BLITAR KAWENTAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar mulai menyiapkan skema pasar murah sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kenaikan harga bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Rencana ini disiapkan menyusul hasil pemantauan Satgas Pangan hingga pertengahan Desember bahwa harga sembako masih terpantau stabil. Hal itu dilakukan jika ada bahan pokok yang harganya melambung tinggi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Darmadi, mengatakan bahwa saat ini terus memantau perkembangan harga sembilan bahan pokok di pasar tradisional, salah satunya di Pasar Kesamben, kemarin.
“Untuk sementara kondisi harga masih stabil dan barang tersedia. Namun, kami tetap menyiapkan langkah antisipasi berupa pasar murah apabila nanti terjadi fluktuasi harga,” ujarnya.
Darmadi melanjutkan, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan adanya potensi kenaikan harga pada komoditas tertentu mendekati hari besar keagamaan.
Karena itu, rencana pasar murah sudah disiapkan agar bisa segera digelar jika dibutuhkan. “Harga cabai sekarang sudah Rp 60 ribu, kemarin sempat Rp 80 ribu, syukur sudah berangsur turun,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto menegaskan, kesiapan pasar murah menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah.
Pemkab Blitar melalui Satgas Pangan akan bertindak cepat apabila ditemukan lonjakan harga yang dinilai memberatkan masyarakat.
“Kami siapkan skemanya. Kalau nanti ada bahan pokok yang harganya melonjak tajam, pasar murah akan kami gelar. Tujuannya jelas untuk menjaga daya beli masyarakat,” katanya.
Rijanto menjelaskan, hasil pantauan per 17 Desember menunjukkan harga sejumlah komoditas utama masih terkendali. Telur ayam berada di kisaran Rp 28 ribu per kilogram, beras lokal sekitar Rp 14 ribu per kilogram, dan minyak goreng Rp 16 ribu per liter.
Selain sembako, Satgas Pangan juga memantau harga daging yang dipastikan masih dalam kondisi stabil. Rijanto berharap situasi ini dapat terus terjaga hingga perayaan Nataru.
“Kalau nanti ada kenaikan, ya masih dalam batas wajar. Tapi tugas kami memastikan tidak ada lonjakan yang memberatkan masyarakat. Hanya cabai rawit yang cenderung fluktuatif. Tapi itu memang karakteristiknya. Hari ini pun sudah mulai turun,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah