BLITAR KAWENTAR - Sejarah PSSI tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sepak bola nasional yang sarat nilai perjuangan, konflik, hingga harapan baru menuju Piala Dunia 2026.
Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berdiri pada 19 April 1930 di Yogyakarta, di tengah situasi penjajahan Belanda.
Dikutip dari laman resmi PSSI, organisasi ini awalnya bernama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia sebelum kemudian diubah menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia dalam kongres di Solo tahun 1930.
Sosok sentral di balik berdirinya PSSI adalah Soeratin Sosrosoegondo, seorang insinyur sipil yang juga penggemar sepak bola.
Sejarah PSSI menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga. Pada masa itu, sepak bola dijadikan alat perjuangan politik untuk menumbuhkan nasionalisme, sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Soeratin melihat sepak bola sebagai media pemersatu bangsa untuk melawan kolonialisme Belanda.
Keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia 1938
Dalam catatan sejarah PSSI, Timnas Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda pernah tampil di ajang Piala Dunia FIFA 1938 di Prancis. Indonesia menjadi tim Asia pertama yang tampil di Piala Dunia.
Pada laga debut, Indonesia menghadapi Hongaria dan harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 0-6.
Meski tampil atas nama Hindia Belanda, FIFA tetap mencatat partisipasi tersebut sebagai bagian dari sejarah Indonesia.
Fakta ini menjadi salah satu kebanggaan tersendiri dalam perjalanan panjang sepak bola nasional.
Deretan Prestasi Timnas Indonesia
Sejarah PSSI juga mencatat sejumlah prestasi membanggakan Timnas Indonesia. Di level Asia Tenggara, Indonesia pernah meraih medali emas SEA Games pada 1987, 1991, dan terbaru 2023. Selain itu, Timnas U-19 sukses menjuarai Piala AFF U-19 tahun 2013.
Indonesia juga pernah menjuarai Merdeka Games 1961 serta mencatat prestasi di Pesta Sukan 1972.
Momen-momen tersebut menjadi bukti bahwa sepak bola Indonesia pernah berada di masa keemasan.
Sepak Bola Gajah dan Sanksi FIFA 2015
Namun, sejarah PSSI tidak selalu berjalan mulus. Salah satu noda hitam sepak bola nasional terjadi di ajang Piala Tiger 1998, yang dikenal dengan istilah “sepak bola gajah”.
Laga terakhir Grup A antara Thailand dan Indonesia di Ho Chi Minh City pada 31 Agustus 1998 menjadi sorotan dunia.
Kedua tim yang sudah dipastikan lolos semifinal justru memainkan pertandingan tidak sportif.
Gol bunuh diri yang dilakukan Mursyid Effendi demi menghindari tuan rumah Vietnam di semifinal mencoreng wajah sepak bola Indonesia.
Krisis kembali terjadi pada 2015 saat FIFA menjatuhkan sanksi pembekuan kepada Indonesia.
Konflik antara PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memicu intervensi pemerintah yang dianggap melanggar statuta FIFA.
Saat itu, Menpora Imam Nahrawi mengeluarkan keputusan pembekuan PSSI pada 17 April 2015.
Akibatnya, FIFA resmi menjatuhkan sanksi pada 30 Mei 2015 karena dinilai melanggar pasal-pasal terkait independensi federasi. Indonesia pun sempat terisolasi dari kompetisi internasional.
Harapan Baru dan Target Piala Dunia 2026
Kini, sejarah PSSI memasuki babak baru. Kepengurusan periode 2023-2027 membawa harapan akan tata kelola yang lebih profesional dan terorganisir. Agenda Timnas Indonesia pun semakin padat dan terarah.
Indonesia tampil di Piala Asia 2024 menghadapi grup berat bersama Jepang, Irak, dan Vietnam.
Selain itu, Indonesia juga dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 2023 menggantikan Peru.
Yang tak kalah penting adalah perjuangan di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Indonesia memulai perjalanan dari putaran pertama melawan Brunei Darussalam pada Oktober 2023.
Jika lolos, Indonesia akan bersaing di fase berikutnya bersama Irak, Vietnam, dan Filipina.
Peluang untuk melangkah lebih jauh memang tidak mudah. Namun, dengan komposisi pemain yang semakin kompetitif dan pembinaan yang lebih terstruktur, asa menuju putaran ketiga bahkan mimpi tampil kembali di Piala Dunia tetap terbuka.
Sejarah PSSI membuktikan bahwa sepak bola Indonesia lahir dari semangat perjuangan.
Dari alat perlawanan terhadap penjajah, catatan tampil di Piala Dunia 1938, masa kelam sanksi FIFA 2015, hingga ambisi menembus Piala Dunia 2026, perjalanan Garuda selalu diwarnai tantangan dan harapan.
Kini, publik menanti apakah kebangkitan ini benar-benar mampu membawa Indonesia kembali mencatat sejarah baru di panggung dunia.
Editor : Anggi Septian A.P.