Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hari Santri 2026, Santri Harus Adaptif terhadap Teknologi dan Aktif dalam Pembangunan

M
USTAD GIGIH MARDANA : Pengasuh Majelis Riyadlul Hidayah Kota Blitar.
USTAD GIGIH MARDANA : Pengasuh Majelis Riyadlul Hidayah Kota Blitar. 

Advertisement

BLITAR KAWENTAR – Santri di era modern dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan akhlak. Momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi pengingat bahwa santri tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga harus mampu mengambil bagian aktif dalam pembangunan dan kehidupan bermasyarakat. Pengasuh Majelis Riyadlul Hidayah Kota Blitar, Ustaz Gigih Mardana, menekankan pentingnya keseimbangan antara kedalaman ilmu agama, keterampilan profesional, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Menurut Gigih, makna santri tidak semata-mata terbatas pada mereka yang belajar di lingkungan pesantren atau madrasah diniyah. Santri juga dapat dimaknai sebagai orang yang memiliki kemauan untuk terus mempelajari ilmu agama, menghormati guru, dan menyediakan waktu untuk mendalami ajaran Islam.

Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Batas Usia

Advertisement

Gigih menegaskan, semangat belajar agama tidak dibatasi usia maupun latar belakang pendidikan seseorang. Menuntut ilmu merupakan proses panjang yang dapat dilakukan sepanjang kehidupan.

Dia mencontohkan, orang-orang dewasa juga memiliki kesempatan untuk memperdalam pemahaman agama, sebagaimana generasi terdahulu yang belajar bersama Rasulullah.

Advertisement

Karena itu, masyarakat tidak perlu merasa terlambat untuk mulai belajar agama. Kemauan memperbaiki diri dan kesediaan mengikuti bimbingan guru menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Pandangan ini juga menjadi dasar bagi berkembangnya ruang pembelajaran agama yang lebih inklusif. Pendidikan keagamaan tidak harus berhenti setelah seseorang melewati usia sekolah, tetapi dapat terus berlanjut ketika mereka telah memasuki dunia kerja maupun kehidupan keluarga.

Santri Harus Mampu Mengikuti Perkembangan Teknologi

Di tengah perkembangan zaman, santri menghadapi tantangan untuk memahami teknologi dan dinamika global. Kemajuan teknologi membuka akses informasi yang semakin luas, termasuk dalam pembelajaran agama.

Namun, kemudahan memperoleh informasi juga perlu diimbangi dengan kemampuan memilih sumber yang tepat. Gigih mengingatkan bahwa niat yang lurus, sikap istiqamah, serta hubungan keilmuan yang jelas dengan guru dan ulama tetap menjadi pegangan dalam mempelajari agama.

Advertisement

Artikel Terkait

Hari Santri Nasional 2026, MUI Kabupaten Blitar Ajak Pemerintah Berani Berbenah

Hari Santri Nasional 2026, MUI Kabupaten Blitar Ajak Pemerintah Berani Berbenah

Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum evaluasi diri. MUI Kabupaten Blitar mengajak masyarakat dan pemerintah berani membenahi tata kelola.

Wisata Literasi Anak di Perpustakaan Bung Karno Blitar, Ruang Nyaman untuk Mengenalkan Buku Sejak Di

Wisata Literasi Anak di Perpustakaan Bung Karno Blitar, Ruang Nyaman untuk Mengenalkan Buku Sejak Di

Wisata literasi anak di Perpustakaan Bung Karno Blitar menawarkan ruang baca nyaman dan koleksi buku menarik untuk keluarga.

Kemarau Panjang, 55 KK di Kota Blitar Krisis Air Bersih, BPBD Salurkan 64.700 Liter

Kemarau Panjang, 55 KK di Kota Blitar Krisis Air Bersih, BPBD Salurkan 64.700 Liter

Krisis air bersih melanda 55 KK di Kota Blitar akibat kemarau panjang. BPBD telah menyalurkan 64.700 liter air.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer