Rumah Sudah Dijual tapi Belum Balik Nama, Bikin Desil Bansos Warga Blitar Bisa Berubah

BLITAR KAWENTAR – Data kesejahteraan warga tidak selalu menggambarkan kondisi ekonomi sebenarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Blitar menemukan sejumlah anomali dalam penyusunan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dapat membuat status desil warga berbeda dengan kondisi riil di lapangan.
Salah satu contoh yang ditemukan cukup menarik. Ada warga yang sebenarnya berada di kelompok desil bawah, tetapi datanya menunjukkan kepemilikan kendaraan bermotor.
Baca Juga: Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau, Wartawan Blitar Gelar Doa Bersama
Setelah ditelusuri, kendaraan tersebut ternyata bukan miliknya. Identitas warga hanya dipinjam untuk kebutuhan kredit kendaraan usaha milik majikan.
Anomali serupa juga ditemukan pada data kepemilikan rumah, terutama kelompok lanjut usia (lansia). Rumah yang secara faktual sudah dijual atau berpindah tangan ternyata secara administratif belum dilakukan balik nama. Akibatnya, aset tersebut masih tercatat melekat pada pemilik lama.
Kepala BPS Kota Blitar Hanung Pramusito menjelaskan, DTSEN dibentuk dari kolaborasi data yang berasal dari 19 kementerian dan lembaga.
Baca Juga: Muyasaroh, Kades Slorok yang Tak Gentar Hadapi Pilkades 2026: Bahagia Bisa Bantu Lebih Banyak Orang
Data tersebut kemudian dipadupadankan dan diformulasikan berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk menghasilkan peringkat kesejahteraan dalam desil 1 hingga 10.
Banyaknya sumber data membuat proses pemadanan menjadi cukup kompleks. Saat seluruh data diformulasikan, ditemukan sejumlah ketidaksesuaian atau anomali.
Menurut Hanung, perbedaan pencatatan antarkementerian menjadi salah satu penyebabnya. Sebab, setiap instansi dapat memiliki sudut pandang berbeda dalam membaca suatu aset.



