Mitos Gunung Pegat Blitar, Pengantin Baru Dipercaya Bisa Berpisah Jika Melintas

BLITAR – Mitos Gunung Pegat Blitar masih menjadi cerita yang melekat dalam kehidupan masyarakat di Kecamatan Ponggok dan Srengat. Bukit yang namanya berarti berpisah dalam bahasa Jawa ini dikenal melalui kepercayaan bahwa pasangan pengantin baru yang melintasinya dapat mengalami keretakan rumah tangga.
Kepercayaan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita rakyat setempat. Di balik mitos perpisahan, Gunung Pegat juga menyimpan peninggalan arkeologis dari masa Kerajaan Kadiri serta sejumlah legenda yang berkaitan dengan Dewi Kilisuci dan Lembu Suro.
Gunung Pegat bukan sekadar satu puncak yang berdiri sendiri. Kawasan ini merupakan rangkaian perbukitan di wilayah barat Kabupaten Blitar yang membentang di antara Kecamatan Ponggok dan Srengat.
Baca Juga: Korban Pencabulan di Blitar Alami Trauma Berat, DP3APPKB Turun Lakukan Pendampingan
Bentuk Bukit dan Lokasi Gunung Pegat
Secara geografis, Gunung Pegat memiliki bentuk memanjang dan terdiri atas beberapa puncak. Penelitian arkeologi yang dipublikasikan dalam jurnal Amerta pada 2025 menyebut rangkaian perbukitan ini memiliki panjang sekitar 3.800 meter dan lebar 522 meter, membentang di Kecamatan Srengat dan Ponggok.
Kondisi bukit yang terpisah oleh jalan turut menjadi salah satu penjelasan mengenai penyebutan "Pegat". Penelitian tersebut mencatat puncak-puncaknya berada di sisi berbeda dari jalan penghubung Desa Kawedusan dan Dadaplangu. Selain faktor geografis, cerita rakyat setempat juga ikut membentuk penamaan kawasan ini.
Larangan Pengantin Melintasi Gunung Pegat
Dalam kepercayaan masyarakat sekitar, pasangan yang berasal dari kawasan Gunung Pegat sebaiknya tidak melintasi jalan yang membelah bukit menjelang atau setelah pernikahan. Larangan tersebut disebut berlaku selama satu selapan atau 36 hari dalam penanggalan Jawa.
Mitos ini juga memiliki batas kepercayaan tersendiri. Dalam cerita yang beredar, larangan tersebut terutama ditujukan kepada warga asli sekitar Gunung Pegat, bukan seluruh pasangan yang kebetulan melewati kawasan itu.
Penelitian mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada 2022 membahas mitos pegatan sebagai bagian dari kehidupan sosial budaya masyarakat di sekitar Gunung Pegat. Kajian tersebut menemukan bahwa kepercayaan dan larangan yang menyertainya turut memengaruhi perilaku masyarakat, termasuk dalam upaya menjaga lingkungan sekitar. Dengan demikian, mitos tidak hanya dipahami sebagai cerita tentang perpisahan, tetapi juga memiliki fungsi sosial dalam kehidupan warga.
Jejak Dewi Kilisuci dan Prasasti Berusia Lebih dari 800 Tahun
Selain mitos pernikahan, Gunung Pegat dikaitkan dengan legenda Dewi Kilisuci dan Lembu Suro. Dalam cerita rakyat, Lembu Suro jatuh cinta kepada Dewi Kilisuci, tetapi cintanya ditolak. Ia kemudian dikisahkan mengucapkan kutukan yang berhubungan dengan letusan Gunung Kelud dan ancaman bagi wilayah Kediri.
Dewi Kilisuci dipercaya melakukan pertapaan di kawasan Gunung Pegat. Cerita tersebut berkembang karena masyarakat menghubungkan kawasan pertapaan dengan keselamatan wilayah sekitar ketika Gunung Kelud mengalami erupsi. Namun, kisah kutukan dan kesaktian tokoh-tokoh tersebut merupakan bagian dari legenda, bukan fakta sejarah yang dapat dipastikan melalui bukti arkeologis.



