BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Konflik perempuan, politik, dan ambisi kekuasaan mewarnai babak penting sejarah Mataram abad ke-17.
Kisah Retna Dumilah, Ratu Waskita Jawi, dan Pangeran Pragola membuka lembaran kelam intrik dalam kekuasaan dinasti kerajaan Jawa.
Sejarah kerajaan di tanah Jawa tidak hanya diwarnai oleh perang antar kerajaan, tetapi juga oleh konflik internal yang sarat emosi, cinta, dan perebutan kekuasaan.
Salah satu episode paling dramatis dalam sejarah Mataram terjadi saat Ratu Waskita Jawi dan Retna Dumilah menjadi pusat intrik yang akhirnya memicu pemberontakan besar oleh Pangeran Pragola dari Pati.
Ratu Waskita Jawi adalah putri Ki Penjawi, ulama sekaligus diplomat yang pernah belajar ke Persia dan membawa ilmu tata negara serta keislaman ke tanah Jawa.
Ia mewarisi ketegasan ayahnya, dan setelah menjadi istri Panembahan Seda Krapyak, ia turut andil dalam banyak urusan istana.
Tak hanya itu, Ratu Waskita Jawi juga dikenal cerdas dan memiliki pengaruh politik yang signifikan di dalam keraton.
Namun pengaruh itu menjadi sumber kecemburuan politik, terlebih ketika ia menjadi rival dalam kasih sayang raja dengan Retna Dumilah, putri dari Adipati Madiun.
Retna Dumilah tidak hanya cantik, tetapi juga terkenal sebagai perempuan pemberani dan strategis.
Ia pernah membantu ayahnya memimpin pasukan melawan Mataram, sebelum akhirnya menyerah dan dinikahi oleh Panembahan Seda Krapyak.
Ketegangan antara kedua permaisuri tak bisa dihindari. Masing-masing membawa pengaruh politik, jaringan kekuasaan, dan loyalisnya sendiri.
Ratu Waskita Jawi yang berasal dari garis keturunan Pati, merasa posisinya sebagai istri sah pertama raja mulai digeser oleh Retna Dumilah, yang belakangan lebih sering tampil bersama raja dalam urusan pemerintahan.
Di tengah ketegangan itu, muncul sosok Pangeran Pragola, cucu Ki Penjawi dari jalur yang berbeda, yang merasa hak-haknya dalam pemerintahan Mataram diabaikan.
Ia dikenal sebagai pemimpin karismatik dan dicintai oleh rakyat Pati. Pragola merasa keturunan Penjawi lebih layak mendapatkan tempat strategis dalam pemerintahan, terutama karena peran penting Penjawi dalam membesarkan Mataram di masa awal.
Menurut sejumlah sumber sejarah, api pemberontakan yang dipicu Pragola bukan semata ambisi politik, tetapi juga rasa tidak terima atas dominasi kekuasaan dari pihak Mataram yang dianggap lebih mengutamakan garis keturunan Madiun melalui Retna Dumilah.
Bahkan, ada versi cerita rakyat yang menyebut bahwa Pragola diam-diam memiliki simpati kepada Waskita Jawi, dan melihat bahwa Ratu dari Pati itu lebih pantas mendapatkan posisi utama.
Pemberontakan Pragola pada akhirnya menjadi salah satu konflik besar di masa Panembahan Seda Krapyak. Dengan mengerahkan pasukan dari wilayah pesisir utara, Pragola menyerang beberapa titik strategis Mataram.
Perang saudara ini nyaris memecah belah kekuasaan Mataram, dan baru mereda setelah Panembahan menurunkan pasukan gabungan dari Pajang dan Mataram untuk menggempur pasukan Pati.
Ratu Waskita Jawi, meski tidak secara langsung terlibat dalam pemberontakan Pragola, ikut terseret dalam pusaran konflik.
Ia dituduh sebagai tokoh yang memberi angin pada pemberontakan, meskipun hingga kini tidak ada bukti sejarah yang kuat atas tuduhan itu.
Namun, usai konflik, pengaruh Waskita Jawi mulai dibatasi dan ia lebih memilih fokus pada kegiatan keagamaan dan ekonomi di daerah pesisir yang dulunya menjadi basis keluarganya.
Retna Dumilah sendiri tetap bertahan sebagai permaisuri yang memiliki peran politik aktif, terutama saat Mataram mulai melakukan ekspansi ke wilayah timur.
Ia dianggap sebagai simbol kesetiaan setelah sebelumnya berbalik mendukung Mataram dari Madiun.
Konflik ini tak hanya menegaskan rumitnya peta kekuasaan Mataram kala itu, tetapi juga menunjukkan bagaimana perempuan memiliki posisi strategis, baik sebagai pemicu, korban, maupun aktor penting dalam dinamika kekuasaan Jawa abad ke-17.
Dalam perspektif sejarah politik, kisah ini menjadi refleksi bahwa perebutan kekuasaan di masa lalu bukan hanya soal senjata dan strategi militer, tetapi juga persoalan relasi, cinta, dan ambisi antar manusia yang tak lekang oleh waktu.(*/ang)
Editor : Anggi Septian A.P.