di FIM JuniorGP World Championship di Estoril. Highside tersebut menyebabkan patah tulang fibula kaki kanan. Ia menjalani operasi di Barcelona pada 7 Mei 2025 dan harus melewatkan dua balapan di Le Mans.
Comeback Spektakuler di Aragon dan Mugello
Satu bulan setelah operasi, Feda kembali membalap di Aragon. Kondisinya belum sepenuhnya pulih, tetapi ia langsung mengejutkan dengan merebut pole position.
Dalam dua balapan di Aragon, Feda dua kali finis keempat. Hasil tersebut menjadi modal penting untuk mengembalikan kepercayaan diri sekaligus mendongkrak perolehan poinnya.
Kebangkitan Feda kemudian mencapai puncaknya di Mugello, Italia. Memulai balapan dari posisi kedua, ia berhasil memenangkan race ketujuh setelah pertarungan sengit dengan lebih dari 10 pembalap.
Tidak berhenti di sana, Feda kembali menang pada race berikutnya. Kemenangan kedua tersebut diraih secara dramatis dengan selisih hanya 0,011 detik. Dua kemenangan beruntun membuat Merah Putih berkibar di Italia sekaligus mengangkat Feda ke jajaran tiga besar klasemen.
Tiga Kemenangan dan Perebutan Runner-up
Performa Feda berlanjut di Sachsenring, Jerman. Setelah finis keempat dalam kondisi lintasan basah, ia tampil lebih dominan pada race berikutnya. Sempat terlempar hingga posisi ke-13, Feda bangkit dan akhirnya merebut kemenangan ketiganya musim tersebut.
Di Red Bull Ring, Austria, Feda kembali menunjukkan konsistensi. Ia merebut pole position dan dua kali finis sebagai runner-up di belakang Brian Uriarte. Hasil tersebut membuat Feda naik ke posisi kedua klasemen dengan 170 poin.
Sayangnya, peluang merebut gelar juara dunia berakhir di Misano. Feda mengalami kecelakaan lima lap sebelum finis dan gagal menambah poin. Brian Uriarte kemudian memastikan gelar juara.
Baca Juga: Samsung Galaxy A07 Punya Helio G99 dan UFS, tapi 4 Kekurangan Ini Perlu Dipertimbangkan
Tiket Emas Menuju Moto3
Race terakhir menjadi penentuan perebutan posisi kedua. Feda hanya unggul satu poin atas Hakim Danish. Ketika rivalnya terjatuh, Feda memilih bermain aman dan finis di posisi kelima setelah penalti tiga detik.
Tambahan poin tersebut membuat Feda mengoleksi 181 poin dan memastikan status vice champion Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025.
Pencapaian itu terasa semakin istimewa karena Feda hanya tampil dalam 12 dari 14 race. Cedera memang sempat menghentikan langkahnya, tetapi tidak mampu memadamkan ambisinya.
Prestasi tersebut menjadi modal penting dalam perjalanan menuju Red Bull Rookies Cup 2026 dan panggung Moto3. Feda membuktikan bahwa kecepatan bukan satu-satunya modal. Mental, keberanian, kemampuan membaca balapan, serta ketangguhan untuk bangkit dari cedera menjadi bagian penting dari perjalanannya menuju level Grand Prix.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : SPORT3 Indonesia