Dari Dipecat hingga Diarak: Lika-Liku Hidup Mas Bre, Pendiri Brewog Audio Blitar yang Pernah Diamankan Aparat
Dimas Galih Nur Hendra Saputra• Sabtu, 12 Juli 2025 | 01:00 WIB
Lika liku hidup Mas Bre
Blitar — Di balik dentuman sound horeg milik Brewog Audio, tersimpan kisah getir sang pendiri: Mas Bre.
Pria asal Blitar yang kini menjadi ikon panggung karnaval ini pernah mengalami masa-masa gelap, mulai dari dipecat dari pekerjaan, hidup tanpa arah, hingga diamankan aparat selama hampir dua tahun.
Namun, alih-alih tenggelam dalam keterpurukan, Mas Bre justru menjadikan masa kelam itu sebagai bahan bakar untuk bangkit dan membangun nama besar di industri sound system karnaval.
Dipecat Tanpa Syarat: Awal Lika-Liku dari Tulungagung
Sebelum dikenal sebagai sosok di balik Brewog Audio Blitar, Mas Bre sempat bekerja sebagai karyawan toko komputer di daerah Jepun, Tulungagung, sekitar tahun 2010.
Ia menjual komputer bekas, merakit CPU, dan belajar teknis perangkat digital secara otodidak. Namun, kariernya tak berjalan mulus.
“Saya kerja delapan bulan, habis itu dipecat tanpa syarat,” ungkap Mas Bre dengan tawa getir. Ia mengaku ada sedikit miskomunikasi dengan atasannya, yang akhirnya membuatnya harus angkat kaki dari tempat kerja. Kejadian itu menjadi pukulan telak, apalagi saat itu ia baru saja menikah dan punya anak.
Tidak menyerah, Mas Bre sempat mencoba jualan komputer sendiri dari rumah, menjadi freelancer segala bidang, namun belum menemukan pijakan yang kuat untuk masa depannya.
Diamankan Aparat: Dua Tahun dalam "Pengasingan"
Pada tahun 2008, satu peristiwa besar mengubah hidup Mas Bre secara drastis. Ia mengaku sempat diamankan aparat keamanan, meski ia tidak secara gamblang menjelaskan kasusnya.
Yang jelas, ia harus melewati masa "pengasingan" selama hampir dua tahun, yang ia sebut seperti “versi Soekarno”.
“Ya, saya sempat ‘diasingkan’. Mungkin waktu itu belum dewasa, banyak salah langkah,” kata Mas Bre. Peristiwa ini terjadi tepat setelah ia menikah dan memiliki anak pertama, yang membuat tekanan mental dan batin kian besar.
Ia mengaku banyak merenung, merasa kehilangan arah, dan mempertanyakan makna hidupnya.
Namun, dari titik rendah itulah muncul benih-benih kebangkitan.
Hikmah di Balik Masa Sulit
Alih-alih hancur, Mas Bre justru menjadikan pengalaman itu sebagai cermin untuk memperbaiki diri. Ia mulai berpikir tentang masa depan, tentang keluarga, dan tentang bagaimana ia bisa kembali berdiri di atas kaki sendiri.
“Kalau tidak melewati itu semua, mungkin saya enggak akan seperti sekarang. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, tinggal bagaimana kita melihat dan mengambilnya,” ujar pria brewokan yang kini jadi simbol sound horeg Blitar itu.
Selama “pengasingan”, ia banyak mengamati perubahan zaman, munculnya internet, musik elektronik, dan tentu saja—fenomena karnaval desa yang mulai ramai di wilayah Blitar, Malang, dan sekitarnya.
Karnaval dan Sound Horeg: Babak Baru yang Mengubah Segalanya
Titik terang muncul saat Mas Bre mulai melihat potensi besar dalam dunia karnaval. Ia rajin menyaksikan parade di Malang, mencatat detail teknis dari sound system, memperhatikan bagaimana antusiasme massa bisa dipantik dari kualitas suara.
Dari situ, muncul ide untuk membuat sound system sendiri, bukan sekadar untuk cari uang, tapi sebagai medium berekspresi dan berinovasi.
Tanpa latar belakang akademik teknik audio, ia belajar otodidak. Berbekal pengalaman jualan komputer dan lulusan SMK jurusan elektronik, ia mulai membeli alat satu per satu: speaker, amplifier, kabel, hingga truk untuk mengangkut peralatan.
Semua dirakit sendiri di rumah. Tak jarang, percobaan awalnya gagal, speakernya gosong, genteng rumah tetangga rontok, hingga dirinya kena tegur warga.
Namun Mas Bre tak menyerah. Ia terus mencoba, belajar dari kesalahan, dan perlahan membangun reputasi.
Lahirnya Brewog Audio: Simbol Kebangkitan dari Blitar
Tahun 2018, Mas Bre resmi meluncurkan Brewog Audio. Nama “Brewog” sendiri berasal dari penampilannya yang berjenggot, sekaligus menjadi branding personal yang kuat. Awalnya ia hanya tampil di desa sendiri dengan delapan subwoofer, tanpa bayaran.
Namun, setelah promosi di Ringinanom dan beberapa daerah lain, tawaran mulai berdatangan.
Tahun 2019 menjadi masa keemasan. Jadwal padat, panggilan datang dari berbagai kota, dan sound miliknya menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu di karnaval desa.
Kini, Brewog Audio membawa puluhan speaker, beberapa armada truk, dan memiliki kru tetap. Bahkan, ia menjadi ikon “artis sound horeg” karena selalu tampil di belakang truk sambil merokok dan memegang HP—gaya khas yang makin melekat di publik.
Penutup: Dari Keterpurukan Menuju Panggung Karnaval
Perjalanan hidup Mas Bre membuktikan bahwa kesuksesan bukan soal keberuntungan, tapi soal kegigihan menghadapi cobaan.
Dari dipecat hingga diamankan, dari komputer bekas ke speaker kelas atas, dari pengasingan ke panggung arak-arakan—semuanya adalah cerita nyata perjuangan seorang anak Blitar yang tak menyerah.