BLITAR – Nama Sabilu Taubah Blitar kini semakin dikenal luas sebagai majelis pengajian yang tidak biasa. Berbeda dengan majelis taklim pada umumnya, Sabilu Taubah justru lahir dari kepedulian terhadap mereka yang kerap dianggap “tersesat” oleh masyarakat: eks preman, pecandu alkohol, pekerja malam, hingga anak muda dengan masa lalu kelam.
Majelis Sabilu Taubah Blitar berdiri bukan dari konsep megah, melainkan dari kegelisahan seorang anak muda yang memilih membangun jalan tobat bersama orang-orang terpinggirkan. “Saya tidak pernah memilih jamaah. Semua boleh datang. Tidak harus sudah baik,” ucap pendiri majelis tersebut dalam sebuah acara harlah yang baru-baru ini digelar di Blitar.
Dalam video yang viral di media sosial, sang pendiri menceritakan bagaimana awal mula majelis ini kerap disalahpahami. Ia bahkan pernah ditanya oleh sejumlah tokoh masyarakat, aliran apa sebenarnya Sabilu Taubah Blitar tersebut. “Ini ngaji apa? Kok jamaahnya ada tato, mantan miras, mantan dunia gelap?” katanya menirukan pertanyaan yang sering ia terima.
Namun seiring waktu, jawabannya justru terlihat dari perubahan para jamaahnya.
Dari Warung Kopi hingga Majelis Tobat
Pendiri Sabilu Taubah Blitar mengaku masa mudanya jauh dari kesan religius. Ia berkisah, hari-harinya dulu dihabiskan di warung kopi, dunia pergaulan bebas, dan kehidupan yang penuh kebingungan.
“Dulu saya tidak kenal ngaji benar. Tapi akhirnya saya mondok, belajar pelan-pelan, sampai akhirnya sadar: hidup ini tidak bisa begini terus,” tuturnya.
Dari perjalanan pribadi itulah, lahir tekad mendirikan majelis yang bisa merangkul siapa pun, tanpa syarat. Bukan sekadar mengaji, Sabilu Taubah Blitar menjadi ruang aman bagi mereka yang ingin memperbaiki diri.
Tidak Ada Paksaan, Tapi Ada Perubahan
Salah satu prinsip unik majelis ini adalah pendekatannya yang tanpa tekanan. Para jamaah tidak diwajibkan langsung shalat, apalagi dilarang datang hanya karena latar belakang masa lalu.
“Saya tidak pernah memaksa jamaah salat. Tapi kalau hatinya sudah tersentuh, nanti mereka akan datang sendiri,” katanya.
Baca Juga: Tunjangan Guru Kena Imbas Efisiensi, Wawali Kota Blitar Mbak Elim Dorong Tetap Semangat Mengajar
Hasilnya justru mengejutkan. Banyak jamaah yang awalnya hanya ikut duduk, mendengar, dan ngopi, kini justru istiqamah ikut pengajian. Bahkan beberapa di antaranya kini telah berubah total: meninggalkan minuman keras, dunia malam, dan kebiasaan lama yang merusak hidup.
Aksi Nyata: Hapus Tato dan Santunan Yatim
Puncak harlah Sabilu Taubah beberapa waktu lalu menjadi bukti nyata perubahan itu. Dalam acara tiga hari berturut-turut, digelar aksi sosial hapus tato untuk para jamaah.
“Hari pertama satu orang, hari kedua satu lagi, hari ketiga sampai 71 orang ikut hapus tato,” ungkapnya disambut takbir hadirin.
Tak hanya itu, Sabilu Taubah Blitar juga aktif mengadakan santunan anak yatim, bakti sosial, hingga ziarah wali bersama jamaah lintas latar belakang.
Ini bukan sekadar majelis pengajian. Ini adalah gerakan sosial.
Majelis untuk Semua Kalangan
Jamaah Sabilu Taubah Blitar sangat beragam: anak motor, pekerja bangunan, mantan napi, pedagang kecil, hingga remaja yang pernah tersesat. Semua disatukan dalam satu semangat: tobat dan belajar.
“Seseorang yang punya masa lalu buruk, justru bisa menciptakan masa depan terbaik,” ucapnya dengan suara bergetar.
Ia menegaskan bahwa majelis ini tidak berdiri karena kehebatannya pribadi. “Ini semua bukan karena saya. Ini karena riyadho kakek saya dan doa banyak orang,” katanya merendah.
Jalan Tobat Itu Ada
Bagi warga Blitar dan sekitarnya, Sabilu Taubah kini menjadi simbol bahwa perubahan hidup selalu mungkin. Tidak ada kata terlambat selama seseorang masih mau belajar dan membuka hati.
Pesan sang pendiri sederhana, namun dalam: “Jangan pernah menunggu pantas untuk berbuat baik. Lakukan sekarang.
Editor : Findika Pratama