Rizki Ridho Ungkap Kisah di Balik Perjalanan Jadi Pemain Timnas Indonesia

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:15 WIB
Rizki Ridho mengungkap perjuangan dari bermain bola di gang Surabaya, meninggalkan sekolah, hingga menembus Timnas Indonesia.(Pinterest)
Rizki Ridho mengungkap perjuangan dari bermain bola di gang Surabaya, meninggalkan sekolah, hingga menembus Timnas Indonesia.(Pinterest)

SURABAYA - Rizki Ridho mengungkap kisah perjuangannya hingga menjadi pemain Timnas Indonesia. Bek yang kini memperkuat Persija Jakarta itu ternyata memulai perjalanan sepak bolanya dari lingkungan sederhana di Surabaya, termasuk bermain di gang sempit dekat rumah.

Rizki Ridho mulai bermain sepak bola sejak kelas 2 menuju kelas 3 SD. Kala itu, sepak bola belum menjadi cita-cita serius. Ia hanya bermain bersama teman-temannya selepas pulang sekolah. Gang sempit yang hanya bisa dilalui dua sepeda motor menjadi arena bermain sehari-hari.

Kondisi tersebut tidak membuat Rizki Ridho berhenti bermain. Ia dan teman-temannya bahkan menggunakan beton di sekitar rumah warga sebagai gawang. Bola ditendang sekeras mungkin ke arah pagar. Jika pemilik rumah keluar dan marah, mereka memilih pergi dan kembali bermain ketika situasi sudah aman.

Dari permainan sederhana itu, keinginan menjadi pemain sepak bola profesional perlahan muncul. Keinginan tersebut semakin kuat setelah Ridho bersama ayahnya menyaksikan pertandingan di Stadion Gelora 10 November.

Ridho mengaku pengalaman berada langsung di stadion membuatnya terkesan. Ia bahkan sempat mencoba turun ke lapangan untuk menginjak rumput, tetapi dilarang steward. Pengalaman itu menjadi salah satu momen yang membuatnya semakin ingin menjadi pesepak bola.

Baca Juga: Free Fire Kembali Panas, Aksi Kill Beruntun hingga Unstoppable Bikin Video Ini Intens

Ia kemudian mengidolakan pemain Persebaya, termasuk Hansamu Yama. Ridho melihat permainan sang pemain dan membayangkan dirinya bisa menjadi seperti idolanya tersebut.

Namun, perjalanan Ridho tidak langsung mulus. Saat berusia sekitar 15-16 tahun, ia pernah meninggalkan sekolah selama sebulan untuk mengikuti latihan di Sampang bersama Persesa. Dalam sebuah uji coba melawan Deltras di Sidoarjo, ia tidak mendapat menit bermain.

Kondisi itu membuat ayahnya meminta Ridho berpikir matang. Sepanjang perjalanan pulang, sang ayah mempertanyakan keputusan meninggalkan sekolah jika pada akhirnya tidak mendapat kesempatan bermain.

Ridho kemudian mengambil keputusan. Dua hari sebelum kembali ke Sampang, ia menyampaikan kepada ayahnya bahwa dirinya serius ingin menjadi pemain sepak bola profesional.

“Ayah support, Ayah dukung dan ayah percaya sama saya,” kata Ridho mengenang respons ayahnya.

Dari Persikoba hingga Persebaya

Setelah melewati sejumlah proses, Ridho mendapat kesempatan bergabung dengan Persikoba Batu. Bersama Surya Maulana, ia harus menempuh perjalanan dari Surabaya ke Batu untuk mengikuti latihan.

Kondisi finansial saat itu juga jauh dari kata mudah. Ridho bercerita bahwa uang yang diterima harus digunakan sehemat mungkin untuk memenuhi kebutuhan makan. Ia dan Surya bahkan pernah membawa cobek ke penginapan dan membuat sambal sendiri untuk menemani makanan sederhana.

Meski demikian, Ridho mendapatkan hal penting di Persikoba: kesempatan bermain. Ia dipercaya tampil reguler dan mendapat pengalaman berharga. Performa tersebut kemudian membawanya ke seleksi Persebaya.

Seleksi Persebaya juga menyimpan cerita tersendiri. Ridho sempat diminta pulang karena usianya tidak sesuai dengan kelompok yang dipanggil. Namun, Mat Halil memintanya tetap tinggal dan mengikuti proses seleksi.

Baca Juga: Xiaomi 18 Pro Max Bawa Baterai 8.500 mAh, Tapi 3 Kekurangan Ini Wajib Dipikirkan

Dalam salah satu kesempatan, Ridho hanya bermain sekitar dua menit setelah menggantikan pemain yang terkena kartu merah. Ia sempat berpikir kesempatan tersebut terlalu singkat untuk menunjukkan kemampuan.

Beruntung, Bejo Sugiantoro sudah mengenalnya dari kompetisi sebelumnya. Ridho akhirnya terus dipanggil hingga lolos dan mendapat kontrak profesional bersama Persebaya.

Perjalanan ke Timnas Indonesia kemudian dimulai melalui seleksi Timnas U-19. Ridho mengaku sempat minder ketika harus bergabung dengan pemain-pemain yang sebelumnya sudah memiliki prestasi. Dukungan Fajar Fathurrahman, yang menjadi teman sekamarnya sejak 2019, membuatnya lebih percaya diri.

Ridho akhirnya lolos dan mendapat kesempatan tampil bersama Timnas. Kariernya kemudian berkembang hingga level senior. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika ia menjalani debut senior Persebaya dan berduet dengan Hansamu Yama.

Bagi Ridho, pencapaian tersebut belum menjadi alasan untuk berhenti bekerja keras. Ia menilai mempertahankan posisi di level profesional jauh lebih sulit daripada merebutnya.

Pemain muda selalu datang dengan ambisi yang sama. Karena itu, Ridho memilih terus menjalankan program latihan tambahan dan menjaga konsistensi. Dari gang kecil di Surabaya hingga Timnas Indonesia, perjalanan tersebut menjadi bagian penting yang membentuk mentalnya sebagai pesepak bola profesional.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : Sport77 Official
Rizki Ridho Timnas Indonesia persija jakarta persebaya sepak bola indonesia