Rizky Ridho Ungkap Perjuangan Jadi Pemain Timnas, dari Main di Gang hingga Debut Profesional

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:55 WIB
Rizky Ridho mengungkap perjalanan menjadi pemain Timnas Indonesia, dari bermain bola di gang, berjuang di tim lokal, hingga menembus Persebaya.(Pinterest)
Rizky Ridho mengungkap perjalanan menjadi pemain Timnas Indonesia, dari bermain bola di gang, berjuang di tim lokal, hingga menembus Persebaya.(Pinterest)

SURABAYA - Rizky Ridho menceritakan perjalanan panjangnya menjadi pesepak bola profesional hingga dipercaya memperkuat Timnas Indonesia. Bek kelahiran Surabaya itu mengawali kecintaannya terhadap sepak bola dari lingkungan sederhana, sebelum akhirnya menembus Persebaya dan mendapat panggilan tim nasional.

Kisah Rizky Ridho tersebut disampaikan saat menjadi bintang tamu dalam sebuah podcast. Ia mengungkap bahwa kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, Ridho lebih banyak bermain bola di gang dekat rumah bersama teman-temannya.

Rumah Ridho berada di sebuah gang yang hanya bisa dilalui dua sepeda motor. Keterbatasan tempat tidak menghalanginya bermain. Bahkan, ia dan teman-temannya menggunakan bagian beton di depan rumah orang sebagai gawang. Aktivitas tersebut terkadang membuat warga marah karena bola kerap mengenai pagar.

Ridho mengatakan, pada awalnya bermain sepak bola hanya untuk bersenang-senang. Keinginannya menjadi pemain profesional baru semakin kuat ketika memasuki usia remaja. Salah satu pemicunya adalah ketika ia melihat pemain-pemain muda yang tampil menonjol dan kemudian memperkuat Timnas Indonesia.

Ia juga pernah menyaksikan pertandingan Persebaya secara langsung bersama sang ayah di Stadion Gelora 10 November. Pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik menjadi pesepak bola profesional.

Baca Juga: Free Fire Kembali Panas, Aksi Kill Beruntun hingga Unstoppable Bikin Video Ini Intens

Sempat Bimbang Pilih Sekolah atau Sepak Bola

Perjalanan Ridho tidak langsung mulus. Saat berusia sekitar 15-16 tahun, ia sempat meninggalkan sekolah selama sekitar satu bulan untuk mengikuti latihan di Sampang bersama Persesa. Namun, ketika menjalani pertandingan uji coba melawan Deltras di Jenggolo, Sidoarjo, ia tidak mendapatkan kesempatan bermain.

Kondisi itu membuat ayahnya meminta Ridho mempertimbangkan kembali keputusannya. Ridho pun sempat berpikir apakah harus kembali fokus sekolah atau melanjutkan perjuangan di sepak bola.

Dalam perjalanan pulang, ia akhirnya mengambil keputusan. Ridho menyampaikan kepada ayahnya bahwa dirinya serius ingin menjadi pemain sepak bola dan siap bekerja keras untuk mengejar cita-cita tersebut. Sang ayah kemudian memberikan dukungan.

Setelah itu, Ridho melanjutkan perjalanan dengan mengikuti seleksi di sejumlah tim. Ia sempat memperkuat Persikoba dan menjalani perjalanan pulang-pergi dari Surabaya ke Batu untuk berlatih. Kondisi ekonomi saat itu juga tidak mudah.

Ridho menceritakan, ketika bermain di level tersebut, uang yang diterimanya sekitar Rp100 ribu dalam seminggu. Untuk menghemat pengeluaran, ia dan rekannya bahkan membuat sambal sendiri dengan bahan sederhana. Pengetahuan mengenai pola makan atlet juga belum banyak ia pahami ketika itu.

Perjalanan akhirnya membawa Ridho kembali ke Persebaya. Ia mengikuti seleksi dan sempat hanya bermain selama dua menit dalam sebuah pertandingan karena situasi pertandingan. Namun, pelatih saat itu sudah mengenal kemampuannya.

Kesempatan berikutnya datang. Ridho kemudian lolos seleksi dan akhirnya menandatangani kontrak profesional bersama Persebaya. Ia mengaku tidak terlalu memikirkan nilai kontrak saat itu. Baginya, kesempatan menapaki karier profesional merupakan pencapaian penting.

Baca Juga: Free Fire Penuh Aksi, Kill Beruntun hingga Quadra Kill Jadi Sorotan di Video Ini

Dari Persebaya ke Timnas Indonesia

Perkembangan Ridho berlanjut ketika ia memperkuat tim kelompok usia Persebaya. Ia mendapatkan menit bermain dan kemudian masuk radar Timnas Indonesia.

Panggilan tim nasional menjadi pengalaman yang membuatnya sempat minder. Ridho harus bersaing dengan pemain-pemain yang sebelumnya sudah memiliki prestasi di level usia muda. Ia kemudian mendapat dukungan dari rekan satu kamarnya, Fajar Fathurrahman, agar bermain tanpa terbebani nama besar pemain lain.

Ridho akhirnya lolos dan menjalani perjalanan bersama Timnas Indonesia. Ia juga mengungkap pengalaman mengikuti seleksi yang berlangsung dalam beberapa tahap sebelum masuk skuad.

Kerja keras tersebut terus ia pertahankan hingga level profesional. Ridho mengaku belum merasa puas dengan pencapaian yang telah diraihnya. Menurut dia, mempertahankan posisi sebagai pemain profesional justru membutuhkan kerja keras karena selalu ada pemain muda yang siap menggantikan.

Kebiasaan bekerja keras itu sudah ditanamkan sejak kecil oleh ayahnya. Bahkan sebelum bergabung dengan Persebaya, Ridho terbiasa berlari dan melakukan latihan tambahan secara mandiri. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan panjangnya hingga menjadi pemain profesional dan memperkuat Timnas Indonesia.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Sport77 Official
karier Rizky Ridho Timnas Indonesia Rizky Ridho persebaya surabaya sepak bola indonesia