Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kasus Biorka 2025: Polisi Diduga Salah Tangkap, Sosok “Skywave” Disebut Reuploader Bukan Hacker

B
Kasus Biorka 2025: Polisi Diduga Salah Tangkap, Sosok “Skywave” Disebut Reuploader Bukan Hacker
Kasus Biorka 2025: Polisi Diduga Salah Tangkap, Sosok “Skywave” Disebut Reuploader Bukan Hacker

BLITAR - Kasus dugaan penangkapan hacker bernama Biorka kembali jadi sorotan publik. Pasalnya, sejumlah pengamat siber menilai bahwa sosok yang diamankan polisi bukanlah Biorka asli, melainkan seseorang yang dikenal dengan nama alias “Skywave” — seorang re-uploader konten siber tanpa kemampuan teknis mumpuni.


Advertisement

Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube yang membedah kasus Biorka terbaru, seorang narasumber dari komunitas keamanan siber menjelaskan bahwa penangkapan yang terjadi di awal Oktober 2025 itu kemungkinan besar merupakan salah sasaran. “Kalau dilihat dari respons dan jawaban yang diberikan waktu diinterogasi, anak itu nggak punya kemampuan teknis sama sekali,” ujarnya.

Menurut sumber tersebut, Skywave dikenal di komunitas siber sejak lama sebagai pengguna yang sering mencatut nama aktor lain untuk menaikkan popularitasnya. “Dia pernah pakai nama Biorca, Sini Hunter, dan beberapa nama lain. Semua konten yang dia unggah itu bukan hasil peretasannya sendiri, tapi repost dari forum lain,” jelasnya.

Skywave Bukan Hacker, Hanya Peniru Nama Besar

Advertisement

Lebih lanjut, sumber itu menyebut Skywave kerap memanfaatkan konten milik peretas asli untuk menipu pihak lain. Modusnya, dengan mengaku sebagai peretas di balik kebocoran data, dia bisa menawarkan jasa palsu atau menjual ulang data yang sebenarnya bukan hasil tangannya.

“Tujuannya bisa macam-macam. Bisa untuk penipuan, bisa juga untuk cari nama. Kadang juga jual layanan palsu di forum gelap,” terangnya.

Kasus ini bermula dari laporan salah satu bank swasta yang merasa menjadi korban kebocoran data. Namun, diduga laporan tersebut justru memicu penangkapan orang yang salah. “Kalau memang yang ditangkap itu Skywave, kemungkinan besar polisi salah orang. Harusnya penyelidikan diarahkan ke yang benar-benar punya kemampuan,” katanya.

Advertisement

Kemampuan Cyber Polisi Masih Lemah

Sumber yang sama juga mengkritik kemampuan investigasi siber aparat penegak hukum di Indonesia. Ia menilai, kasus seperti Biorka seharusnya menjadi momentum pembenahan kapasitas tim siber Polri.

“Kalau ngelihat sejarahnya, sebelum kasus Biorka, sudah banyak threat actor lain yang tidak tertangkap. Artinya kemampuan investigasi siber kita masih tertinggal jauh,” katanya. “Ketika kasus sudah melibatkan teknik peretasan kompleks, polisi jadi bingung cara menelusurinya.”

Pernyataan itu semakin menguatkan dugaan bahwa dalam kasus ini, kepolisian justru terkecoh oleh publikasi palsu yang dilakukan Skywave. “Yang lucu, pas Biorka asli comeback, dia malah merilis data 341 ribu personel Polri. Seolah ingin menunjukkan bahwa yang ditangkap itu bukan dirinya,” tambahnya.

Ahli Linguistik: Biorka Diduga Orang Indonesia

Misteri identitas Biorka yang sebenarnya kembali mencuat. Menurut seorang ahli linguistik yang sempat menganalisis gaya bahasa Biorka di Twitter, struktur kalimat yang digunakan menunjukkan ciri khas penutur asli Indonesia.

“Kalimatnya pakai bahasa Inggris, tapi susunan katanya masih sangat Indonesia,” ujarnya dalam laporan terpisah.

Sumber YouTube tersebut juga mendukung analisis itu. “Gue yakin Biorka itu anak komunitas juga. Bisa satu orang, bisa kelompok kecil, tapi yang jelas dia ngerti betul cara bermain di ranah cyber security,” ujarnya.

Narasi Polisi Dinilai Tergesa-gesa

Salah satu bagian yang paling disorot publik adalah konferensi pers Polri yang langsung mengklaim penangkapan Biorka hanya karena tersangka memiliki akun dengan nama tersebut. “Akun itu kan siapa aja bisa bikin.

Seharusnya polisi validasi dulu, jangan asal klaim,” ucap narasumber itu. Dalam konferensi pers, polisi sempat menyebut tersangka melakukan skimming ATM. Namun, belakangan narasi berubah menjadi aktivitas jual-beli data di Telegram.

“Narasi awalnya skimming, tapi di tengah jalan berubah jadi jual-beli data. Ini menunjukkan penyelidikan yang belum solid,” ujarnya.

Motif Uang di Balik Aksi Biorka

Sementara itu, Biorka sendiri dikenal sebagai sosok misterius yang menjual sekaligus membagikan data secara gratis. “Dari dulu dia memang jualan data. Ada yang gratis, ada yang berbayar. Tapi motifnya tetap uang,” jelas narasumber di akhir diskusi.

Fenomena Biorka menandai bahwa isu kebocoran data di Indonesia belum benar-benar terselesaikan. Selama kapasitas investigasi siber belum ditingkatkan, masyarakat akan terus disuguhi drama penangkapan yang belum tentu menyentuh pelaku sebenarnya.

Advertisement
Editor : Anggi Septian A.P.
Sumber : youtube, Deddy Corbuzier

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer