BLITAR - Industri film horor Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran film “Pabrik Gula” garapan sutradara Awi Suryadi. Buat kamu yang sudah menonton film ini, pasti sepakat bahwa dari sisi teknis, film ini cukup menggoda mata. Tapi, apakah eksekusinya sepadan dengan hype yang dibangun? Mari kita kupas tuntas dalam ulasan berikut ini.
Sinematografi yang Aestetik dan Lebih Terarah
Satu hal yang paling menonjol dari film ini adalah visualnya yang cantik dan artistik. Awi Suryadi memang dikenal sebagai sutradara yang jago dalam memanfaatkan angle kamera yang variatif, dan kali ini terasa lebih terkendali dibanding film sebelumnya. Tidak lagi kamera diputar-putar tanpa arah seperti di “Perawangan”, tapi tetap memberikan kesan sinematik yang kuat.
Pujian juga patut diberikan pada lighting. Kalau dulu sempat dihujat karena layar gelap dan susah dinikmati, kini setiap adegan terang dan nyaman dilihat. Bahkan penggunaan practical light berhasil memberikan kesan realistis di tiap scene.
Baca Juga: Jumlah Pungunjung Pantai Serang di Blitar Tembus 4.100 orang di Momen Libur Lebaran
Sound Design: Penyelamat Suasana Horor
Sound design dalam “Pabrik Gula” pantas diacungi jempol. Desain suara yang kuat membuat suasana film terasa lebih hidup. Bahkan ketika visual monster-nya hanya siluet hitam, audio mampu menciptakan sensasi horor yang cukup menggigit.
Sayangnya, kekuatan teknis ini tidak dibarengi dengan naskah cerita yang solid.
Cerita Klise dengan Twist Terlalu Tertebak
Salah satu kelemahan terbesar film ini adalah plot yang lemah dan mudah ditebak. Diangkat dari thread viral SimpleMan, alur cerita terasa sangat familiar—bahkan mirip dengan pola “KKN di Desa Penari”. Kurangnya pendalaman karakter membuat penonton sulit terhubung secara emosional.
Konflik utama pun terasa terlalu dangkal: sekelompok teman dihantui oleh roh jahat karena ulah dua orang yang selingkuh dan ‘berbuat sesuatu’ di area pabrik. Tidak ada urgensi, tidak ada ketegangan emosional yang benar-benar mengikat.
Unsur Komedi yang Tabrak Genre
Hal yang cukup mengganggu adalah penyisipan unsur komedi slapstick di tengah-tengah film horor. Beberapa dialog dan akting karakter pendukung membuat nuansa tegang jadi buyar. Bahkan saat momen klimaks yang seharusnya serius, malah terasa konyol karena dari awal film sudah dibangun dengan tone yang setengah-setengah antara horor dan komedi.
Gimmick Marketing: Menarik Tapi Berlebihan
Film ini juga hadir dalam versi “uncut” yang hanya beda satu menit durasi. Ada gimmick “jam kuning” dan “jam merah” dalam penayangan, yang dikaitkan dengan cerita dalam film. Secara pemasaran, ini memang jenius, tapi sayangnya tidak punya dampak signifikan terhadap kualitas film itu sendiri.
Baca Juga: Melihat Tren Bisnis Jasa Sewa Iphone di Blitar, Peminat di Momen Lebaran Naik Dua Kali Lipat
Kesimpulan: Menawan Secara Visual, Tapi Kurang dalam Cerita
“Pabrik Gula” bukan film horor yang buruk—tapi juga bukan yang terbaik. Visualnya cakep, sound design-nya keren, tapi plot-nya... ya gitu deh. Kalau kamu tipe penonton yang mementingkan atmosfer dan estetika, film ini masih layak ditonton.
Tapi kalau kamu mencari cerita yang dalam dan menantang emosi, mungkin harus menurunkan ekspektasi sedikit. Rating: 5.8 / 10 (*)
Editor : M. Subchan Abdullah