BLITAR - Polemik laga Persib Bandung kontra Ratchaburi di ajang ACL 2 masih menjadi perbincangan hangat. Keputusan kontroversial wasit asal Arab, Majed Al Samroni, yang dinilai merugikan Persib Bandung, kini justru menuai sorotan dari media dan netizen Arab sendiri.
Isu Persib Bandung dicurangi wasit semakin menguat setelah sejumlah komentar dari warganet Timur Tengah viral di media sosial. Alih-alih membela sesama wasit asal kawasan Arab, banyak netizen justru membongkar rekam jejak kontroversial sang pengadil lapangan dan menyebutnya tidak layak memimpin pertandingan internasional.
Situasi ini menjadi angin tak terduga bagi Persib Bandung. Dukungan datang bukan hanya dari Bobotoh, tetapi juga dari publik Arab yang mengaku pernah merasakan dampak keputusan kontroversial Majed Al Samroni di laga-laga sebelumnya.
Netizen Arab Kuliti Rekam Jejak Wasit
Dalam berbagai platform media sosial seperti X, sejumlah netizen Arab menyebut Majed Al Samroni kerap membuat keputusan yang memicu polemik. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai “wasit terburuk” karena dianggap sering berat sebelah.
Beberapa komentar bernada keras turut beredar. Ada yang menyebut tindakan yang diterima sang wasit usai laga sebagai konsekuensi dari keputusan-keputusan kontroversialnya selama ini. Reaksi tersebut mengejutkan publik Indonesia, sebab biasanya solidaritas sesama negara justru lebih dominan.
Rekam jejak Al Samroni disebut-sebut pernah memicu kontroversi dalam pertandingan lain, termasuk laga yang melibatkan tim Asia Tenggara. Hal inilah yang membuat sebagian netizen Arab merasa tidak heran dengan kemarahan Bobotoh.
Keputusan Kontroversial Rugikan Persib
Dalam pertandingan tersebut, sejumlah keputusan dinilai merugikan Persib Bandung. Mulai dari pelanggaran keras pemain lawan yang tidak diganjar kartu setimpal, hingga kartu kuning yang dianggap terlalu mudah diberikan kepada pemain Maung Bandung.
Situasi memanas ketika Bobotoh tak mampu menahan emosi dan sebagian nekat turun ke lapangan. Aksi tersebut memang disayangkan karena berpotensi merugikan Persib Bandung secara administratif, termasuk ancaman sanksi dari AFC.
Padahal, posisi Persib Bandung saat ini sangat strategis. Maung Bandung tengah berada di papan atas klasemen Liga 1 dan berpeluang besar kembali tampil di ACL 2 musim depan. Jika sanksi dijatuhkan, dampaknya bisa panjang bagi perjalanan klub di kompetisi Asia.
Spekulasi dan Isu Profesionalisme
Muncul pula spekulasi liar yang mengaitkan keputusan wasit dengan rivalitas sepak bola Indonesia dan Arab Saudi. Namun hingga kini, tidak ada bukti konkret yang mengarah pada konflik kepentingan.
Yang menjadi sorotan utama tetaplah profesionalisme. Banyak pihak berharap kontroversi ini menjadi bahan evaluasi bagi AFC dalam menunjuk perangkat pertandingan di level internasional.
Menariknya, di tengah badai kritik dari netizen Arab, AFC justru dikabarkan memberikan pujian terhadap kepemimpinan Majed Al Samroni dalam laga Persib Bandung vs Ratchaburi. Pernyataan itu memicu tanda tanya besar, mengingat gelombang kritik begitu masif di media sosial.
Harapan untuk Evaluasi
Terlepas dari polemik, Persib Bandung diharapkan tetap fokus pada performa tim. Dukungan moral dari berbagai penjuru, termasuk dari netizen Arab, menjadi bukti bahwa persepsi ketidakadilan dalam sepak bola bisa melampaui batas negara.
Bobotoh pun diminta tetap dewasa dalam menyikapi situasi. Emosi sesaat bisa berdampak panjang bagi klub kebanggaan Jawa Barat tersebut.
Kontroversi wasit memang bukan hal baru dalam sepak bola. Namun ketika kritik datang bahkan dari publik negara asal sang pengadil, tentu ini menjadi alarm serius bagi federasi dan konfederasi sepak bola Asia.
Kini publik menunggu langkah evaluasi konkret. Apakah AFC akan melakukan peninjauan ulang? Atau polemik ini akan berlalu begitu saja?
Yang jelas, nama Persib Bandung kembali menjadi sorotan Asia. Kali ini bukan semata karena performa di lapangan, tetapi juga karena drama kepemimpinan wasit yang menyulut perdebatan lintas negara.
Editor : Axsha Zazhika