BLITAR - Kesejahteraan pekerja di Kota Blitar memang belum sepenuhnya bisa dinilai sejahtera. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat dan kondisi masyarakat.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja Kota Blitar Juyanto mengaskan, kesejahteraan pekerja memang perlu ditingkatkan.
”Salah satu upaya peningkatan itu berupa kenaikan UMK (upah minimum kota) tiap tahun. Tapi, jujur saja ini belum 100 persen pekerja yang sejahtera,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Blitar. (9/5/2024).
Memang, kata dia, ada sebagian pengusaha yang belum bisa memberikan upah sesuai standar UMK. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah kondisi keuangan perusahaan.
”Namun, antara pekerja dan pemberi kerja sudah ada kesepakatan terkait upah. Jika nanti kami harus bersikap tegas dikhawatirkan justru menimbulkan pengangguran,” ungkapnya.
Dinas pun mengkategorikan tingkat kesejahteraan di Kota Blitar menjadi tiga. Yakni, kurang sejahtera, sudah sejahtera, dan sudah lebih dari sejahtera.
Selain dari upaya peningkatan UMK, juga ada penyaluran bantuan kepada pekerja yang masuk kategori miskin ekstrem. Bantuan sosial (bansos) ada yang berasal dari pemerintah daerah dan ada yang dari pemerintah pusat.
”Kemudian, pekerja sebisa mungkin juga harus memiliki semangat kemandirian. Jika perlu membuka usaha sampingan untuk memenuhi kebutuhan di luar pekerjaan pokoknya,” terangnya.
Artinya, pekerja harus berinovasi mencari penghasilan tambahan. Jika sudah ada penghasilan tambahan tentu bisa membantu meningkatkan kesejahteraannya.
”Kita tahu peluang beriwirausaha di Kota Blitar lumayan tinggi. Maka itu harus dimanfaatkan sesuai potensi masing-masing,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kemampuan wirausaha pekerja, dinas koperasi maupun dinas terkait lain juga sudah memfasilitasi pelatihan.
Pelatihan dilaksanakan rutin setiap tahunnya. Tujuannya untuk meningkatkan ketrampilan berwirausaha.
Pelatihan tersebut ditujukan kepada pekerja dengan kategori miskin dan miskin ekstrem. Pelatihan itu diharapkan mampu meningkatkan kemampuan wirausaha dan derajat ekonomi pekerja.
”Tentu kami motivasi dan dorong mereka untuk berani berwirausaha. Modal utamanya yakni berani,” tandasnya. (sub/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila