BLITAR-Indonesia dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak melimpah. Namun ironinya, hingga kini Indonesia masih mengimpor bensin dari Singapura, negara kecil yang bahkan tidak punya ladang minyak. Fenomena ini terus menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan besar: mengapa negara kaya minyak seperti Indonesia harus bergantung pada impor dari Singapura?
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Indonesia memiliki cadangan minyak mentah sekitar 4,8 miliar barel. Produksi harian pun mencapai 580 ribu barel per hari. Namun kebutuhan konsumsi bensin dalam negeri jauh lebih besar, mencapai 1,6 juta barel per hari. Artinya, terdapat selisih besar yang harus ditutup dengan impor.
Yang mengejutkan, impor terbesar justru datang dari Singapura. Padahal, Singapura sama sekali tidak memiliki cadangan minyak. Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, pernah menyebut bahwa lebih dari 50 persen impor bensin Indonesia berasal dari Singapura. Angka ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan Indonesia terhadap negara tetangga yang wilayahnya tidak lebih luas dari DKI Jakarta.
Fenomena ini semakin paradoks ketika ditelusuri lebih dalam. Sebagian besar minyak mentah yang diolah Singapura justru berasal dari Indonesia sendiri. Alurnya sederhana: minyak mentah dari Indonesia diekspor ke Singapura, diolah menjadi bensin, lalu dibeli kembali oleh Indonesia dengan harga lebih mahal. “Ini ibaratnya kita menjual beras, lalu membeli kembali nasi dengan harga dua kali lipat,” ujar pengamat energi UGM, Fahmi Radi, dalam sebuah wawancara.
Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor BBM dan hasil olahan minyak Indonesia dari Singapura pada 2024 mencapai USD 11,4 miliar atau sekitar Rp184 triliun. Jika dirata-rata, artinya Indonesia mengeluarkan hampir setengah triliun rupiah setiap hari hanya untuk membeli bensin dari negara tanpa ladang minyak tersebut.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada kapasitas kilang. Indonesia hanya memiliki kilang dengan kapasitas produksi sekitar 1,1 juta barel per hari, jauh di bawah kebutuhan nasional. Sementara itu, Singapura sudah membangun ekosistem kilang sejak 1960-an. Hingga kini, total kapasitas kilang minyak di Singapura mencapai 1,4 juta barel per hari. Jumlah ini bahkan melebihi kapasitas Indonesia.
Tak hanya itu, Singapura juga menjadi pusat perdagangan minyak dunia berkat letaknya yang strategis di jalur pelayaran internasional. Kilang raksasa seperti milik ExxonMobil di Pulau Jurong mampu memproduksi hingga 605 ribu barel per hari. Shell Pulau Bukom bahkan menambah 500 ribu barel per hari. Dengan keunggulan ini, Singapura mampu mengolah dan mengekspor kembali minyak ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Ironi semakin terasa jika melihat perbandingan konsumsi. Penduduk Singapura hanya 5,7 juta jiwa dengan kebutuhan BBM sekitar 150 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari satu juta barel hasil produksi kilang Singapura menjadi surplus dan siap diekspor. Tidak heran bila Indonesia menjadi pasar utama.
Pemerintah Indonesia sebenarnya menyadari kelemahan ini. Menteri Bahlil Lahadalia bahkan menegaskan rencana menghentikan impor bensin dari Singapura secara bertahap. Menurutnya, Indonesia akan mengalihkan impor ke negara produsen minyak mentah seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah. “Singapura tidak punya minyak, tapi menjual ke kita dengan harga yang sama dengan produsen asli. Seharusnya mereka bisa memberikan harga lebih murah,” kata Bahlil.
Namun rencana ini tidak lepas dari tantangan. Impor dari Amerika Serikat misalnya, membutuhkan waktu pengiriman hingga 40 hari. Jauh lebih lama dibanding pengiriman dari Singapura yang hanya beberapa hari. Kondisi ini bisa menimbulkan risiko terganggunya pasokan BBM di dalam negeri.
Meski begitu, pemerintah menegaskan langkah ini penting untuk mengurangi dominasi mafia migas yang selama ini menguasai kontrak impor dari Singapura. Pengamat menilai, solusi jangka panjang tetap terletak pada pembangunan kilang minyak di dalam negeri. Selama Indonesia belum mampu meningkatkan kapasitas pengolahan minyaknya, ketergantungan pada impor akan sulit dihindari.
Ironi Indonesia kaya minyak tapi tetap impor bensin dari Singapura menjadi pelajaran penting. Cadangan besar tidak otomatis membuat negara swasembada energi. Tanpa infrastruktur kilang yang memadai, Indonesia hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri.
Editor : Anggi Septian A.P.