BLITAR - Makam Bung Karno merupakan tempat yang menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah untuk datang ke Kota Blitar, Jawa Timur. Selain untuk berziarah ke makam sang proklamator, tempat ini juga menjadi objek wisata edukasi.
Namun yang menjadi pertanyaan mengapa Bung Karno tidak dimakamkan di taman pahlawan, namun malah di Blitar.
Soekarno atau yang akrab disapa Bung Karno meninggal sebagai tahanan rumah dalam keadaan yang memprihatinkan. Dalam buku Bung Karno Sang Singa Podium karya Rhien Soemohadiwidjojo, Bung Karno diasingkan dari teman maupun keluarganya sendiri.
Awalnya, Soekarno diasingkan di Istana Bogor bersama Ibu Hartini dan dua putranya. Lalu atas permintaan keluarga, Bung Karno dipindahkan ke Wisma Yaso pada 1968.
Sebelum meninggal dunia, Bung Karno berwasiat apabila meninggal kelak, ia ingin dikuburkan di bawah pohon yang rindang. Ketika Soekarno meninggal dunia pada 1970, wasiat tersebut tidak diindahkan oleh Soeharto.
Saat itu, Soeharto berpendapat bahwa ia memiliki pegangan yang menjadi titik berat keputusannya memakamkan Bung Karno di Blitar.
Soeharto menilai bahwa Soekarno ketika masih hidup sangat mencintai dan menyayangi ibunya. Bung Karno sangat menghormati ibunya. Bahkan, ketika akan melakukan apa pun, ia selalu sungkem dan meminta doa restu kepadanya ibunya.
Namun menurut sejarawan bahwa Keputusan Soeharto sengaja tidak memakamkan Bung Karno di dekat Jakarta karena dianggap politis yang mana Orde Baru masih takut dengan kharisma dari Soekarno yang merupakan pemimpin besar revolusi bangsa ini, meski ia sudah mati.
Demikianlah alasan mengapa Soekarno dimakamkan di Blitar. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah