Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Oversharing di Media Sosial, Anak Muda Perlu Bijak Menjaga Privasi

M
Pengguna media sosial diimbau mempertimbangkan unggahan sebelum dipublikasikan.
Pengguna media sosial diimbau mempertimbangkan unggahan sebelum dipublikasikan.


Advertisement

BLITAR KAWENTAR - Media sosial kini menjadi sarana bagi anak muda untuk mengekspresikan diri dan mencurahkan perasaan. Ketika komunikasi secara langsung terasa sulit, sebagian orang memilih mengungkapkan persoalan pribadi melalui unggahan. Namun, kebiasaan membagikan cerita secara berlebihan atau oversharing memiliki risiko, terutama jika respons yang diterima tidak sesuai harapan.

Oversharing berkaitan dengan seberapa jauh seseorang membagikan persoalan pribadi, mulai dari masalah keluarga, hubungan, hingga kondisi emosional kepada publik. Kebiasaan ini dapat menjadi cara untuk mencari dukungan, tetapi tetap perlu disertai kesadaran terhadap batasan privasi.

Model Silvia Kusuma Dewi menjelaskan, terdapat sejumlah alasan yang membuat anak muda lebih nyaman mencurahkan perasaan melalui media sosial. Di antaranya kepribadian introver, kesulitan merangkai kata saat berbicara langsung, hingga rasa takut mendapatkan penilaian negatif dari orang lain.

Bagi sebagian orang, unggahan di media sosial juga menjadi isyarat bahwa mereka sedang menghadapi masalah dan membutuhkan perhatian dari lingkungan sekitar.

“Ketika ingin curhat langsung tetapi merasa takut, media sosial bisa jadi tempat bercerita. Terkadang itu cara menunjukkan bahwa dirinya butuh perhatian,” jelas Silvia.

Advertisement

Meski demikian, Silvia mengingatkan bahwa setiap pengguna media sosial memiliki tingkat empati yang berbeda. Tidak semua orang mampu memahami maksud di balik unggahan atau memberikan respons sesuai dengan harapan pemilik cerita.

Karena itu, membagikan persoalan pribadi ke ruang publik perlu dipertimbangkan secara matang. Informasi yang sudah diunggah berpotensi dilihat oleh banyak orang, sehingga pengguna perlu memahami konsekuensi dari setiap hal yang dibagikan.

Menurut Silvia, menjaga privasi menjadi bagian penting dalam menggunakan media sosial secara bijak. Pengguna perlu mempertimbangkan isi unggahan sebelum memublikasikannya, termasuk menentukan informasi mana yang layak dibagikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi urusan pribadi.

Mencari dukungan melalui media sosial bukanlah hal yang salah. Namun, kebutuhan untuk mengekspresikan diri perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga batasan pribadi.

Advertisement

Artikel Terkait

Fenomena Pick Me di Kalangan Gen Z, Antara Jadi Diri Sendiri dan Mengejar Validasi Media Sosial

Fenomena Pick Me di Kalangan Gen Z, Antara Jadi Diri Sendiri dan Mengejar Validasi Media Sosial

Fenomena pick me di kalangan Gen Z makin ramai di media sosial. Kenali batas antara jadi diri sendiri dan mengejar validasi.

Bahasa Generasi Digital Berubah Drastis, Media Sosial dan AI Bikin Cara Anak Muda Berkomunikasi Makin Berbeda

Bahasa Generasi Digital Berubah Drastis, Media Sosial dan AI Bikin Cara Anak Muda Berkomunikasi Makin Berbeda

Bahasa generasi digital terus berubah akibat media sosial, bahasa gaul, dan AI. Kreatif, tetapi tetap perlu menjaga bahasa Indonesia.

Ramalan Zodiak dan Tarot Ramai di Media Sosial, Pengguna Diingatkan Tak Menjadikannya Dasar Mengambil Keputusan

Ramalan Zodiak dan Tarot Ramai di Media Sosial, Pengguna Diingatkan Tak Menjadikannya Dasar Mengambil Keputusan

Ramalan zodiak dan tarot ramai di media sosial, namun pengguna diingatkan agar tidak menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer