BLITAR - Saat wisatawan berkunjung ke Candi Penataran, maka akan disambut oleh struktur gerbang dan relief yang menarik.
Candi Penataran dikenal sebagai kompleks candi terbesar di Jawa Timur, bukan hanya besar tetapi juga arsitekturnya yang begitu megah.
Candi ini sebagai syarat simbol-simbol kosmologi Hindu yang terwujud dalam arsitekturnya.
Dari arca Rapala (Dwarapala) yang menyeramkan hingga naga Basuki yang melilit candi, setiap detailnya memiliki makna filosofis mendalam.
Saat memasuki kompleks, pengunjung akan disambut oleh dua arca Rapala—sejenis Dwarapala (penjaga gerbang) dengan wajah garang, mata melotot, dan rambut keriting.
Uniknya, gerbang Penataran tidak simetris, melainkan berada di sisi selatan candi utama.
Ciri khas Rapala Penataran:
- Bola mata menonjol
- Ikat kepala bertengkorak dan sabuk ular
- Gada di bahu kiri
- Perut berbulu, mirip makhluk setengah binatang
Di alasnya, terdapat inskripsi angka tahun 1242 Saka (1320 Masehi), membuktikan bahwa gerbang ini dibangun pada masa Jayanegara dari Majapahit.
Salah satu ikon paling mencolok di Candi Panataran adalah Candi Naga, yang tubuhnya dililit seekor naga besar yang disangga oleh figur wanita.
Motif ini mengacu pada kisah Samudra Manthan (pengadukan lautan susu) dalam mitologi Hindu, di mana naga Basuki digunakan sebagai tali untuk memutar Gunung Mandara.
Filosofi Naga di Panataran:
- Simbol kesuburan dan penjaga alam bawah
- Penyangga alam semesta (Gunung Mahameru)
- Keseimbangan kosmis antara dewa (diwakili wanita) dan ular (kekuatan alam)
Baca Juga: Turunnya Indeks Persepsi Korupsi: Saatnya Publik Bergerak!
Selain Rapala dan naga, beberapa relief lain memiliki makna khusus:
- Ular & Tengkorak di Rapala → Lambang kematian dan kelahiran kembali.
- Medalion relief Tantri di kaki Candi Naga → Cerita moral tentang kebijaksanaan.
- Sayap Garuda & Naga di teras ketiga → Simbol pertarungan antara langit dan bumi.
Candi Penataran bukan sekadar bangunan tua, melainkan buku terbuka tentang kosmologi Hindu-Jawa.
Dari Rapala yang menjaga gerbang hingga naga yang melilit candi, setiap elemen dirancang untuk menyampaikan pesan spiritual.
Kini, situs ini tetap menjadi salah satu destinasi wisata sejarah terpenting di Indonesia, sekaligus bukti kecanggihan arsitektur nenek moyang kita. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.