BLITAR - Kabupaten Blitar memiliki 18 desa wisata yang telah ditetapkan dalam Surat Keputusan (SK) selama tiga tahun terakhir. Namun, pengembangan desa wisata masih terkendala sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan. Maka dari itu, hanya beberapa desa wisata saja yang masih aktif.
Kabid Pengembangan Destinasi dan Usaha Wisata Disbudpar Kabupaten Blitar, Arkham Maulana mengatakan saat ini, Desa Wisata Semen Kecamatan Gandusari masih menjadi desa wisata unggulan. Namun, ada beberapa desa lain yang potensinya akan dimaksimalkan, seperti Desa Wisata Serang yang memiliki daya tarik pantai serta berbagai kegiatan festival.
Arkham juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2021, Desa Wisata Serang pernah meraih penghargaan dalam kategori kebersihan toilet.
“Kami memiliki total 18 desa wisata yang telah ditetapkan dalam SK dari tahun 2019 hingga 2021. Rinciannya, tahun 2019 ada 3 desa, 2020 ada 11 desa, dan 2021 ada 4 desa,” kata Arkham.
Beberapa desa wisata yang cukup aktif dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut antara lain Desa Ngadipuro di Kecamatan Wonotirto dengan Pantai Pudaknya, Desa Tulungrejo dengan Hutan Loji Pinus, serta Desa Kemirigede yang memiliki Kampung Gogoniti, Taman Pinus Gogoniti, dan Embung Gogoniti. Selain itu, Desa Kebonagung di Kecamatan Wonodadi juga dikenal dengan aktivitas tanaman obat keluarga (toga)-nya.
Selain itu, beberapa desa lain juga mulai menunjukkan perkembangan positif dalam sektor wisata. “Banyak desa yang cukup potensial, seperti Kecamatan/Desa Ponggok yang telah mulai berjalan dengan edukasi belimbing. Lalu, ada Desa Sidorejo dengan sumber songo RDS serta edukasi nanas,” jelas Arkham.
Selain itu, Desa Sukosewu Kecamatan Gandusari juga tengah mengembangkan wisata Jenggolo Urung-Urung di sekitar sumber air, serta Desa Slumbung yang memiliki wisata Kali Kebo yang mulai aktif dengan berbagai kegiatan. Desa-desa ini sebenarnya belum masuk dalam SK desa wisata, tapi sudah memiliki kegiatan yang cukup baik.
Namun, Arkham menegaskan bahwa membangun desa wisata bukanlah hal yang mudah. Membentuk desa wisata tidak bisa instan seperti membangun destinasi baru. Tantangan terbesar adalah bagaimana menyatukan visi dan misi banyak pihak dalam satu wadah.Menurutnya, kunci utama dalam keberhasilan desa wisata terletak pada SDM dan kelembagaannya.
“Kalau SDM dan lembaga sudah tertata dengan baik, pengembangan desa wisata akan lebih mudah. Ini seperti memasak, bahan-bahannya sudah ada, tapi perlu chef yang handal, dan chef itu adalah SDM serta lembaga desa wisata,” ungkapnya.
Arkham juga menyoroti bahwa dari 18 desa wisata yang telah masuk dalam SK, ada sekitar 5 hingga 6 desa yang saat ini aktivitas wisatanya mulai berkurang. Pihaknya perlu menggugah kembali niat mereka untuk mengembangkan pariwisata. Namun, kalau desa sendiri sudah tidak berminat, tentu sulit bagi Disbudpar untuk mendorongnya.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar terus berupaya mendorong pengembangan desa wisata agar tetap berkembang dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Namun, Arkham menekankan bahwa masih diperlukan program pendampingan dan penataan kembali desa wisata yang sudah ada.
“Untuk saat ini, belum ada rencana penambahan desa wisata baru karena kami masih fokus pada program pendampingan. Anggaran juga menjadi salah satu kendala yang harus diperhatikan,” pungkasnya. (jar/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah