BLITAR KAWENTAR - Kusuma Ayu Dewi Lintang Sari bukan sekadar penari muda berbakat.
Di balik langkah gemulainya, tersimpan misi besar melawan lupa terhadap budaya lokal. Di saat teman-teman sebayanya sibuk belajar tarian modern dan konten media sosial, perempuan asal Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, ini justru menyalakan semangat pelestarian seni tradisional.
Bakat menari Kusuma tumbuh sejak kecil, diwariskan dari ibunya yang juga penari tradisional. Tanpa mengikuti sekolah tari profesional, dia belajar otodidak lewat video YouTube dan bimbingan keluarga.
Dari situlah lahir penari muda yang kini menjadi wajah baru pelestarian Tari Mubeng Blitar, salah satu warisan budaya khas Bumi Penataran.
“Saya ingin menunjukkan bahwa tarian tradisional tidak kalah indah dibanding tari modern,” ujar perempuan 21 tahun ini.
Prestasinya membentang luas. Dia pernah menjuarai lomba tari di tingkat sekolah hingga tampil di berbagai kota seperti Nganjuk, Trenggalek, dan Mojokerto. Namun, di balik semua itu, Kusuma tak ingin hanya dikenal sebagai penari.
Dia ingin menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan budaya lokal.
Dengan membuka ruang belajar di sekolah dan sanggar, Kusuma membentuk komunitas kecil anak-anak yang mencintai tari daerah.
Dia sadar regenerasi penari tradisional harus terus hidup agar kesenian tak punah di telan zaman.
“Anak-anak sekarang perlu contoh dan ruang untuk mengekspresikan diri lewat budaya sendiri. Jangan sampai lebih memilih budaya dari negara lain,” katanya, lantas tersenyum.
Bagi Kusuma, menari bukan hanya soal gerak tubuh, melainkan juga gerak hati untuk menjaga warisan leluhur.
Baca Juga: Kantah Blitar Ikuti Rapat Persiapan Redistribusi Tanah 2026
Dengan ketekunan dan kesabaran, dia menari bukan demi panggung besar, melainkan demi memastikan bahwa Tari Mubeng Blitar tetap hidup di generasi mendatang.(mg3/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah