BLITAR - Di sebuah rumah sederhana di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, kisah perjuangan keluarga Pak Suroso menjadi inspirasi banyak orang. Istrinya rela merantau ke Taiwan sebagai tenaga kerja wanita (TKW) demi mendukung usaha cobek batu sang suami. Kini, doa dan kerja keras itu terbayar: anak mereka berhasil masuk Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Perjuangan dimulai pada awal 2000-an. Saat itu, usaha cobek batu Pak Suroso yang baru dirintis mengalami pasang surut. Modal habis, pembeli tak kunjung datang, sementara kebutuhan rumah tangga semakin menekan. “Yang paling berat itu waktu anak sekolah. Biayanya mahal sekali,” kata Pak Suroso ketika ditemui tim Blitar Kawentar.
Keputusan besar akhirnya diambil. Istri Pak Suroso memutuskan bekerja di Taiwan selama tiga tahun untuk mencari tambahan modal. “Istri saya itu menyupport dana habis, modal habis pergi ke Taiwan. Selama 3 tahun, alhamdulillah bisa berjalan lagi,” kenang Pak Suroso.
Pengorbanan itu bukan tanpa air mata. Saat sang istri berada di negeri orang, Pak Suroso harus mengurus rumah sekaligus membangun usahanya sendiri. Anak pertama mereka yang masih kecil kala itu ikut membantu pekerjaan rumah, bahkan sudah terbiasa mencuci baju sendiri. “Saya terharu. Anak saya masih kecil, tapi sudah rajin nyapu-nyapu, cuci baju sendiri. Ibunya di Taiwan, jadi ikut saya terus,” ujarnya.
Perlahan, usaha cobek batu yang ia tekuni mulai dikenal. Dari hasil menjual 30 biji cobek dengan motor tua berkeliling Malang hingga Blitar, ia berhasil memperluas jaringan pembeli. Kartu nama yang ia bagikan di pasar-pasar berbuah pesanan besar. Usaha kecilnya tumbuh menjadi lapangan kerja untuk warga sekitar.
Kini, di bengkel kecilnya, Pak Suroso mempekerjakan sekitar 10 orang pengrajin. Mereka bekerja memotong, membelah, hingga membentuk batu menjadi cobek. Dalam sehari, satu orang bisa menghasilkan 40 hingga 50 buah cobek dengan ukuran beragam. Harga pun bervariasi, dari Rp7.500 untuk ukuran kecil hingga Rp90.000 untuk ukuran besar.
Namun, bagi Pak Suroso, yang paling membahagiakan bukanlah omzet atau jumlah produksi. Ia bangga karena kerja keras dan pengorbanan keluarganya mampu membawa anaknya masuk ke jurusan yang diimpikan. “Alhamdulillah, anak saya punya pendirian sekolah kuat. Sekarang sudah masuk fakultas kedokteran. Saya sudah bangga sekali,” ucapnya.
Kebahagiaan sederhana juga ia rasakan ketika bisa berkumpul bersama istri dan kedua anaknya. Setelah bertahun-tahun berpisah karena pekerjaan, momen minum kopi bersama di teras rumah baginya adalah nikmat yang tak ternilai. “Momen paling membahagiakan itu ya kumpul bareng istri dan anak-anak. Itu sudah cukup,” tambahnya.
Kisah Pak Suroso tak hanya soal perjuangan ekonomi, tapi juga keyakinan. Di tengah kesulitan keuangan, ia tak pernah melupakan sedekah. Ia menceritakan suatu ketika hanya memiliki uang Rp400 ribu, sementara harus membayar karyawan Rp9 juta. Separuh uang itu ia sedekahkan kepada anak yatim. Tak lama, datang pembeli besar yang memborong cobeknya, membuat rezekinya berlipat ganda. “Orang susah kok malah sedekah. Tapi alhamdulillah, itu benar-benar dibalas berlipat oleh Gusti Allah,” ungkapnya.
Kini, usaha cobek batu miliknya tak hanya menopang keluarganya, tapi juga menjadi sumber penghidupan bagi para tetangga. Sementara itu, anaknya sedang menapaki jalan panjang menuju cita-cita menjadi seorang dokter.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa di balik kesuksesan seorang suami, ada peran besar seorang istri yang rela berkorban. Dari keringat di tanah rantau hingga air mata di rumah, semua terbayar dengan kebanggaan seorang anak yang berhasil meraih pendidikan tinggi.
Editor : Anggi Septian A.P.