SURABAYA - Rizki Ridho mengungkap perjalanan panjang yang mengantarkannya menjadi pemain Timnas Indonesia dan memperkuat Persija Jakarta. Sebelum dikenal sebagai bek tengah di level profesional, Rizki Ridho mengawali kecintaannya terhadap sepak bola dengan bermain di gang dekat rumahnya di Surabaya.
Ridho mengaku mulai serius menekuni sepak bola sejak duduk di kelas 2 menuju kelas 3 SD. Saat itu, bermain bola masih sebatas hiburan bersama teman-temannya. Gang sempit di sekitar rumah menjadi tempat bermain sehari-hari.
Bahkan, Ridho dan teman-temannya memanfaatkan bagian beton di sekitar rumah warga sebagai gawang. Mereka bermain dengan bebas meski terkadang mendapat teguran ketika bola mengenai pagar rumah. Dari permainan sederhana itulah keinginannya menjadi pesepak bola profesional perlahan tumbuh.
Keinginan tersebut semakin kuat setelah Ridho menyaksikan pertandingan Persebaya di Stadion Gelora 10 November. Ia datang bersama ayahnya. Momen melihat langsung lapangan dan atmosfer stadion membuatnya mulai membayangkan menjadi pemain sepak bola.
Ridho kemudian mengidolakan sejumlah pemain Persebaya. Salah satunya Hansamu Yama. Ia mengaku melihat permainan Hansamu dan muncul keinginan untuk menjadi seperti sang pemain.
Namun, jalan menuju sepak bola profesional tidak selalu mulus. Saat berusia sekitar 15-16 tahun, Ridho sempat meninggalkan sekolah selama sebulan untuk mengikuti latihan di Sampang bersama Persesa. Ia kemudian mengikuti pertandingan uji coba melawan Deltras di Sidoarjo.
Dalam laga tersebut, Ridho tidak mendapat kesempatan bermain. Kondisi itu membuat ayahnya mempertanyakan keputusan meninggalkan sekolah demi sepak bola. Sepanjang perjalanan pulang, Ridho pun mulai memikirkan masa depannya.
Ia akhirnya mengambil keputusan serius. Dua hari sebelum kembali ke Sampang, Ridho menyampaikan kepada ayahnya bahwa dirinya ingin menjadi pemain sepak bola dan siap bekerja keras untuk mengejar cita-cita tersebut.
“Ayah support, Ayah dukung dan ayah percaya sama saya,” kata Ridho mengenang respons sang ayah.
Baca Juga: Xiaomi 18 Pro Max Bawa Baterai 8.500 mAh, Tapi 3 Kekurangan Ini Wajib Dipikirkan
Berjuang dari Tim Internal hingga Persebaya
Sebelum menembus Persebaya, Ridho menjalani perjalanan di sejumlah tim. Ia lebih dulu mengikuti kompetisi internal di Surabaya. Setelah itu, ia mendapat kesempatan bermain untuk Persikoba Batu.
Saat membela Persikoba, Ridho bersama rekannya, Surya Maulana, harus menempuh perjalanan dari Surabaya ke Batu untuk berlatih. Kondisi ekonomi juga menjadi bagian dari perjuangannya. Uang yang diterima ketika bermain harus dihemat untuk kebutuhan sehari-hari.
Ridho bahkan menceritakan pengalaman membuat sambal sendiri bersama Surya di penginapan. Mereka membeli bahan makanan sederhana agar uang yang tersedia cukup untuk kebutuhan lainnya.
Di Persikoba, Ridho mulai mendapat kepercayaan bermain secara reguler. Performa tersebut membuka jalan menuju kesempatan mengikuti seleksi Persebaya.
Proses seleksinya pun tidak mudah. Ridho sempat diminta pulang karena batas usia. Namun, Mat Halil memintanya tetap bertahan. Dalam salah satu kesempatan, Ridho bahkan hanya bermain sekitar dua menit karena masuk menggantikan pemain yang mendapat kartu merah.
Baca Juga: Free Fire Makin Seru, Rangkaian Kill hingga Quadra Kill Bikin Pertandingan Panas
Beruntung, pelatih Bejo Sugiantoro sudah mengenal Ridho dari kompetisi sebelumnya. Ia akhirnya terus mengikuti seleksi hingga lolos. Ridho kemudian mendapat kontrak profesional bersama Persebaya.
Perjalanan bersama Timnas Indonesia dimulai setelah namanya masuk dalam daftar pemain yang dipanggil mengikuti seleksi tim U-19. Ridho mengaku sempat minder karena harus bergabung dengan pemain-pemain yang lebih dahulu memiliki pengalaman dan prestasi.
Dukungan Fajar Fathurrahman yang menjadi teman sekamarnya membuat Ridho lebih percaya diri. Ia akhirnya lolos seleksi dan mendapat kesempatan memperkuat Timnas Indonesia.
Kariernya terus berkembang. Ridho kemudian bermain di level senior bersama Persebaya dan mendapat kesempatan berduet dengan Hansamu Yama. Momen itu terasa istimewa karena Hansamu merupakan salah satu pemain yang dahulu ia idolakan.
Kini, Ridho memperkuat Persija Jakarta sekaligus menjadi bagian dari Timnas Indonesia. Meski telah melewati banyak pencapaian, ia mengaku belum merasa puas.
Menurut Ridho, mempertahankan posisi sebagai pemain profesional jauh lebih sulit dibandingkan merebutnya. Pemain-pemain muda selalu datang dan berusaha mengambil tempat. Karena itu, ia memilih terus bekerja keras dan menjalankan program latihan tambahan.
Perjalanan dari gang kecil di Surabaya hingga menjadi pemain Timnas Indonesia menjadi bukti panjangnya proses yang dijalani Ridho. Bagi dirinya, kerja keras dan dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam mengejar cita-cita sebagai pesepak bola profesional.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Sport77 Official