BLITAR– Malam biasanya menjadi waktu ketika aktivitas warga mulai surut, lampu-lampu rumah dimatikan satu per satu, dan jalan desa menjadi sepi. Namun, kisah seorang pemotor dari Kediri membalik semua nalar tentang rutinitas malam di perkampungan.
Di sebuah desa terpencil di kawasan perbatasan Blitar–Malang, ia menyaksikan aktivitas warga di tengah malam yang tidak masuk akal: anak-anak berlarian sambil membawa layangan, ibu-ibu tampak baru pulang dari pasar, dan warga lainnya beraktivitas layaknya siang hari.
Peristiwa ini dialami Rendra, seorang mahasiswa jurusan teknik sipil yang pada 2015 melakukan perjalanan dari Malang ke Kediri bersama kekasihnya, Tika. Karena tidak ingin melewati jalur Ngantang yang curam dan minim penerangan, mereka diarahkan oleh seorang penjaga warung untuk pulang melalui jalur alternatif lewat Blitar.
Awalnya jalur tersebut tampak aman, meski sangat sepi. Namun setelah melewati kejadian-kejadian ganjil seperti sosok nenek misterius di jalan dan kios buah tak dikenal di tengah hutan, perjalanan mereka semakin surreal saat tiba-tiba di tengah malam mereka memasuki sebuah desa asing yang terang dan penuh aktivitas.
Suasana Desa yang Tak Masuk Akal
Rendra dan Tika mengira mereka telah menemukan penyelamat. Dari kejauhan mereka melihat lampu-lampu yang terang dan tanda-tanda kehidupan seperti rumah-rumah berjajar dan jalanan desa yang bisa dilalui motor. Namun, begitu mereka masuk ke desa tersebut, justru kejanggalan demi kejanggalan mulai terasa.
“Malam sudah hampir jam 12. Tapi di desa itu anak-anak justru sedang main layangan,” ujar Rendra dalam wawancara yang dibagikan kanal Kembara Sunyi. Ia juga melihat beberapa ibu-ibu membawa keranjang belanja seperti baru pulang dari pasar. Ada pula warga yang lalu-lalang sambil mengobrol, seakan-akan baru pukul 5 sore.
Rendra dan Tika pun memutuskan untuk berhenti sejenak dan bertanya arah kepada sekelompok bapak-bapak yang sedang duduk di pos ronda. Namun, kelima pria itu hanya menatap tanpa berbicara sepatah kata pun. Tatapan mereka kosong dan kaku, tidak ada ekspresi ramah ataupun curiga.
“Bayangkan kamu tanya jalan ke orang, tapi mereka cuma menatapmu dalam diam. Rasanya seperti kamu bukan bagian dari dunia mereka,” kata Rendra menggambarkan perasaannya saat itu.
Apakah Mereka Benar-Benar Warga?
Yang membuat Rendra semakin bingung adalah reaksi warga lain terhadap kehadiran mereka. Meski motor mereka satu-satunya kendaraan yang lewat di desa itu, tak ada satu pun warga yang terlihat memperhatikan. Tidak ada yang menoleh, tidak ada yang bertanya, bahkan seolah kehadiran mereka tidak terlihat.
Padahal dalam situasi normal, terutama di desa kecil dan di tengah malam, kehadiran dua orang asing dengan motor jelas akan menimbulkan rasa penasaran. Namun tidak di desa ini.
“Semua orang sibuk sendiri. Tapi anehnya, mereka tidak memperhatikan kami sama sekali. Seperti kami tidak ada,” jelas Rendra.
Ia sempat mencoba membuka ponsel untuk mencari petunjuk arah, namun seperti sebelumnya, tidak ada sinyal. Ia juga sempat bertanya lagi kepada Tika, namun kekasihnya itu masih dalam kondisi linglung sejak kejadian sebelumnya.
Desa yang Tak Ditemukan Kembali
Setelah keluar dari desa tersebut dan akhirnya tiba di jalan raya, Rendra mencoba mencari titik lokasi mereka lewat aplikasi peta digital. Namun anehnya, tidak ada nama desa yang sesuai dengan lokasi tersebut. Bahkan, ketika diceritakan ke teman asal Blitar, ia mendapat pengakuan mengejutkan.
“Memang ada banyak kisah desa gaib di kawasan Blitar,” ujar temannya. “Dan katanya kalau sudah masuk, enggak semua bisa keluar.”
Hal ini memperkuat dugaan bahwa desa yang dilihat Rendra bukanlah desa biasa. Warga yang beraktivitas larut malam, suasana yang seolah "terlalu hidup" di waktu yang seharusnya sunyi, dan sikap warga yang tak merespon adalah tanda-tanda umum dari cerita-cerita mitos tentang desa gaib di wilayah Jawa Timur.
Warga Beraktivitas di Tengah Malam, Normal atau Gaib?
Dalam berbagai cerita rakyat, aktivitas warga di waktu yang tak lazim, seperti tengah malam atau dini hari, sering dikaitkan dengan dunia lain.
Beberapa versi menyebut bahwa waktu antara pukul 11 malam hingga 3 pagi adalah waktu “liminal”, di mana dunia manusia dan dunia gaib bisa saling bersinggungan.
Fenomena seperti ini sering dilaporkan oleh orang-orang yang tersesat di daerah hutan, pegunungan, atau wilayah perbatasan antarkabupaten. Banyak dari mereka yang mengaku melihat pasar malam yang tak pernah ada di siang hari, rumah-rumah yang lenyap saat fajar, atau warga desa yang berbicara dalam bahasa yang tidak mereka pahami.
Kisah Rendra menambah daftar panjang urban legend seputar desa-desa gaib di Blitar. Bahkan, ia masih merasa merinding ketika mengingat anak-anak yang bermain layangan larut malam tanpa orang tua yang mengawasi.
“Sampai sekarang saya masih mikir, itu desa beneran enggak, ya?” ujarnya menutup cerita.
Penelusuran Belum Berakhir
Meski cerita ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, banyak netizen dan warga lokal yang percaya. Beberapa menyebut daerah Wlingi, Doko, hingga pinggiran hutan Lodoyo sebagai titik-titik rawan mistis.
Tim Kembara Sunyi sendiri mengaku akan melakukan investigasi lebih lanjut untuk mencoba menelusuri lokasi pasti yang disebutkan Rendra. Namun sejauh ini, desa gaib itu belum ditemukan kembali.
Apakah ini hanya ilusi? Atau memang benar ada desa yang hanya muncul di malam tertentu?
Yang jelas, Rendra dan Tika beruntung bisa kembali—meski tidak semua yang masuk ke desa seperti itu bisa keluar untuk bercerit
Editor : Anggi Septian A.P.