BLITAR – Serangan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang terdeteksi di wilayah Kecamatan Udanawu dan Kecamatan Kademangan menjadi perhatian serius Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar.
Sebagai antisipasi penyebaran serangan PMK, isolasi lokasi temuan awal di wilayah Kabupaten Blitar menjadi langkah utama. Sebab, PMK selama ini menjadi salah satu momok bagi para peternak.
Untuk tahap awal, ring 1 dengan radius 1 kilometer dari lokasi temuan serangan PMK menjadi perhatian serius petugas di lapangan. Langkah isolasi dijalankan untuk mengantisipasi virus menyebar.
Selain itu, ada langkah disinfektanisasi melalui penyemprotan hewan ternak dan kandang. “Di wilayah yang terdeteksi terjadi serangan PMK, untuk jadwal vaksinasi ditunda dulu,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Kabupaten Blitar, drh Nanang Miftahudin.
Petugas disnakkan berkoordinasi dengan pemerintah desa (pemdes) setempat untuk investigasi lapangan dan melaporkan jika ada temuan baru di lapangan. Untuk isolasi wilayah, terutama di area kandang hewan ternak yang terserang PMK, aktivitas keluar masuk kandang harus dibatasi.
Tidak sembarang orang boleh keluar masuk kandang karena bisa berpotensi mempercepat penyebaran virus PMK. “Membatasi orang keluar masuk kandang adalah cara yang paling sederhana,” jelas Nanang.
Seperti diketahui, berdasarkan data Disnakkan Kabupaten Blitar, serangan PMK telah terjadi di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, dan Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan. Di Desa Karanggondang, terdapat 5 ekor dari tiga peternak yang dilaporkan pada Jumat (8/8/2025) lalu, sedangkan di Desa Plosorejo terdapat 10 ekor dari enam peternak yang dilaporkan pada Senin (11/8/2025).
Total ada 15 ekor dan diperkirakan sapi-sapi itu tertular dari wilayah luar Kabupaten Blitar. Sapi-sapi yang terserang PMK adalah sapi-sapi yang baru dibeli dan yang belum jelas pernah divaksin atau belum.
Beberapa tanda yang tampak dari sapi yang terserang PMK antara lain, sapi mengeluarkan air liur yang banyak, terdapat lesi pada area gusi, hingga suhu tubuh tinggi di atas 39 derajat Celsius. (ynu/c1) (*)
Baca Juga: Drone dan PTSL: Cara Baru BPN Ukur Tanah Satu Desa Sekaligus
Editor : M. Subchan Abdullah