BLITAR – Banyak orang mengenal Gus Iqdam sebagai sosok muda NU yang akrab disapa “Gus”. Namun, pernahkah terlintas pertanyaan: kenapa ia dipanggil Gus?
Melalui wawancara di channel YouTube NU Kota Blitar, Gus Iqdam akhirnya membeberkan rahasia di balik panggilan itu — mengurai silsilah keluarganya yang ternyata terhubung dengan ulama besar Blitar, Kiai Zubaidi Abdul Ghofur.
Dalam video itu, Gus Iqdam dengan nada rendah hati menjelaskan bahwa ia tak pernah merasa pantas mendapat panggilan kehormatan tersebut.
Baca Juga: Mengenal Konsep Ketuhanan Kepercayaan Kapitayan, Sang Hyang Taya
“Saya ini orang biasa saja. Tapi karena saya cucunya Kiai Zubaidi Abdul Ghofur, saya dipanggil ‘Gus’. Itu bukan karena kehebatan saya, tapi karena darah yang mengalir di tubuh saya,” ucapnya.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian warganet dan jamaah NU. Sebab, di balik kata “Gus” yang sering terdengar sederhana, ada sejarah panjang pesantren, garis keturunan, dan nilai religius yang membentuk identitas Gus Iqdam.
Lahir dan besar di Karanggayam, Blitar, Gus Iqdam memang bukan figur yang hidup di panggung kota besar. Namun, keluarganya memiliki akar yang dalam di dunia pesantren.
Ia adalah cucu dari Al-Magfurlah Kiai Zubaidi Abdul Ghofur, seorang mursyid tarekat dan ulama kharismatik yang dikenal luas di Blitar Barat.
“Kalau orang tanya kenapa saya dipanggil Gus, jawabannya sederhana: karena saya cucunya Mbah Kiai Zubaidi. Panggilan itu otomatis melekat,” jelasnya.
Kiai Zubaidi sendiri bukan tokoh sembarangan. Ia adalah putra dari Kiai Ghofur, pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam Mantenan, salah satu pesantren tua di Blitar yang hingga kini masih menjadi rujukan bagi para santri.
Baca Juga: Mengenal Ritual Kapitayan, Tradisi Leluhur untuk Penghormatan Sang Hyang Taya
Warisan inilah yang menjadi dasar mengapa masyarakat memberikan panggilan “Gus” kepada keturunan beliau.
Namun, Gus Iqdam tak menutupi perasaannya ketika menerima panggilan itu. Ia mengaku sempat merasa malu dan terbebani.
“Awalnya saya berpikir, mosok dipanggil Gus tapi nggak bisa ngaji? Mosok dipanggil Gus tapi kelakuannya biasa saja? Kan nggak pantas,” katanya dengan jujur.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kepercayaan Kapitayan di Berbagai Wilayah Nusantara
Perasaan itu memicunya untuk mulai memantaskan diri. Perlahan, Gus Iqdam mendalami kajian agama, belajar dari para guru, dan aktif dalam kegiatan ke-NU-an. “Saya nggak mau jadi Gus hanya di nama, tapi kosong di isi,” ujarnya tegas.
Langkah ini mendapat apresiasi banyak orang. Mereka menilai, Gus Iqdam berhasil mengubah panggilan itu menjadi motivasi, bukan sekadar titel yang diwariskan.
Lebih jauh, video NU Kota Blitar itu juga mengupas bagaimana panggilan “Gus” dalam tradisi pesantren tak bisa diberikan sembarangan.
Baca Juga: Bagaimana Konsep Kapitayan dengan Anismisme, dan Dinamisme di Nusantara?
Biasanya, panggilan ini hanya digunakan untuk anak atau cucu kiai, terutama yang memiliki peran dalam menjaga warisan pesantren.
“Panggilan Gus itu bukan sekadar sebutan keren. Itu simbol harapan. Harapan agar yang dipanggil bisa meneruskan perjuangan leluhur,” kata Gus Iqdam.
Ia bahkan sempat berkelakar, “Kadung diceluk Gus, yo kudu iso memantaskan diri. Nek ora yo isin! Mosok Gus nongkrong rokokan ning prapatan wae,” ucapnya, membuat suasana obrolan jadi santai tapi penuh makna.
Baca Juga: Warisan Kepercayaan Kapitayan Tradisi kenduri yang Masih Lestari di Kalangan Masyarakat Jawa
Cerita tentang Gus Iqdam dan garis keturunannya ini memancing komentar positif dari penonton YouTube.
Banyak yang menulis, “Pantes dipanggil Gus, karena memang cucu kiai besar,” dan ada pula yang menambahkan, “Semoga terus memantaskan diri, jadi Gus yang benar-benar bermanfaat.”
Tak hanya menyingkap rahasia keturunannya, Gus Iqdam juga mengingatkan generasi muda agar tidak silau dengan panggilan kehormatan. “Kalau dipanggil Gus, jangan malah berbangga diri. Itu justru tanggung jawab besar,” pesannya.
Baca Juga: Dari SD Hingga Kuliah Bisa Dapat Bantuan! Ini Jalur Lanjutan PIP ke KIP Kuliah
Kisah ini menjadi pengingat bahwa panggilan “Gus” bukan sekadar label sosial, tetapi amanah. Di balik kata sederhana itu, ada doa dan harapan agar generasi penerus ulama tetap menjaga ilmu, akhlak, dan pengabdian pada umat. “Gus itu bukan hadiah. Itu tanggung jawab,” pungkas Gus Iqdam.
Editor : Anggi Septian A.P.