Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ikan Dewa alias Sengkaring: Spesies Langka yang Dilindungi Mistis dan Ekologi di Rambut Monte

Axsha Zazhika • Minggu, 13 Juli 2025 | 03:00 WIB
Ikan Dewa alias Sengkaring: Spesies Langka yang Dilindungi Mistis dan Ekologi di Rambut Monte
Ikan Dewa alias Sengkaring: Spesies Langka yang Dilindungi Mistis dan Ekologi di Rambut Monte

BLITAR – Di balik kejernihan air Telaga Rambut Monte, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, hidup sekelompok ikan yang begitu istimewa dan penuh teka-teki. Masyarakat menyebutnya ikan dewa, namun dalam literatur biologi, spesies ini dikenal sebagai ikan sengkaring. Penampakannya sekilas mirip ikan mas, namun habitat, karakteristik, dan kepercayaan yang menyelimutinya membuat ikan ini tak sekadar fauna biasa.

Keberadaan ikan dewa di Telaga Rambut Monte tak hanya menjadi bagian dari cerita mistis lokal, tetapi juga membuka wacana konservasi dan pelestarian spesies air tawar yang kian langka.

Menurut penuturan Nisma, penyuluh perikanan Blitar, ikan sengkaring adalah jenis ikan asli Nusantara yang banyak ditemukan di Pulau Kalimantan, Sumatra, hingga Jawa. Di Jawa Timur, ikan ini tercatat hanya ada di dua daerah: Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Blitar, tepatnya di kawasan Telaga Rambut Monte.

Baca Juga: Dari Freemason ke Kopi Arabika Blitar: Transformasi Mistis Jadi Destinasi Edukasi dan Wisata

“Ikan sengkaring sebenarnya jenis ikan konsumsi. Tapi karena populasinya sangat terbatas, maka keberadaannya sekarang termasuk langka dan tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan,” jelas Nisma kepada BlitarKawentar.

Ikan sengkaring termasuk keluarga Cyprinidae, satu famili dengan ikan mas atau karper. Ciri khasnya adalah bentuk tubuh memanjang, warna sisik keemasan, serta memiliki cuping di bagian bawah mulut. Ikan ini sangat sensitif terhadap kualitas air, dan hanya bisa hidup di perairan bersih yang mengalir, seperti sumber alami atau telaga dengan aliran stabil.

Keberadaan ikan sengkaring di Telaga Rambut Monte bukan kebetulan. Ekosistem telaga yang bersumber dari mata air pegunungan, ditambah dengan vegetasi rimbun di sekitarnya, menciptakan lingkungan perairan jernih dan kaya oksigen, yang ideal untuk perkembangan ikan ini.

Baca Juga: Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar

“Kebiasaan hidup ikan sengkaring memang di habitat sumber air yang bersih dan tenang, biasanya di tengah hutan atau dekat pepohonan lebat,” tambah Nisma.

Keunikan habitat ini sekaligus menjadikan Telaga Rambut Monte sebagai lokasi konservasi alami untuk ikan sengkaring, yang kini sulit ditemukan di tempat lain. Dengan perawatan alami dari masyarakat sekitar, populasi ikan dewa tetap terjaga tanpa harus melalui penangkaran buatan.

Menariknya, pelestarian ikan sengkaring ini tidak semata dilakukan melalui kebijakan pemerintah atau edukasi lingkungan, melainkan tumbuh dari kepercayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat percaya bahwa ikan-ikan di Telaga Rambut Monte adalah ikan dewa yang tidak boleh diambil atau dikonsumsi, karena akan membawa kesialan atau musibah.

Baca Juga: Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar

Banyak cerita beredar bahwa mereka yang mencoba menangkap, melempari, bahkan memasak ikan dari telaga ini mengalami kejadian aneh, mulai dari sakit berkepanjangan, mimpi buruk, hingga daging ikan yang berubah menjadi minyak saat dimasak.

“Pernah ada yang nekat masak ikan yang hanyut, tapi katanya enggak jadi apa-apa. Dagingnya malah berubah jadi minyak, tinggal tulangnya saja,” kisah seorang warga.

Kepercayaan ini justru menjadi benteng alami konservasi, karena secara tidak langsung membuat warga maupun pengunjung enggan menyentuh bahkan mengganggu ikan-ikan tersebut. Efeknya, habitat tetap lestari dan ikan terus berkembang biak secara alami.

Baca Juga: Bau Badan Bukan Kutukan Genetik, Tapi Gaya Hidup Kemproh

Fenomena ikan dewa di Rambut Monte menjadi contoh nyata sinergi antara kearifan lokal dan ilmu ekologi. Di saat populasi ikan air tawar lainnya terancam oleh perusakan habitat, polusi, dan overfishing, ikan sengkaring tetap lestari karena dihormati secara spiritual oleh masyarakat.

Kondisi ini menjadi perhatian para pemerhati lingkungan dan konservasionis. Perlindungan berbasis budaya seperti ini dinilai efektif di daerah yang memiliki kepercayaan kuat terhadap alam dan leluhur.

“Pelestarian berbasis budaya lokal ini seharusnya diapresiasi. Ini bisa menjadi model konservasi berkelanjutan yang ramah masyarakat,” ungkap salah satu dosen biologi lingkungan dari Malang yang meneliti kawasan ini.

Baca Juga: Santan Bikin Liver K.O.? Ini Penjelasan Ilmiahnya dari dr Tirta Blitar

Dengan latar belakang biologi, budaya, dan spiritualitas yang unik, Telaga Rambut Monte sangat potensial menjadi lokasi edukasi konservasi untuk pelajar dan mahasiswa. Pelajaran mengenai keanekaragaman hayati, pentingnya menjaga kualitas air, serta hubungan manusia dan alam dapat dipelajari langsung di lapangan.

Beberapa sekolah dan komunitas pencinta alam di Blitar sudah mulai melakukan kunjungan edukatif ke Rambut Monte, mengajak siswa mengenal lebih dekat ekosistem air tawar dan spesies endemik seperti ikan sengkaring.

Meski saat ini masih terlindungi oleh kepercayaan masyarakat, ancaman tetap ada. Meningkatnya kunjungan wisatawan membawa potensi pencemaran, mulai dari sampah plastik, limbah makanan, hingga aktivitas yang tidak ramah lingkungan.

Baca Juga: Progres Koperasi Merah Putih di Kota Blitar Terkendala NPWP Pengurus

Pengelola dan masyarakat berharap adanya regulasi dan pengawasan yang lebih ketat, serta peningkatan edukasi wisatawan untuk menjaga kesakralan dan kelestarian kawasan ini.

“Wisata itu boleh, tapi harus tahu batas. Jangan sampai ikan dewa ini hilang gara-gara kita enggak paham nilai pentingnya,” ujar seorang warga pengelola.

Rambut Monte bukan hanya sekadar destinasi alam yang indah. Ia adalah warisan hidup, tempat di mana kepercayaan, alam, dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan. Ikan dewa alias sengkaring bukan hanya simbol mistis, tapi juga pengingat pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem air tawar yang semakin langka di era modern ini.

Bagi siapa pun yang datang ke Rambut Monte, pelajarannya jelas: hormatilah alam sebagaimana masyarakat lokal menghormatinya—dengan takzim, syukur, dan kesadaran bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dijaga bersama.

Editor : Anggi Septian A.P.
#blitar #ikan #legenda #dewa #telaga #rambut monte #Spesies Langka