BLITAR – Biaya sekolah anak bikin pusing banyak orang tua, termasuk Pak Suroso. Pria asal Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, itu rela bekerja 9 jam sehari demi masa depan keluarganya.
Setiap pagi hingga sore, tangannya tak berhenti mengolah batu kali menjadi cobek. Usaha itu ia jalani sejak 2001, setelah sebelumnya merantau hingga Malaysia. Meski bukan pekerjaan impian, ia memilih bertahan demi bisa menyekolahkan anak-anaknya.
“Cita-cita saya dulu sederhana, bisa sukses dan mencukupi keluarga. Yang paling berat itu waktu anak sekolah, biayanya mahal sekali,” ungkap Pak Suroso.
Tekanan biaya pendidikan membuatnya harus mengatur tenaga dan waktu sebaik mungkin. Sejak pukul 07.30 hingga 11.30 ia bekerja, lalu berlanjut lagi pukul 13.00 sampai 16.00. Proses membuat cobek batu tidak singkat. Mulai dari memotong bahan, membelah tipis, membentuk bundar, hingga membubut. Satu cobek rata-rata butuh waktu sekitar 10 menit, tergantung ukuran.
Perjuangan Suroso bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga wujud cinta untuk keluarganya. Ia teringat betul bagaimana sang anak ingin kuliah kedokteran di Universitas Muhammadiyah Surabaya. “Alhamdulillah sekarang sudah masuk universitas. Walaupun belum berhasil penuh, saya sudah bangga. Yang penting anak punya pendirian sekolah kuat,” katanya.
Dalam menjalani usaha, ia tidak sendiri. Istrinya menjadi sosok pendukung terbesar, bahkan pernah merantau ke Taiwan untuk mencari modal tambahan. Dukungan itu membuat usaha cobek batu miliknya bertahan hingga sekarang.
“Saya ini bagian lapangan, bikin sendiri. Kalau istri yang mengatur manajemennya. Kalau bahan batu susah, ya kadang beli dari tetangga,” jelasnya. Kini ia memiliki sekitar 10 pekerja yang membantu produksi.
Kisah hidupnya juga lekat dengan prinsip berbagi. Saat usahanya baru merintis, ia hanya punya Rp400 ribu dari upah Rp9 juta. Separuhnya ia sedekahkan ke anak yatim. “Istri saya bilang, coba separuh disedekahkan. Saya ikuti, dan alhamdulillah rezeki digandakan. Besoknya langsung ada pembeli datang borong cobek,” kenangnya.
Menurutnya, berbagi justru memperlancar rezeki. Hingga kini, setiap malam Jumat ia rutin memberi santunan untuk anak yatim di sekitar rumahnya. “Jangan lupa sedekah. Walau susah, rezeki nanti dilipatkan ganda sama Gusti Allah,” tuturnya.
Selain cobek, Suroso juga mengelola kolam ikan lele, patin, dan gurame sebagai usaha sampingan. Ia percaya kerja keras dan kesederhanaan adalah kunci bertahan. “Orang tua banting tulang cuma untuk anak. Kalau anak berhasil, kita ikut bahagia,” ucapnya.
Momen paling membahagiakan baginya adalah ketika bisa berkumpul dengan keluarga. Walau sederhana, ia merasa cukup. Anak-anaknya pun dididik mandiri sejak kecil. “Anak saya melamar kuliah sendiri, ke Malang, Surabaya, Jogja, sampai Semarang. Naik kereta tanpa diantar. Saya terharu, dia mandiri sekali,” ujarnya.
Kini cobek batu buatan Pak Suroso sudah dikenal hingga luar daerah. Ia berharap usahanya bisa terus berjalan agar mampu menopang kebutuhan keluarga, khususnya pendidikan anak. Baginya, keberhasilan anak adalah buah dari kerja keras, doa, dan dukungan keluarga.
“Intinya jangan menyerah. Selagi sehat, terus berusaha. Kalau anak sukses, orang tua ikut senang,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.