BLITAR – Kisah Dewi Kilisuci masih menjadi legenda yang menggetarkan hati masyarakat Jawa Timur. Cerita ini bukan sekadar romansa, tapi juga persaingan dua ksatria sakti yang mengguncang tiga wilayah. Kediri, Blitar, dan Tulungagung menjadi latar kisah penuh intrik ini.
Menurut kisah yang dikutip dari TVRI Nasional, Dewi Kilisuci adalah putri cantik dari Kerajaan Airlangga. Kecantikannya masyhur hingga ke berbagai penjuru negeri. Tak heran banyak bangsawan dan kesatria yang ingin mempersuntingnya.
Di antara para pelamar itu, dua nama paling mencuat: Jatasura dan Mahesa Sura. Keduanya dikenal sakti mandraguna, gagah berani, dan memiliki pengaruh besar di daerahnya masing-masing. Namun, hanya satu yang berhak memenangkan hati Dewi Kilisuci.
Baca Juga: Terlibat Kasus Dugaan Korupsi DD, Kades di Blitar Ini Harus Diberhentikan Sementara oleh Pemkab
Pertemuan ketiganya memicu babak baru dalam legenda ini. Dewi Kilisuci menjadi pusat perhatian sekaligus sumber perselisihan. Jatasura berusaha mendekati sang dewi dengan sikap ksatria, sementara Mahesa Sura mengandalkan kekuatan dan statusnya sebagai raja.
Ketegangan mulai memuncak ketika kabar lamaran Mahesa Sura sampai ke telinga Jatasura. Ia merasa terpanggil untuk menantang rivalnya. Duel pun menjadi satu-satunya jalan untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pendamping sang dewi.
Bentrok keduanya digambarkan berlangsung sengit. Jatasura mengandalkan kelincahan dan kecerdikan dalam bertarung. Mahesa Sura, di sisi lain, menonjol dengan kekuatan fisik yang nyaris tak tertandingi.
Namun, di luar medan laga, Dewi Kilisuci justru melihat sesuatu yang berbeda. Ia kagum pada Jatasura yang berjuang sendiri tanpa mengandalkan kekuasaan. Hatinya condong pada kesatria yang tulus, bukan pada yang sombong.
Keputusan itu membuat Mahesa Sura murka. Harga diri seorang raja dianggap diinjak-injak. Amarahnya berubah menjadi ancaman yang membayangi Jatasura dan bahkan wilayah Kediri, Blitar, serta Tulungagung.
Untuk menguji kesetiaan Jatasura, Dewi Kilisuci mengajukan syarat unik. Ia meminta dibuatkan sumur di puncak Gunung Kelud. Tanpa curiga, Jatasura menyanggupi permintaan itu.
Baca Juga: Sunset Memukau di Pantai Serang Blitar Jadi Daya Tarik Wisatawan Sekaligus Tempat Nongkrong
Namun, syarat itu ternyata hanyalah siasat. Saat sumur hampir selesai, Dewi Kilisuci menjatuhkan batu besar yang menimbun Jatasura di dalamnya. Tertipu dan terjebak, sang ksatria mengeluarkan sumpah kutukan.
Jatasura bersumpah akan membalas dendam kepada Kediri dan sekitarnya. Masyarakat meyakini, sumpah itu menjadi asal-usul letusan Gunung Kelud. Setiap letusan dipercaya sebagai luapan amarah Jatasura.
Legenda ini membuat hubungan tiga kabupaten—Kediri, Blitar, dan Tulungagung—terikat dalam satu kisah. Bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara budaya dan kepercayaan.
Bagi masyarakat, Dewi Kilisuci adalah simbol kecantikan dan kecerdikan. Namun, kisahnya juga menyimpan pesan bahwa cinta yang disertai tipu daya akan berakhir pahit. Hikmah ini masih sering disampaikan para tetua desa kepada generasi muda.
Gunung Kelud kini menjadi destinasi wisata populer. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan kawahnya, tetapi juga untuk mendengar kembali kisah Dewi Kilisuci dari pemandu lokal. Cerita itu menjadi bagian tak terpisahkan dari daya tarik gunung ini.
Meski sejarah tak bisa memastikan kebenaran legenda tersebut, masyarakat tetap memeliharanya. Dari obrolan di warung kopi hingga pementasan seni tradisional, nama Dewi Kilisuci terus bergema.
Legenda ini membuktikan, cerita rakyat mampu menyatukan identitas dan ingatan kolektif. Dari Kediri, Blitar, hingga Tulungagung, kisah cinta, duel ksatria, dan dendam Gunung Kelud akan terus hidup dalam budaya Jawa Timur.
Editor : Anggi Septian A.P.