Blitar – Misteri lubang yang menghisap air sungai Kaliasat, Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan mulai terjelaskan, Jumat (8/11).
Ini setelah tim dari Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementrian ESDM yang membenarkan lubang itu merupakan fenomena sinkhole.
Sehingga area sekitar lubang itu harus dihindari masyarakat, karena dikhawatirkan ambrol.
Tim Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi Kementerian ESDM, Abdullah Husna mengatakan, kedatangan tim tersebut ke lubang misterius ini karena mendapatkan laporan dari masyarakat dan media.
Maka dari itu, langsung berkoordinasi dengan perangkat desa, dan pemerintah daerah untuk melakukan penelitian.
“Kami melakukan inspeksi dengan datang langsung ke lokasi lubang di permukaan sungai ini. Secara geologi ini proses yang alami atau natural dan biasa terjadi di area batu gamping. Jadi batu gamping mengandung kalsium karbonat, apabila bereaksi dengan air akan terjadi pelarutan,” ujar Husna.
Menurut dia, dari proses yang cukup lama, pelarutan itu akan membentuk lubang, dan seperti itulah yang terjadi pada dasar sungai Kaliasat ini.
Saat diukur, ukuran lubang mencapai 1,5 meter, namun dari dalam ukurannya lebih besar.
Memang bagian atasnya belum sepenuhnya terbuka dan masih rawan terjadi pembukaan yang lebar.
Untuk itu, jelas dia, tim menyarankan agar masyarakat menghindari lubang tersebut. Karena dikhawatirkan lapisan soil di atasnya ikut ambrol mengikuti lubang di bawahnya.
Tentu bila dipijak, orang yang di atasnya akan terjebak di dalam lubang tersebut. Tentu hal ini memang bahaya karena dilihat pada lapisannya yang lemah dan rawan ambrol, berdampak melebar seukuran lubang dasarnya.
“Kami perlu kaji lebih lanjut. dengan instrumentasi geofisika untuk memahami lagi kondisi di permukaan tanah dalam lubang. Selain itu, juga untuk mengetahui di dalam lubang seberapa besar dan sejauh mana sambungannya,” ungkapnya.
Husna menyebut pelarutan air pasti mengalir ke bawah saluran di bawah permukaan. Rencana tim geologi akan menggunakan teknologi 2 dimensi untuk mengetahui lebih lanjut terkait saluran air di dalam lubang itu.
Fenomena ini umum terjadi di area gamping, hal yang sama terjadi di Kabupaten Gunung Kidul dan Pangandaran.
Lubang ini diduga sebelumnya tertutup oleh sendimen sungai dan tidak diketahui di bawahnya ada lubang lebih besar.
Hingga akhir-akhir ini terjadi erosi yang mengakibatkan lubang endapan di atasnya terbuka.
“Saluran air di bawahnya cukup berkembang. Ini masih tahap muda atau awal, lubang masih kecil-kecil namun sudah terbentuk jaringan air. sehingga mirip yang terjadi di Gunung Kidul,” pungkasnya. (jar/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila