BLITAR – Memasuki musim penghujan, harga cabai di Blirar diprediksi melambung tinggi. Selain rentan busuk, tingginya curah hujan juga memicu jamur pada tanaman sehingga produktivitas cabai menurun.
Petani di Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar Suratemi mengaku bahwa tingginya curah hujan beberapa waktu terakhir mengakibatkan sebagian tanaman cabai tampar miliknya membusuk.
“Musim hujan seperti ini itu berpengaruh. Biasanya itu lalat buah penyebabnya, dan mengakibatkan pembusukan dan ada belatungnya,” ujarnya.
Tidak hanya itu, tingginya curah hujan juga berpengaruh terhadap batang cabai.
Perempuan beruban ini sering menemukan tanaman cabainya patah karena terserang jamur dan mengakibatkan tanaman mati.
“Itu karena tanaman cabai terlalu banyak air. Kalau sudah mati ya tidak bisa apa-apa. Hanya pasrah,”imbuhnya.
Dia menambahkan, kondisi ini akan semakin parah saat hujan terus mengguyur area pertanian yang ditanami cabai.
Salah satu alternatifnya dengan mengaplikasikan pestisida agar lebih tahan terhadap hama jamur.
Sayangnya, para petani harus merogoh kocek cukup dalam karena harganya mahal.
“Saya kurang paham harga pastinya, soalnya yang biasa beli itu anak saya,” terangnya.
Tak jauh beda dengan cabai rawit, cabai tampar juga memiliki harga yang bagus. Yakni sekitar Rp 49 ribu per kilo gram (kg).
“Harga segitu sudah bagus. Soalnya musim hujan seperti ini cabai langka. Makanya harganya mahal,” terangnya.
Karena harga cabai makal, Suratemi memilih tetap menanam cabai lagi. Padahal, dia juga paham risiko gagal panen mengintai saat menaman cabai di musim penghujan.
“Ya memang ini musim hujan, tapi kami tetap menanam. Harganya mumpung tinggi-tingginya. Jika dikemudian kami rugi, itu sudah resikonya. jika untung Alhamdulillah, jika gagal ya udah,” terangnya. (mg2/hai)
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra