BLITAR-Kesibukan menjadi ibu rumah tangga tidak menghalangi seorang perempuan untuk berkreasi dan menghasilkan pundi-pundi rejeki.
Seperti dilakukan oleh Dyah Ayu Wyat Ratitya yang kini menjadi influencer untuk review buku yang telah dibacanya. Hasil review itu diunggah pada media sosial instagram.
Kegiatannya yang dilakukan Dyah itu, dikenal sebagai bookstagram. Sayangnya, saat ini tidak banyak konten review buku di instagram.
Karena usai membangun rumah dan dalam masa menemani perkembangan anak keduanya yang akan masuk sekolah.
“Insyallah saya akan mulai aktif lagi untuk membuat konten buku di instagram setelah Juli 2024. Karena sudah banyak yang menunggu dan menanyakan kapan saya kembali aktif membuat konten,” ujar Dyah Senin, (29/1).
Awalnya perempuan asal Desa Soso, Kecamatan Gandusari ini, tidak tahu bila kegiatan hobi membawa can mereview tersebut dikenal dengan istilah bookstagram.
Dyah mengunggah konten tentang buku di instagram, hanya untuk mencatat review atau poin dari bacaanya dan agar tidak lupa terhadap isinya.
Namun ketika membuka explore instagram, ternyata banyak konten kreator yang juga membuat konten seperti Dyah.
Dari hal itu, Dyah mulai penasaran terkait bookstagram dan memakai hastag itu pada kontennya. Bahkan dia banyak mengenal sesama konten kreator bookstagram dan berbagi bacaan.
Menariknya, sampai saat ini hanya Dyah yang ditemui sebagai bookstagram di Blitar raya. Sehingga dia banyak berbagi pengalaman review buku dengan konten kreator dari luar daerah. Namun, Dyah juga berbagi literasi kepada pecinta buku di Bumi Penataran ini.
Saat ini instagram milik Dyah memiliki pengikut sebanyak 5.192 akun dan sudah mengunggah 246 konten.
Ketika diperhatikan, dalam kontennya tidak hanya sekedar menulis review pada caption. Namun juga perlu kemampuan fotografi dalam memunculkan buku yang telah dibacanya.
“Saya belajar fotografi buku ini secara otodidak. Gara-gara ada hastag bookstagram, saya gunakan untuk mencari referensi foto buku di internet.
Ternyata pada aplikasi pinterest banyak foto serupa dan saya mulai memodifikasi dengan barang yang ada di rumah,” ungkapnya.
Perempuan yang memiliki dua anak ini, mengaku aktif membuat konten terkait buku sejak 2016 lalu. Namun kontennya baru ramai dikunjungi netizen pada masa panda Covid-19 lalu.
Yang dimungkinkan banyak masyarakat beraktivitas di rumah. Bahkan saat itu, banyak penulis dan penerbit yang menawarkan kerjasama.
Pada 2021 lalu, ada penulis yang menghubungi Dyah lewat direct massage instagram. Penulis tersebut yang menentukan harga endormennya sendiri karena masih pertama kali. Dari hal itu, Dyah mulai mendapat range harga untuk tarif endorsement.
Hingga saat ini, Dyah sudah menerima endorsemen hampir 50 buku dari penulis dan penerbit. Tarif endormen yang dipasangnya, paling murah Rp 100 ribu ketika awal menerima endorsmen.
Sedangkan paling mahal, dia pernah mendapatkan Rp 450 ribu dari penerbit untuk tiga kali posting di instagram. Tentu dengan revisi konten yang telah disetujui oleh penerbit atau penulis bukunya.
Namun Dyah pernah merasakan pengalaman tidak menyenangkan ketika menerima endorsemen dari penerbit. Sebenarnya banyak waktu yang disediakan untuk me-review bukunya.
Namun, apresiasi penerbit kurang setimpal dengan proses yang dilakukan Dyah sebagai bookstagram. Maka dari itu, dia lebih senang langsung mendapatkan endorsmen dari penulis bukunya.
“Tentu saya masih ingin untuk aktif menjadi bookstagram, makanya akan kembali pada Juli nanti. Karena saya juga kangen dengan dunia buku.
Bahkan kalau saya baca buku dan tidak dicatat atau disimpan di instagram, seperti ada yang kurang. Tapi selama vakum berkonten, tetap baca buku. Setahun ada 20 buku yang saya baca,” pungkasnya. (*/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila