COMO - Como 1907 memiliki pendekatan bisnis yang berbeda dibandingkan klub-klub besar Eropa. Klub yang disebut sebagai pemilik kekayaan terbesar di Serie A dalam pembahasan tersebut tidak menjadikan prestasi di lapangan sebagai satu-satunya jalan untuk memperbesar pendapatan.
Como 1907 justru berusaha membangun ekosistem bisnis yang lebih luas. Mulai dari pengalaman wisata premium, fashion, merchandise, teknologi tiket hingga menyediakan layanan bisnis untuk klub sepak bola lain.
Konsep tersebut muncul karena Como menghadapi keterbatasan yang sulit dihindari. Kota Como hanya memiliki sekitar 85.000 penduduk, sedangkan kapasitas stadion mereka jauh lebih kecil dibandingkan markas klub raksasa seperti Real Madrid. Dalam pembahasan tersebut, kapasitas awal stadion Como bahkan disebut hanya sekitar 5.000 penonton dan direncanakan berkembang hingga sekitar 15.000.
Kondisi itu membuat Como sulit menggunakan model bisnis yang mengandalkan jumlah penonton dalam skala besar.
Baca Juga: Harga Sewa Sound Horeg Mulai Rp30 Juta, Jadwal Karnaval Sudah Dibooking Setahun
Mengubah Pertandingan Menjadi Pengalaman Premium
Klub kemudian mengambil pendekatan berbeda. Mereka tidak berusaha sekadar mendatangkan lebih banyak orang, tetapi meningkatkan nilai ekonomi dari setiap konsumen.
Como memanfaatkan posisi kotanya yang berada di kawasan Danau Como. Pertandingan sepak bola dikombinasikan dengan pengalaman wisata premium. Pengunjung dapat menikmati vila mewah, kapal, makanan, serta pemandangan danau sebelum menyaksikan pertandingan.
Dengan konsep tersebut, pertandingan Como tidak hanya dijual sebagai tontonan sepak bola. Klub mencoba menawarkan sebuah paket pengalaman.
Dalam pembahasan tersebut, harga tiket reguler disebut sekitar 80 euro. Sementara pengalaman premium dapat mencapai sekitar 2.500 euro. Namun, Como tetap mempertahankan tiket sekitar 20 euro bagi fans lokal.
Strategi tersebut memungkinkan klub mempertahankan akses bagi pendukung lokal sekaligus memperoleh pemasukan lebih besar dari konsumen premium.
Pendapatan match day Como disebut meningkat dari kisaran 5–6 juta menjadi sekitar 14 juta. Artinya, klub tidak harus memiliki stadion berkapasitas puluhan ribu orang untuk meningkatkan pemasukan.
Como 1907 Menjadikan Sepak Bola sebagai Lifestyle
Langkah berikutnya adalah memperluas pasar di luar penggemar sepak bola.
Como menyadari bahwa jika hanya menjual jersey, target konsumennya akan terbatas pada fans. Karena itu, klub mulai membangun Como sebagai lifestyle brand.
Pada 2024, Luigi Villagómez, pendiri brand streetwear Rhude, disebut ditunjuk sebagai chief brand officer. Fokusnya adalah membantu Como membangun identitas yang dapat diterima oleh konsumen fashion dan lifestyle.
Produk yang dikembangkan tidak hanya berkaitan dengan sepak bola. Identitas Como juga diarahkan ke berbagai aktivitas seperti sailing, running, hiking dan racing.
Strategi tersebut mengubah cara klub memandang merchandise. Produk Como tidak harus dibeli karena seseorang merupakan penggemar klub. Konsumen dapat tertarik karena desain dan gaya hidup yang ditawarkan.
Salah satu produk kolaborasi bahkan disebut memiliki harga sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan jersey sepak bola biasa dan tetap habis terjual.
Bisnis merchandise Como disebut menghasilkan sekitar 2,7 juta euro. Klub kemudian menargetkan pendapatan sekitar 15 juta euro pada musim berikutnya, sebelum membidik kisaran 30 juta hingga 70 juta euro pada tahun-tahun selanjutnya.
Baca Juga: Harga Sewa Sound Horeg Mulai Rp30 Juta, Jadwal Karnaval Sudah Dibooking Setahun
Sistem Bisnis Mulai Dijual ke Klub Lain
Ambisi Como tidak berhenti pada bisnis yang mereka jalankan sendiri. Klub tersebut mulai mengembangkan teknologi dan sistem yang dapat ditawarkan kepada klub sepak bola lainnya.
Salah satunya adalah sistem tiket digital yang dibangun sendiri. Dalam pembahasan tersebut, Como menggunakan teknologi blockchain untuk memberikan kontrol lebih besar terhadap transaksi dan hubungan dengan konsumen.
Tiket tidak lagi sekadar menjadi akses masuk stadion. Transaksi dapat dihubungkan dengan digital wallet, cashback, toko resmi serta merchant yang bekerja sama dengan Como.
Dari sistem tersebut, klub juga dapat memperoleh data mengenai konsumen. Mulai dari siapa yang datang, produk apa yang dibeli hingga bagaimana mereka berinteraksi dengan ekosistem klub.
Model ini kemudian diarahkan menjadi sebuah layanan bisnis. Sedikitnya 30 klub Italia disebut ditargetkan menggunakan platform tiket tersebut pada musim berikutnya.
Como juga mengembangkan bisnis merchandise untuk klub lain melalui unit bisnis yang menangani retail dan merchandise. Layanan tersebut disebut telah menyentuh sejumlah klub, termasuk Al-Ittihad, AlUla, Pisa, Everton, Tottenham dan LAFC.
Dengan demikian, Como tidak harus memiliki puluhan juta penggemar untuk memperbesar bisnisnya. Mereka dapat memperoleh pendapatan dengan membantu klub lain mengelola merchandise, e-commerce, produksi, distribusi hingga rantai pasok.
Model tersebut menjadi alasan Como dipandang berbeda dalam persaingan bisnis sepak bola. Mereka tidak berusaha menjadi Real Madrid kedua dengan meniru cara klub raksasa membangun pendapatan.
Como justru mencoba menjadikan klub sebagai laboratorium bisnis. Sistem yang berhasil mereka bangun kemudian dapat dikembangkan dan dijual kepada klub lain.
Pada akhirnya, kekuatan Como bukan semata-mata berada pada jumlah penduduk kota, kapasitas stadion atau jumlah fans. Klub ini berusaha memperluas definisi bisnis sepak bola, dari sekadar pertandingan menjadi pengalaman, brand, teknologi dan layanan untuk industri sepak bola secara global.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Big A Story