Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Potret Disfungsi Keluarga Indonesia dalam Film "Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah"

Rahma Nur Anisa • Minggu, 14 September 2025 | 17:00 WIB

Photo
Photo

BLITAR KAWENTAR - Fenomena "ayah yang tidak berfungsi" dalam rumah tangga Indonesia mendapat sorotan melalui film terbaru Rapi Films. "Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah" mengangkat isu sensitif tentang beban ganda perempuan dalam keluarga patriarkal.

Film ini memotret kondisi yang tidak asing di masyarakat Indonesia, ibu yang menanggung seluruh beban rumah tangga sementara suami bersikap pasif. Karakter Wulan digambarkan harus memasak, mengurus tanaman, mencari kunci motor, bahkan menghidupkan motor sendiri tanpa bantuan suami.

"Scene pembuka sudah menggambarkan filmnya secara keseluruhan. Ibu yang sibuk sementara bapak hanya duduk merokok," analisis reviewer menunjukkan bagaimana film ini merepresentasikan realitas sosial yang pahit.

Baca Juga: Tim Labfor Polda Jatim Turun Tangan Olah TKP Gedung DPRD Kabupaten Blitar yang Dibakar Massa Anarkis

Ketiga anak dalam film menunjukkan respons berbeda terhadap kondisi keluarga. Karakter Anis (Amanda Rawles) yang objektif, Alin yang sinis, dan Aca yang masih mencoba memahami situasi. Hal ini mencerminkan bagaimana disfungsi orang tua mempengaruhi perkembangan psikologis anak.

Momen ketika salah satu anak berteriak "Kenapa enggak bapak aja yang mati?" menunjukkan titik jenuh emosional yang bisa dialami anak-anak dalam keluarga disfungsional. Scene ini menggambarkan betapa destruktifnya dampak ayah yang tidak bertanggung jawab.

Film ini mengangkat bentuk kekerasan domestik yang sering tidak disadari: penelantaran emosional dan ekonomi. Karakter ayah tidak memukul atau berteriak, namun ketidakhadiran fungsinya sebagai kepala keluarga menciptakan tekanan psikologis yang sama destructive-nya.

Baca Juga: Setengah Karyawan Gen Z, Begini Cara Lizzie Parra Kelola Tim BLP Beauty Biar Tetap Produktif!

"Yang penting kan dia baik, tidak selingkuh," komentar sarkastis reviewer mencerminkan mindset masyarakat yang masih menganggap tidak selingkuh sudah cukup sebagai standar suami yang baik.

Penggambaran karakter ayah yang ekstrem menuai kritik karena terlalu menyederhanakan kompleksitas masalah rumah tangga. Dalam realitas, biasanya terdapat faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menjadi tidak produktif, seperti depresi, trauma, atau masalah kesehatan mental.

"Harusnya ada penjelasan kenapa dia bisa sampai seperti itu. Apakah karena bangkrut lalu depresi? Atau ada masalah lain?" komentar reviewer menunjukkan pentingnya memahami akar permasalahan daripada hanya menghakimi.

Baca Juga: ASN Cuma Kerja 4 Jam Sehari, Tetap Dapat Gaji Penuh dan Tunjangan Lengkap!

Meski ada kelemahan dalam pengembangan karakter, film ini berhasil membuka diskusi tentang standar minimal dalam pernikahan. Bukan hanya tidak selingkuh, tapi juga harus berkontribusi dalam keluarga baik secara ekonomi maupun emosional.

Film ini juga mengingatkan pentingnya komunikasi dan dukungan dalam keluarga, terutama ketika menghadapi krisis kesehatan seperti kanker yang dialami karakter ibu.

Dengan rating 7/10, film ini dinilai berhasil menghadirkan cermin bagi masyarakat Indonesia untuk merefleksikan nilai-nilai dalam kehidupan berumah tangga. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#review film #potret keluarga #kekerasan domestik #Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah #rekomendasi film #DISFUNGSI KELUARGA